Showing posts with label rasulullah. Show all posts
Showing posts with label rasulullah. Show all posts

Tuesday, October 7, 2014

Beginilah Ukhuwah diajarkan Shahabat :)

Beginilah Ukhuwah itu diajarkan sahabat...!
Suatu hari Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".
Umar segera bangkit dan berkata, "Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat', ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata,"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas,
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.
"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al Farisi yang berkata..
"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.
Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-
orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan
mereka mulai mengkhawatirkan
nasib Salman. Salah satu sahabat
Rasulullah saw yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari
mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu
kedatangan si pemuda lusuh. Umar
berjalan mondar-mandir
menunjukkan kegelisahannya.
Kedua pemuda yang menjadi
penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh. Akhirnya tiba waktunya
penqishashan, Salman dengan
tenang dan penuh ketawakkalan
berjalan menuju tempat eksekusi.
Hadirin mulai terisak, orang hebat
seperti Salman akan dikorbankan. Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok
bayangan berlari terseok-seok,
jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu
bangkit kembali. ”Itu dia!”
teriak Umar, “Dia datang
menepati janjinya!”.
Dengan tubuh bersimbah peluh dan
nafas tersengal-sengal, si pemuda
itu ambruk di pengkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan..
aku..” ujarnya dengan susah
payah, “Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak..
waktu..”. ”Kupacu..
tungganganku.. tanpa henti,
hingga.. ia sekarat di gurun..
terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku
berlari dari sana..” ”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya
dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah
kembali? Padahal kau bisa saja
kabur dan menghilang?” ”Agar..
jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan
Muslimin.. tak ada lagi ksatria..
tepat janji..” jawab si pemuda
lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil
menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau Salman, mengapa mau-
maunya kau menjamin orang yang
baru saja kau kenal? ”Agar
jangan sampai dikatakan, di
kalangan Muslimin, tidak ada lagi
rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”,
Salman menjawab dengan mantap.
Hadirin mulai banyak yang
menahan tangis haru dengan
kejadian itu.
”Allahu Akbar!”
tiba-tiba kedua pemuda penggugat
berteriak,
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah
memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian..” ujar Umar, “Apa
maksudnya ini? Mengapa
kalian..?” Umar semakin haru.
”Agar jangan sampai dikatakan,
di kalangan Muslimin tidak ada lagi
orang yang mau memberi maaf
dan sayang kepada saudaranya”
ujar kedua pemuda membahana.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan
bangga oleh semua orang.
Begitupun kita disini, di saat ini..
sambil menyisipkan sebersit rasa
iri karena tak bisa merasakannya
langsung bersama saudara- saudara kita pada saat itu..
“Allahu Akbar…”

Tuesday, February 19, 2013

Perlakukanlah ia dengan baik

Suatu ketika ada perumpuan hamil karena zina yg datang kepada Nabi untuk bertaubat dan minta agar diberi hukuman,

lantas Nabi memanggil wali perempuan tsb dan berkata(yg artinya):

"PERLAKUKANLAH IA DGN BAIK! Jika ia telah melahirkan bawalah ia ke Saya".

Lantas ia (wali perempuan tsb) selesai melaksanakannya. Dan nabi membuat perintah, kemudian pakaiannya dikencangkan(badannya diikat) dan ia di Rajam, setelah itu Nabi MENSHOLATI jenazahnya.

Lantas Sahabat Umar (bin khottob) menanggapi: "Engkau menSolatinya Ya Rosulallah?? dia kan telah zina?"

maka Beliau menjawab:" ia telah melakukan taubat, yg seandainya taubatnya tsb dibagikan di antara 70 penduduk madinah niscaya taubatnya lebih buat mereka.

Dan apakah engkau pernah dapati yg lebih utama dari seorang yg baik dgn dirinya sendiri demi Allah Azza Wa Jalla??"

(HR imam Muslim, Riyaadus shoolihiin, Hal 26, bab Taubat, hadis ke 10)

Friday, November 9, 2012

( RENUNGAN ) TANGISAN RASULULLAH SAW AKAN NASIB KAUM WANITA

Syaidina Ali ra suatu ketika melihat Rasulullah saw menangis manakala ia datang bersama Fatimah. Lalu dia bertanya mengapa Rasulullah saw menangis. Beliau menjawab; "Pada malam aku di-isra'- kan, aku melihat perempuan-perempuan sedang disiksa dengan berbagai siksaan didalam neraka. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena menyaksikan mereka disiksa dengan sangat berat dan mengerikan. Putri Rasulullah saw kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. "Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih.

Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.

Aku lihat perempuan tergantung kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking.

Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, di bawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermuka hitam, memakan tali perutnya sendiri.

Aku lihat perempuan yang telinganya pekak dan matanya buta, dimasukkan ke dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta.

Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan gada dari api neraka," kata Nabi saw.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperti itu?

Rasulullah menjawab, "Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya."

Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang menyusui anak orang lain tanpa seizin suaminya.

Perempuan yang tergantung kedua kakinya ialah perempuan yang tidak taat kepada suaminya, ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas.

Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena ia memperkenalkan dirinya kepada orang lain yang bukan muhrim dan dia bersolek supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya.

Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya keatas ubun-ubunnya lalu ular dan kalajengking datang mengigit dan menyiksanya karena ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub.

Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami."

Mendengar itu, Sayidina Ali dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Betapa wanita itu digambarkan sebagai tiang negara, rusak tiang, maka rusak pula negara, akhlak dan moral.

Meski demikian, laki-laki yang bermaksiat kepada Allah juga tidak sedikit yang masuk neraka. Ayah-ayah yang membiarkan anak perempuanya tidak memakai kerudung dan mengumbar aurat didepan orang lain

Surga dan Neraka adalah soal pilihan. Tergantung bagaimana manusia menjalani hidupnya dialam jagad raya. kalau mau selamat, maka patuhlah kepada Al-Qur'an dan hadist, balasanya adalah surga dengan segala kenikmatan didalamnya. Kalau mau celaka dengan mendurhakai Al Qur'an dan hadist, maka Allah sudah menyediakan penjara yang sangat mengerikan, yaitu neraka dengan api dan siksaan yang sangat pedih dan tidak terbayangkan oleh manusia sebelumnya.

Dalam sebuah hadist yang diwirayatkan oleh Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda: "Neraka diperlihatkan kepadaku. Aku melihat kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.." (HR Ahmad)

Sumber Page FB : Yusuf Mansur Network

Monday, October 29, 2012

Mencintai Rasulullah saw

Entah kenapa aku mau menulis tentang hal ini. Sesuatu yang sangat kucintai sejak pertama kali aku mendengar kisah tentang beliau. Beliau adalah;

BAGINDA RASULULLAH SAW;


Apa kamu mencintai beliau? 
Apa kamu pernah bermimpi untuk bertemu dengan beliau?
Aku pernah dan aku sangat ingin bertemu dengan beliau.

Beliau lah Muhammad, seorang yatim sekaligus anak yang mengecap banyak kehilangan semenjak masa kanak-kanaknya. Cobaan telah membentuknya hingga dapat menjadikan jazirah arab kedalam genggamannya. 

satu cerita yang terus menjadi hal yang sangat membuat saya mencintai beliau adalah kisah di hari wafatnya.

Dikutip dari : here

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pingsan ketika sakit,” tutur Salim bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu memulai kisah kematian Rasulullah.
Setelah siuman, Rasulullah bertanya, “Apakah waktu shalat telah tiba?”
Para Sahabat menjawab, “Ya.”
“Perintahkan kepada Bilal agar dia mengumandangkan adzan, dan perintahkan kepada Abu Bakar agar ia mengimami shalat, agar ia menjadi imam shalat bagi kaum Muslimin!”
Kemudian Rasulullah kembali pingsan. Setelah siuman lagi, beliau bertanya, “Apakah waktu shalat telah tiba?”
Para Sahabat menjawab, “Ya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kembali, “Perintahkan kepada Bilal agar dia mengumandangkan adzan, dan perintahkan kepada Abu Bakar agar ia mengimami shalat!”
Mendengar perintah itu, Aisyah berkata, “Sesungguhnya ayahku adalah seorang ’Asiif (mudah menangis). Apabila ia melakukan apa yang engkau perintahkan itu, niscaya ia akan menangis dan tidak bisa melanjutkannya. Seandainya engkau perintahkan kepada yang lainnya (tentu hal itu lebih baik)?”
Kemudian beliau pingsan lagi. Setelah siuman, beliau bersabda, “Perintahkan kepada Bilal agar dia mengumandangkan adzan, dan perintahkan kepada Abu Bakar agar ia mengimami shalat. Sesungguhnya kalian (para wanita) seperti kaum wanita Nabi Yusuf!”
Maksud Rasulullah adalah bahwa Aisyah seperti kaum wanita Nabi Yusuf dalam hal tidak menampakkan secara lahiriyah apa yang sebenarnya ada pada hati mereka, sebagaimana dijelaskan dalam Fa-thul Bari. ‘Aisyah mengatakan demikian supaya orang-orang tidak memberikan penilaian negatif terhadap ayahnya radhiyallahu ‘anhu. Makna ini tertera dalam Shahiihul Bukhari dan Muslim.
Lalu Bilal radhiyallahu ‘anhu diperintahkan untuk adzan dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu diperintahkan untuk mengimami shalat kaum Muslimin.
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasakan kondisinya agak membaik, beliau bersabda, “Carilah orang yang akan memapahku!”
Maka datanglah Burairah radhiyallahu ‘anhu dan dan seorang laki-laki lainnya. Dalam riwayat lain, Rasulullah dipapah Abbas, putranya Fadhl, dan atau Ali bin Abi Thalib. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dipapah oleh keduanya menuju masjid. Ketika Abu Bakar melihatnya, ia pun mundur ke belakang agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dapat menempati posisinya. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan kepadanya agar ia tetap di tempatnya hingga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menyelesaikan shalatnya.
Pada suatu hari karena Abu Bakar tidak ada di tempat ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umar lah yang dipanggil untuk memimpin orang-orang bersembahyang sebagai pengganti Abu Bakar. Oleh karena Umar orang yang punya suara
lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid, suaranya terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah.