Showing posts with label sedih. Show all posts
Showing posts with label sedih. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Zuhairi Misrawi Di-Skak Ustadz Firanda Andirja dengan Satu Kalimat



Niat hati ingin melecehkan da’i muda Indonesia, Ustadz Felix Siauw, salah seorang dedengkot Islam Liberal Indonesia, Zuhairi Misrawi, malah di-skak oleh Ustadz Firanda Andirja dengan satu kalimat bantahannya.
Pada 15 Desember lalu, Zuhairi Misrawi di Twitter mengejek Ustadz Felix Siauw yang merupakan seorang mualaf dengan mengatakan, “Dimana-mana muallaf itu belajar Islam, tapi di negeri ini muallaf justru mengajar Islam. Aneh.”
Kawannya, Ulil Abshar Abdalla juga menyebut, “Baru mualaf udah ngerasa paling bener dari ulama-ulama besar Muslim Indonesia.” Foto tersebut diretweet Ulil dari akun @abangifoel.
Selain tulisan pada foto, disertakan pula kicauan berbunyi, “Modal baru dua ayat, sudah berani dipanggil ustadz”
Ustadz Firanda Andirja, salah seorang da’i dari komunitas Salafi membantah pernyataan Zuhairi dengan membela Ustadz Felix Siauw yang notabenenya adalah da’i dari Hizbut Tahrir Indonesia. Ia mengatakan, “Tidak mengherankan, jika muallaf lebih mengerti dan lebih semangat membela tauhid daripada yang nyantri/belajar Islam di negeri kafir.”

 Sumber : here

==================================================================

Kalo kayak gini, gw lebih seneng sama orang yang kristen daripada orang yang ngaku2 islam tapi kelakuan nggak kek islam.

Idiot asli..
JIL JIL, otak tuh dimana sih? heran gw....

Nggak heran sih, namanya juga liberal ya nggak?
LIBERAL GITU LHO...

Friday, December 19, 2014

Kisah Seoasang Suami Istri Tua

ambilLah pelajaran



Foto dibawah adalah foto sepasang suami istri yang dengan
sengaja saya ambil ketika saya sedang menaiki kereta arah depok > Jakarta kota beberapa minggu lalu.
Sepasang suami istri ini entah siapa namanya,beliau terlihat begitu berantakan dan sedikit kumal.mohon maaf ,bahkan terhirup bau tak sedap dari mereka,baunya bahkan membuat seorang Ibu yang awalnya duduk didekatnya terpaksa harus keluar dari kereta dan muntah sejadi2nya,mungkin karena tidak tahan dengan baunya.
Awalnya saya berfikir bahwa Ibu dan Bapak ini adalah seorang pengemis.Hingga Allah kembali menghentakkan hati saya dengan pembelajaran yang luar biasa pada hari itu.
Kali ini saya tidak akan bercerita mengenai bagaimana kisah cinta pasangan ini, ikatan cinta keduanya,bagaimana mereka bersama mengarungi masa2 tua,dengan kisah2 romantis mereka,menikmati hidup bersama.Bukan kawan,bukan itu yang akan saya ceritakan,hal ini lebih dari itu,jauh lebih indah dari itu.
Sambil menikmati perjalanan ditemani sebungkus kentang goreng menunggu kereta tiba di Jakarta kota.Mataku tak hentinya memandangi sepasang suami istri tersebut.Sebenarnya saya merasa terganggu karena bau yang dibawa kedua orang tua itu sungguh sangat menyengat ,tak dapat saya gambarkan baunya seperti apa,saya hanya dapat memastikan bahwa saat itu kepala saya sangat pusing akibat baunya.
Hingga datang seorang pemuda dengan gaya sangat stylish sambil menggunakan headset duduk tepat disamping bapak yang memakai baju putih.Sesaat ketika melihat pemuda itu perawakannya sangat mirip dengan teman saya di kampus Unhas,entah apa motivasi pemuda itu duduk tepat disamping bapak tersebut sedangkan setiap orang yang berada dalam gerbong kereta menjauhi sepasang suami istri itu karena baunya.
Hingga Mulai terdengar pemuda itu menanyakan beberapa hal kepada bapak tersebut. nama nya siapa pak?,tinggal dmana?,mau kemana?,punya anak berapa?.Saat itu sungguh saya dibuat terkagum dengan perawakan pemuda itu,walaupun terlihat selengean (cuek) namun sungguh ia satu dari beberapa orang hebat yang pernah kemui selama ini.banyak hal yang membuat saya yakin bahwa pemuda itu adalah orang yang nebat,namun tulisan saya Kali ini tidak akan membahas seberapa hebat pemuda itu,kali ini tulisan saya akan fokus menceritakan kisah sepasang suami istri tersebut.
Kereta sebentar lagi tiba distasiun gondangdia,kudengar dari percakapan pemuda dan bapak itu, stasiun gondangdia adalah stasiun tujuan pasangan suami istri itu.
Kulihat pemuda itu memasukkan tangannya kedalam tasnya dan mengambil beberapa uang berwarna merah(100.000 rupiah) dalam jumlah yang sangat banyak,sangat banyak saya tak tahu pastinya.
Dengan nada yang sangat sopan pemuda itu berkata : "pak,saya punya sedikit rejeki buat bapak dan Ibu mungkin bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bapak dan Ibu beberapa hari kedepan"
Tahukah kawan,apa jawaban bapak itu? Beliau menjawab seperti ini.
"Sungguh agamaku melarangku menjadi seorang pengemis yang menengadahkan tangan menunggu bantuan uang dari situan kaya raya,kuyakin tuhanku maha kaya,sangat kaya.Saya tahu niat ananda adalah untuk membantu kami,dan sungguh saya yakin bahwa Allahlah yang telah mengirimmu kepada kami,namun mohon maaf nak saya tak bisa menerima itu,saya tak ingin sebuah kisah dari perjalanan perjuangan hidup kami mencari rezeki, terdapat sebuah kisah bahwa kami menerima uang dari orang lain dikarenakan kasihan dengan kondisi kami. Saya yakin nak ,sebentar lagi Allah akan memberikan rezeki bagi kami dengan cara yang lebih baik dari ini ,iya saya yakin sebentar lagi nak,sebentar lagi.
Kemudian bapak itupun melangkahkan kakinya turun ke stasiun gondangdia bersama istrinya.
Semoga Allah memaafkan prasangka saya yang menganggap bapak dan Ibu itu adalah seorang pengemis.sungguh mereka sebenar benarnya hamba Allah yang bertebaran dimuka bumi dan mencari rezeki Allah layaknya seorang pahlawan.
Pengalaman ini sontak menambah keyakinan saya bahwa rezeki Allah sungguh sangat dekat kawan,ya sebentar lagi,sebentar lagi.itu pesan si bapak tua.
Terima kasih banyak..
oleh
Wahyu Hidayat Ar Rasyid

Sumber : here

Saturday, November 22, 2014

Ibu Tua Penjual Kue dan BBM



HARI ini sesosok wanita tua mengetuk pintu kaca toko. “Bu… Beli kue saya… Belum laku satupun… Kalau saya sudah ada yang laku saya enggak berani ketuk kaca toko ibu…”

Saya persilakan beliau masuk dan duduk. Segelas air dan beberapa butir kurma saya sajikan untuk beliau.

“Ibu bawa kue apa?”

“Gemblong, getuk, bintul, gembleng, Bu.”

Saya tersenyum… “Saya nanti beli kue ibu… Tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu, muka ibu sudah pucat.”

Dia mengangguk. “Kepala saya sakit, Bu.. Pusing, tapi harus cari uang. Anak saya sakit, suami saya sakit, di rumah hari ini beras udah gak ada sama sekali. Makanya saya paksain jualan,” katanya sambil memegang keningnya. Air matanya mulai jatuh.

Saya cuma bisa memberinya sehelai tisu…

“Sekarang makan makin susah, Bu…. Kemarin aja beras gak kebeli… Apalagi sekarang… Katanya bensin naik.. Apa-apa serba naik.. Saya udah 3 bulan cuma bisa bikin bubur… Kalau masak nasi gak cukup. Hari ini jualan gak laku, nawarin orang katanya gak jajan dulu. Apa apa pada mahal katanya uang belanjanya pada enggak cukup…”

“Anak ibu sakit apa?” Saya bertanya.

“Gak tau, Bu… Batuknya berdarah…”

Saya terpana. “Ibu, Ibu harus bawa anak Ibu ke puskesmas. Kan ada BPJS…”

Dia cuma tertunduk. “Saya bawa anak saya pakai apa, Bu? Gendong gak kuat.. .Jalannya jauh… Naik ojek gak punya uang…”

“Ini Ibu kue bikin sendiri?”

“Enggak, Bu… Ini saya ngambil.” jawabnya.

“Terus ibu penghasilannya dari sini aja?”

Dia mengangguk lemah…

“Berapa Ibu dapet setiap hari?”

“Gak pasti, Bu… Ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet Rp4 ribu -12 ribu paling banyak.”

Kali ini air mata saya yang mulai mengalir. “Ibu pulang jam berapa jualan?”

“Jam 2.. .Saya gak bisa lama lama, Bu.. Soalnya uangnya buat beli beras… Suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta-minta, saya gak mau nyusahin orang.”

“Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan, ini beli beras buat 1 bulan, ini buat 10x bulak-balik naik ojek bawa anak Ibu berobat, ini buat modal ibu jualan sendiri. Ibu sekarang pulang saja… Bawa kurma ini buat pengganjal lapar…”

Ibu itu menangis… Dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud tak sepatah katapun keluar lalu dia kembalikan uang saya. “Kalau ibu mau beli.. Beli lah kue saya. Tapi selebihnya enggak bu… Saya malu….”

Saya pegang erat tangannya… “Ibu… Ini bukan buat ibu… Tapi buat ibu saya… Saya melakukan bakti ini untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia-sia membesarkan dan mendidik saya… Tolong diterima…” Saya bawa keranjang jualannya. Saat itu aku memegang lengannya dan saya menyadari dia demam tinggi. “Ibu pulang ya…”

Dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya. “Bu.. Saya gak mau ke sini lagi… Saya malu…. Ibu gak doyan kue jualan saya… Ibu cuma kasihan sama saya… Saya malu…”s

Saya cuma bisa tersenyum. “Ibu, saya doyan kue jualan Ibu, tapi saya kenyang… Sementara di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. Sekarang Ibu pulang yaa…”

Saya bimbing beliau menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot… Beliau terus berurai air mata…

Lalu saya masuk lagi ke toko, membuka buka FB saya dan membaca status orang orang berduit yang menjijikan.

Thursday, November 20, 2014

Kenaikan BBM buat siapa?







tenang saja, mereka bukanlah pengkonsumsi BBM bersubsidi.
mereka juga bukan pengguna sosmed, yg dpt mngungkapkan isi Hatinya.
Tenang,, mereka tidak akan kena dampak akan kneaikan BBM yg cuma 2 Ribu Rupiah. 
Tenang saja semuanya akan baik-baik saja.. 
jangan LEBAY gitu dong ahhh.. 
semua Sudah ada riskinya

======================================================================= 


Sebenarnya bukan masalah naik 2000 atau tidak.
Ada yang senang membanding bandingkan konsumsi bensin dan rokok, senang beli rokok, dan 2000 perak buat bensin dianggap pelit.
Masalah bukan disana!
Masalahnya adalah, saat harga bensin dinaikkan, otomatis harga bahan2 pokok lain naik seiring waktu (bahkan ada yang dinaikkan pas isu bahan bakar mau dinaikkan, cuma isu padahal ) .
Entah apa mereka yang berpendapat dan senang membanding-bandingkan itu sudah terbutakan, baik buta mata maupun hati nya, hingga informasi "sekecil"  ini saja luput darinya.
Manusia manusia.
Ataukah mungkin karena bapak presiden mereka, sebagai nabi mereka, berkata : "Untuk Industri, dll", hingga mereka mengangguk bagaikan ayam yang diberi jagung. Membungkuk.

Sadar kek...



Nih gw kasih 2000 perak yang kurang



Sumber : Indra Septiawan

=============================================================

#‎janganremehkaan‬ 2000

ada beberapa koment yang mungkin dipikirkan pakai dengkul

1. beli rokok aja mampu bbm naik 2000 aja g mampu..

mari kita pikirkan dengan otak dan bukan dengkul seperti orang2 yg beragumen di atas

sekarang anda perkirakan..dari jumlah penduduk indonesia..berapa persen yang merokok ???

rokok naik yang sengsara itu hanya perokok...

jika harga rokok naik ...barang2 tidak akan naik juga..bahan pangan..sandang dan transportasi..tdk naik juga..

efek domino tidak ada

pernah tidak kita mendengar kalau rokok naik semua barang naik???

bandingkan dengan kenaikan BBM...barang2 naik..bahan pangan...sandang dan transportasi juga akan naik

efek dominonya akan lebih terasa...dan itu berantai

dan kenaikkan akan di rasakan semua...bukan hanya yg perokok

bahkan wapres juga memberi peluang BBM akan NAIK LAGI tahun depan jika harga minyak dunia naik..

sekarang pikirkan sendiri...apa efeknya

http://www.merdeka.com/…/jusuf-kalla-buka-peluang-harga-bbm…

Logika Rakyat Kecil:
Harga BBM naik >> harga barang2 ikut naik >> hidup makin susah

2. siapapun presidennya pasti akan menaikkan bbm,kalao prabowo jadi 12 rb

ini fakta dari mana?? apalagi menyebutkan prabowo kalau jadi presiden bbm jadi 12 rb...emangnya lo dukun cabul?

kalaupun ada berita prabowo menaikkan BBM berarti itu menepati janji..

Jika Betul prabowo katakan subsidi BBM akan dicabut, tapi tidak dikatakan langsung dicabut kalau jadi presiden, harus di persiapkan betul langkah2 antisipasi, menciptakan ribuan lapangan kerja, memprioritaskan mengatasi kebocoran2 anggaran yg menurut abraham samad 7.200 Trilyun, merevisi kontrak2 migas dgn asing, dan UU pro asing , setelah daya beli masyarakat membaik barulah dinaikkan BBM. Tidak seperti sekarang.. belum apa2 sudah langsung naikkan BBM tanpa bekerja dan mikir keras terlebih dahulu.

bandingkan dengan jokowi dan PDIP....ketika kampaye teriak2 tidak akan mencabut subsidi..ketemu tkg ojek bilang tidak akan cabut subsidi

katanya akan memberantas mafia migas...mafianya aja belum ketangkap BBM udah di naikkan

PDIP 10 tahun menentang kenaikkan BBM...mengeluarkan buku putih yg berisi petunjuk APBN tanpa kenaikkan BBM

dan itu konsisten diteriakkan...

bandingkan dengan sekrang ketika mencabut subsidi...kira2 menepati janji atau ingkar janji??

naiknya emang CUMA 2 ribu... itu menurut kamu ya ialah berapa sih 2rb cm uang parkir doank...itu menurut kamu..tapi buat rakyat kecil itu beda..jadi jangan bicara seolah" itu sangat sepele

jangan bicara nilainya...tapi bicara efeknya...

jangan mikirkan diri sendri....pikirkan orang lain..

karena kamu g bisa sukses tanpa orang lain..

selama ini setiap ada kebijakan naik harga BBM apakah :

1. Infrastrukturnya tambah banyak?

2. Utang Luar negeri berkurang?

3. Rakyat tambah sejahtera ?

Monday, July 14, 2014

CERITA DIBALIK AKSI ‪#‎ODOJPeduliPalestina‬

Setiap kali mengikuti penggalangan dana utk dunia Islam sejak masih sekolah dulu, khususnya utk Palestina, maka tiap itu pula saya tahu begitu banyak peserta yg menginfakan hartanya tak sekadar uang, baik rupiah atau mata uang asing.
Sebagian di antara mereka menginfakkan Handphone, Jam Tangan, emas, bahkan tak jarang anting yg sedang mereka pakai..
Sungguh hanyalah tersebab iman dan ketulusan yg dapat menggerakkan hati sedemikian rupa..
Kiranya Allah menjadikan infaq rekan2 sekalian sbg amal jihad dan pemberat timbangan pahala di mahkamah akhirat kelak..
Menjadi saksi ketika pada saatnya setiap kita dihadapkan kpd Allah lalu ditanya: "Apa yg telah kau lakukan utk membantu saudara2mu yg dizalimi?"
Kemarin di Bundaran HI, dua orang anak kecil sekitar 10th datang membawa amplop tebal yg diikat karet gelang kuat2, dg wajah sangat polos ia menghampiri..
"Kak, kami mau infak utk Palestina"
"Masya Allah, dik. Ini uang darimana?"
"Ini kami habis keliling di jalan2 ngumpulin uang utk bantu Palestina.."
Allahu Akbar! Uang itu kami terima sbg amanah, seraya mendoakan smg anak kecil tsb menjadi ulama di kemudian hari.. amien..
--
Dan berikut cerita teman di sudut2 lain:
Ini ceritaku yg ditugaskan tim sunduk dari ODOJ pada Aksi Solidaritas untuk Palestina kemarin,
Awalnya agak sungkan, namun lama-lama asyik juga, apalagi klo yg dikasih lembaran merah..
Berada di antara ratusan mobil yg lalu lalang. Bahagia banget klo ada yg membunyikan klakson kemudian membuka sedikit jendelanya dan si Merah atau Biru masuk kekantong hijau ODOJ. Senang bukan main.
Tetapi ada satu hal yang membuat aku sampai mengeluarkan air mata di antara air hujan yg menemani aksi kemarin, yaitu sepasang suami istri dgn motor butut memberikan beberapa lembar seratusribuan.
Setelah memberikan, Suami tersenyum ke istrinya sambil berkata "Ikhlas ya Mi, sahur dgn mie rebus?" anggukkan anggun si istri membuat aku terpana. Ya Allah... Itu lembar terakhir mereka....
Semoga Allah ganti lembaran2 itu dgn syurga-Nya, wahai saudara muslimku...
Kemudian pemulung yg memberikan uang recehnya untuk saudara kita di Palestina, ia bilang " Neng, bapak bisa gak ya ke Palestina?" tanyanya. "Kalo mau perang kesana hrus punya hafal Quran 30 juz, ya Neng?" Tanyanya lagi. "Aduh bapak mah boro2 hafalan, sholat aja bolong2, tp bapak pengen neng ke sana, bpk ingin syahid, Neng"
Bapak itu pakaiannya lusuh, namun hatinya laksana mutiara...
Sepanjang menjalankan kotak sunduk, air mata mengalir....
Mereka mengajarkan kedahsyatan yg luar biasa.
Hari ini Aku bersyukur bisa terlibat menjadi bagian hal ini.
Ririn
Admin 46 , 245 , 738, 783, 2486
--
Tadi sore pas bagi2 takjil sekalian galang dana di Mataram Mall, ada seorang mbak2 yg terus mmperhatikan. Dari penampilannya,mbak itu sepertinya nonmuslim. Di keningnya tertempel beras,dan di rambutnya terikat beberapa bunga kamboja. Bliau terus mmperhatikan saya yg sibuk menyapa org yg lalulalang utk menyumbang sambil menawarkan takjil.
Setelah agak sepi, tiba2 mbak itu berlari kecil ke arah saya dan bertanya "mba,boleh yg nonmuslim ikt nyumbang?" setengah kaget, saya menjawab "boleh mba" sambil mengeluarkan senyum termanis saya. Dia lalu menyelipkan gumpalan seratusribuan yg dari tadi dipegangnya.
Sebelum pergi, mbak itu bilang "semoga uangnya cukup ya buat dikirim ke palestina". Masyaallah, bahkan nomuslim pun tergerak hatinya. Sungguh mengharukan, tapi malu mau nangis di tempat umum
Memang, Anda tak perlu menjadi Muslim utk peduli Palestina. Anda cukup menjadi manusia...

Sunday, July 6, 2014

Prabowo Presiden Kami ! - Mengharukan-




Bayangkan seorang Perwira brilian tersingkir dari kesatuannya untuk sebab yang sampai hari ini masih menjadi kontroversi..dihujat dicaci maki disana sini.. bahkan harus terpisah dari istri tercinta dan membawa label pengkhianat dipunggungnya.., Bayangkan seorang Jendral cemerlang menantu dari keluarga nomor satu di negeri ini terhempas dan terhenyak tak berdaya...tahukan anda jendral ini diberhentikan dengan hanya menerima uang pensiun Rp 1.500.000,- sebulan saat itu. .

Tapi, Sang Jendral ini tak bisa mengelak takdir, darah pejuang, kesatria dan patriot negeri begitu deras mengalir ditubuhnya yang diturunkan dari leluhurnya..16 tahun, masa yang cukup untuk jendral yang terhempas ini bangkit...apakah anda tidak berfikir ada campur tangan Tuhan disini. Dari pribadi yang remuk redam mampu bangkit menjadi pribadi dan politikus yang kuat. Manusia dengan kwalitas biasa mungkin akan menghabiskan sisa hidupnya menikmati kesenangan hidup dan kekayaan yang diraih oleh kedua tangannya sendiri, mengobati kekecewaan hidup yang menderanya. Tapi orang ini luar biasa, untuk apa beliau berjuang mengumpulkan kekayaan, padahal toh dia tak punya keluarga !.. karena dia punya cita-cita yang lebih besar..mengabdi pada negara.
Dia pernah berkata “Siapapun anak bangsa yang punya kemampuan, wajib menawarkan diri untuk mengabdi pada negara !”

Dengan uangnya sendiri, dia besarkan Gerindra semata-mata untuk menjadikannya kendaraan menuju tampuk kekuasaan. Posisi yang akan membuatnya punya power dan kewenangan luas untuk memperbaiki negeri ini “Kalau anda tahu persoalan negeri ini..sangat-sangat berat” ujarnya suatu ketika. Bagi mereka yang sentimen..perjuangan patriot ini dituding sebagai ambisi yang membabi buta.. seorang Anies Baswedan bahkan mengatakan tak akan memilih orang yang menghabiskan sekian banyak rupiah hanya untuk ambisinya menjadi presiden.. tak paham profesor ini agaknya !

Ketika mandat rakyat itu belum diterimanya..dia tetap berbuat untuk negaranya, berapa banyak anak miskin yang disantuni pendidikannya tanpa terbetik sedikitpun pada media..tak ada prilakunya yang mencerminkan rasa dendam pada orang-orang yang menyingkirkannya..kesantunannya tetap terjaga..hormatnya pada seniornya dan orang tua tetap terjaga..

Orang ini cuma sedang menjalani takdirnya.. lahir dari keturunan terhormat..menjadi warga kelas satu..kemudian terhempas dan terpuruk..kemudian bangkit berjuang merebut mandat rakyat...bekerja memperbaiki negeri...dan ‘pergi’ meninggalkan nama yang harum...SEMOGA !!

(Tulisan Sahabat Rudy al fajry)

Friday, June 27, 2014

Tentang Ayah

Mungkin ibu lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku. Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!” Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh! ”Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku? Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, ''dimana, dan sedang apa aku diluar sana.'' Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, ''anakku sekarang sukses.'' Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya. Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.

Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia. Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Alloh, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.

''Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah''

Anakku..

Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat dinamamu ...
Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu ...

Nak..

Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam do'anya selalu ada namamu disebutnya ...
Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman...

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu...
Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..

Bunda hanya ingin kau tahu nak..
bahwa...
Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..
Anakku...
Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu... Maka hormati dan sayangi ayahmu.

Sunday, September 8, 2013

Tangan Ibu

Ketika kita lapar, tangan ibu yang menyuapi. Ketika kita haus, tangan ibu yang memberi minuman. Ketika kita menangis, tangan ibu yang mengusap air mata. Ketika kita gembira, tangan ibu yang menadah syukur, memeluk kita erat dengan deraian air mata bahagia.


Ketika kita mandi, tangan ibu yang meratakan air ke seluruh badan, membersihkan segala kotoran. Ketika kita dilanda masalah, tangan ibu yang membelai duka sambil berkata, "Sabar nak, sabar ya sayang."
NAMUN,
Ketika ibu sudah tua dan kelaparan, tiada tangan dari anak yang menyuapi. Dengan tangan yang gemetar, ibu menyuapkan sendiri makanan ke mulutnya dengan linangan air mata. Ketika ibu sakit, dimana tangan anak yang ibu harapkan dapat merawat ibu yang sedang sakit?
Ketika nyawa ibu terpisah dari jasad. Ketika jenazah ibu hendak dimandikan, dimana tangan anak yang ibu harapkan untuk menyirami jenazah ibu untuk terakhir kali.
Tangan ibu, tangan ajaib. Sentuhan ibu, sentuhan kasih. Dapat membawa ke Surga Firdaus.





Wednesday, July 24, 2013

Seorang anak bertengkar dengan Ibunya

Seorang anak bertengkar dengan ibunya

Seorang anak bertengkar dengan ibunya & meninggalkan rumah. 
Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang. Ia melewati sebuah kedai bakmi. 
Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar. Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya, "Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?" "Ya, tetapi aku tidak membawa uang." Jawab anak itu dengan malu-malu. "Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu" jawab si pemilik kedai. Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak?" Tanya si pemilik kedai. "Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah.

Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku." Pemilik kedai itu berkata "Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu....

"Ibumu telah memasak bakmi, nasi, dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya."

Anak itu kaget mendengar hal tersebut.
"Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?' Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli." Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Nak, kau sudah pulang? cepat masuk, ibu telah menyiapkan makan malam." Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.

====================================

Kadang kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering melupakannya begitu saja. Selanjutnya, apa yang ingin kamu

katakan untuk Ibu hari ini ?

Monday, October 29, 2012

Mencintai Rasulullah saw

Entah kenapa aku mau menulis tentang hal ini. Sesuatu yang sangat kucintai sejak pertama kali aku mendengar kisah tentang beliau. Beliau adalah;

BAGINDA RASULULLAH SAW;


Apa kamu mencintai beliau? 
Apa kamu pernah bermimpi untuk bertemu dengan beliau?
Aku pernah dan aku sangat ingin bertemu dengan beliau.

Beliau lah Muhammad, seorang yatim sekaligus anak yang mengecap banyak kehilangan semenjak masa kanak-kanaknya. Cobaan telah membentuknya hingga dapat menjadikan jazirah arab kedalam genggamannya. 

satu cerita yang terus menjadi hal yang sangat membuat saya mencintai beliau adalah kisah di hari wafatnya.

Dikutip dari : here

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pingsan ketika sakit,” tutur Salim bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu memulai kisah kematian Rasulullah.
Setelah siuman, Rasulullah bertanya, “Apakah waktu shalat telah tiba?”
Para Sahabat menjawab, “Ya.”
“Perintahkan kepada Bilal agar dia mengumandangkan adzan, dan perintahkan kepada Abu Bakar agar ia mengimami shalat, agar ia menjadi imam shalat bagi kaum Muslimin!”
Kemudian Rasulullah kembali pingsan. Setelah siuman lagi, beliau bertanya, “Apakah waktu shalat telah tiba?”
Para Sahabat menjawab, “Ya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kembali, “Perintahkan kepada Bilal agar dia mengumandangkan adzan, dan perintahkan kepada Abu Bakar agar ia mengimami shalat!”
Mendengar perintah itu, Aisyah berkata, “Sesungguhnya ayahku adalah seorang ’Asiif (mudah menangis). Apabila ia melakukan apa yang engkau perintahkan itu, niscaya ia akan menangis dan tidak bisa melanjutkannya. Seandainya engkau perintahkan kepada yang lainnya (tentu hal itu lebih baik)?”
Kemudian beliau pingsan lagi. Setelah siuman, beliau bersabda, “Perintahkan kepada Bilal agar dia mengumandangkan adzan, dan perintahkan kepada Abu Bakar agar ia mengimami shalat. Sesungguhnya kalian (para wanita) seperti kaum wanita Nabi Yusuf!”
Maksud Rasulullah adalah bahwa Aisyah seperti kaum wanita Nabi Yusuf dalam hal tidak menampakkan secara lahiriyah apa yang sebenarnya ada pada hati mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Fa-thul Bari. ‘Aisyah mengatakan demikian supaya orang-orang tidak memberikan penilaian negatif terhadap ayahnya radhiyallahu ‘anhu. Makna ini tertera dalam Shahiihul Bukhari dan Muslim.
Lalu Bilal radhiyallahu ‘anhu diperintahkan untuk adzan dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu diperintahkan untuk mengimami shalat kaum Muslimin.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan kondisinya agak membaik, beliau bersabda, “Carilah orang yang akan memapahku!”
Maka datanglah Burairah radhiyallahu ‘anhu dan dan seorang laki-laki lainnya. Dalam riwayat lain, Rasulullah dipapah Abbas, putranya Fadhl, dan atau Ali bin Abi Thalib. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dipapah oleh keduanya menuju masjid. Ketika Abu Bakar melihatnya, ia pun mundur ke belakang agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dapat menempati posisinya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan kepadanya agar ia tetap di tempatnya hingga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyelesaikan shalatnya.
Pada suatu hari karena Abu Bakar tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umar lah yang dipanggil untuk memimpin orang-orang bersembahyang sebagai pengganti Abu Bakar. Oleh karena Umar orang yang punya suara
lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid, suaranya terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah.
“Mana Abu Bakar?” tanyanya. “Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian.”
Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakar sebagai penggantinya kemudian, karena memimpin orang-orang bersembahyang sudah merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.
Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang menjenguknya, bila meletakkan tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Ia sangat mencintai puterinya itu, cinta seorang ayah kepada anak yang hanya tinggal satu-satunya sebagai keturunan.
Apabila ia datang menemui Nabi, ia menyambutnya dan menciumnya, lalu didudukkannya di tempat ia duduk. Tetapi setelah sakitnya demikian payah, puterinya itu datang menemuinya dan mencium ayahnya.
“Selamat datang, puteriku,” katanya. Lalu didudukkannya ia disampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya ketika itu, Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain Fatimah pun jadi tertawa. Bila hal itu oleh Aisyah ditanyakan, ia menjawab:
“Sebenarnya saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.”
Tetapi setelah Rasul wafat, ia mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya sekali ini. Itu sebabnya Fatimah menangis. Kemudian dibisikkannya lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa.
Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka. Begitu tingginya suhu panas demam itu, kadang ia sampai tak sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali dengan keadaan yang sudah sangat payah sekali. Karena perasaan sedih yang menyayat hati, pada suatu hari Fatimah berkata mengenai penderitaan ayahnya itu, “Alangkah beratnya penderitaan ayah!”
“Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini,” jawabnya. Maksudnya ia akan meninggalkan dunia ini, dunia duka dan penderitaan.
Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak orang, ia berkata, “Bawakan dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah sesat.”
Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sudah sangat gawat; pada kita sudah ada Qur’an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.
Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata: “Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di hadapan Nabi.” Tetapi Ibn ‘Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman, “Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu.” (Qur’an, 6:38)
Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usamah dan anak buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila Usamah kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya Usamah, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya kepada Usamah sebagai tanda mendoakan.
Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat hendak membantunya dengan pengobatan. Asma’- salah seorang kerabat Maimunah-telah menyediakan semacam minuman, yang pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya, “Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?”
“Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput dada,” kata ‘Abbas pamannya.
“Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu kepadaku.”
Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah supaya meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.
Muhammad memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai terasa berat. Kuatir bila ia meninggal harta masih di tangan, maka dimintanya supaya uangnya itu disedekahkan. Tetapi karena kesibukan mereka merawat dan mengurus selama sakitnya dan penyakit yang masih terus memberat, mereka lupa melaksanakan perintahnya itu. Setelah hari Minggunya sebelum hari wafatnya ia sadar kembali dari pingsannya, ia bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?”
Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya. Kemudian dimintanya supaya dibawakan. Ketika uang itu sudah diletakkan di tangan Nabi, ia berkata, “Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya.”
Kemudian semua uang dinar itu disedekahkan kepada fakir-miskin di kalangan Muslimin.
Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadhl bin Abbas. Abu Bakar waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan salatnya. Bukan main Muhammad merasa gembira melihat semua itu.
Abu Bakar merasa apa yang telah dilakukan mereka itu, dan yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat sembahyangnya untuk memberikan tempat kepada Muhammad. Tetapi Muhammad mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang bersembahyang. Dia sendiri kemudian duduk di samping Abu Bakar dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya
Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, dan kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar sampai ke luar mesjid, “Saudara-saudara. Api (neraka) sudah bertiup. Fitnah pun datang seperti malam gelap gulita. Demi Allah, janganlah kiranya kamu berlindung kepadaku tentang apa pun. Demi Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu, kecuali yang dihalalkan oleh Qur’an, juga aku tidak akan mengharamkan sesuatu, kecuali yang diharamkan oleh Qur’an. Laknat Tuhan kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka sebagai mesjid.”
Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju, bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usamah bin Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke Syam, dan Abu Bakarpun datang pula menghadap dengan mengatakan, “Rasulullah! Saya lihat engkau sekarang dengan karunia dan nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah bagian Bint Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?”
Nabi pun mengijinkan. Abu Bakar segera berangkat pergi ke Sunh di luar kota Medinah – tempat tinggal isterinya. Umar dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi. Mereka semua dalam suasana suka-cita dan gembira sekali, – sebab sebelum itu mereka semua dalam kesedihan, berwajah suram setelah mendapat berita bahwa Nabi dalam keadaan sakit, demamnya semakin keras sampai ia pingsan.
Kemudian minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakar datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi. Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya.
Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, “Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini.”
Aisyah berkata -yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuannya, “Terasa olehku Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, “Ya Rafiq Al A’la, dari surga.”
“Kataku, ‘Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.’ Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku.”
Kemudian berita kematian Rasulullah menyebar ke segenap Madinah.
Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Demi Allah jika aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, maka aku akan membunuhnya dengan pedangku ini.”
Semua orang yang ada ketika itu adalah orang yang tidak dapat membaca (umi). Belum pernah ada Nabi yang diutus kepada mereka sebelumnya. Orang-orang pun tidak ada yang berani mengomentari perihal wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata, “Wahai Salim! Pergi dan temuilah salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu panggilah ia.”
Salim bin Ubaid pun bergegas menemui Abu Bakar yang saat itu berada di masjid. Aku menemuinya sambil menangis. Dan ketika Abu Bakar melihatku, ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat?”
Ia menjawab, “Sesungguhnya ‘Umar mengatakan, “Tidaklah aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, melainkan aku akan membunuhnya dengan pedangku ini!’”
Lalu Abu Bakar berkata, “Bergegaslah engkau.”
Kemudian mereka bergegas pergi bersamanya. Ketika Abu Bakar datang, orang-orang telah lebih dahulu masuk dan melihat jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata:”Wahai orang-orang berikan jalan untukku!’ Mereka lalu memberikan jalan untuknya sehingga Abu Bakar langsung memeluk dan menyentuh jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya mengucapkan, “Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati (pula).” (QS Az Zumar: 30)
Kemudian para Sahabat bertanya, “Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat?”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Ya.” Dan, mereka percaya bahwa Abu Bakar telah berkata benar.
Kemudian mereka kembali bertanya, “Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dishalati?”
Ia menjawab, “Ya.”
Mereka bertanya lagi, “Bagaimana?”
Abu Bakar menjawab, “Sekelompok orang masuk, lalu bertakbir, membaca shalawat, dan mendoakannya. Setelah itu hendaknya mereka keluar. Lalu kelompok lainnya masuk, kemudian bertakbir, membaca shalawat, dan mendoakannya. Kemudian mereka keluar….,” sampai semua orang ikut menshalatkannya.
Mereka bertanya lagi, ”Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dimakamkan?”
Ia menjawab, “Ya.”
Mereka bertanya, “Di mana?”
Abu Bakar, “Di mana Allah mencabut arwahnya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mencabut arwahnya melainkan di tempat yang baik.” Dan mereka pun mengetahui bahwa Abu Bakar telah berkata benar. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimandikan oleh anak-anak dari pihak bapak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apakah yang membuat ‘Umar rmengancam dengan pedangnya seraya berkata, “Demi Allah, jika aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, maka aku akan membunuhnya dengan pedangku ini!”
Sungguh, kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan perihal yang sangat besar bagi dirinya. Sesungguhnya kedudukan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam begitu tinggi di hatinya. Ia benar-benar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi cintanya terhadap drinya sendiri, anaknya, iatrinya, hartanya, dan manusia seluruhnya.
Lalu, bagaimana kiranya perasaan Sahabat yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat?
Sungguh, seluruh Sahabat belum pernah mempunyai seorang Nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan kepada mereka apa yang seharusnya mereka lakukan. Karena ietulah mereka menahan diri untuk bicara.
Adapun Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia memeluk dan menyentuh jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati (pula).” (QS.Az-Zumar: 30)
Ini menunjukkan pemahaman Abu Bakar terhadap Al Quran. Ia memahami dari ayat ini bahwa kematian adalah perkara yang pasti akan dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, situasi yang begitu genting serta besarnya kecintaan para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lah yang membuat mereka bersikap berbeda dari semestinay, dan ini bukan merupakan sesuatu yang mengherankan. Sebab, sosok yang pergi meninggalkan mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam!
Berapa banyak manusia ditinggal pergi oleh anak-anaknya, lalu mereka pingsan, bahkan di antara mereka ada pula yang menyusul kematian anaknya tersebut. Di antara mereka ada pula yang sampai kehilangan akalnya, bahkan ada pula yang terkena penyakit berbahaya.
Kemudian para Sahabat bertanya, “Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat?’ Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Ya’. Dan, mereka percaya bahwa Abu Bakar telah berkata benar.
Ketika itulah para Sahabat merasa tenang dan menyadari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Pada hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki kota Madinah, segala sesuatu di kota tersebut menjadi begitu terang. Tetapi, pada hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, segala sesuatu di kota tersebut menjadi begitu gelap. Belum lagi kami selesai menguburkan beliau, kami telah mengingkari apa yang ada dalam hati kami.” [HR. Imam Ibnu Majah rahimahullah, Shahih Sunan Ibnu Majah no.1327]


Kehilangan seseorang yang sangat kau cintai, menyedihkan. seorang nabi, seorang yang tidak tergantikan lagi di dunia ini. Bahkan di detik terakhir kematiannya, beliau masih sempat memikirkan umatnya. Ya Allah, begitu besar kecintaan Nabi mu kepada kami.

Allah yang mencintai kita, dan Nabi yang memikirkan nasib umatnya. Apalagi yang kita harapkan?

Mari kita berharap agar bertemu dengan beliau di surgaNya kelak. Melihat senyuman beliau, itu yang kuharapkan.

           -------------------------------------------xXx------------------------------------------------

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya."

Aku dan Ibu-sebuah surat-






Bismillah .. Aku mempunyai pasangan hidup ...
Saat senang aku cari pasanganku ..
Saat sedih aku cari ibu ....


Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku ..
Saat gagal aku ceritakan pada ibu ...

Saat bahagia aku peluk erat pasanganku ..
Saat sedih aku peluk erat ibuku ...

Saat liburan aku bawa pasanganku ..
Saat aku sibuk anak dianter ke rumah ibu ...

Saat sambut valentine slalu beri hadiah pada pasangan ..
Saat sambut hari ibu aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu" ...

Selalu aku ingat pasanganku ..
Selalu ibu yg ingat aku ...

Setiap saat aku akan telpon pasanganku ..
Kalau inget saja aku akan telpon ibu ...

Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku ..
Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk ibu ...

Renungkanlah ..:

"Kalau kau sudah gajian saat berkerja ...
sudahkah kau kirim uang untuk ibu ..?

Ibu tidak minta banyak... lima puluh sebulan pun "cukuplah".
Berderai air mata jika kita mendengarnya ........

Tapi kalau ibu sudah tiada ..........
Ibu aku RINDU....... AKU RIIINDDUU ... SANGAT RINDU ....

Berapa banyak yang sanggup menyuapkan ibunya dikala beliau sakit ....?
berapa banyak yang sanggup melap muntah ibunya .....?

berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya .....?
berapa banyak yang sanggup. membuang nanah dan membersihkan luka ibunya ..?

berapa banyak yang sanggup cuti kerja untuk menjaga ibunya yg sedang sakit ...?
Dan akhir sekali berapa banyak yang menshalati JENAZAH ibunya ......?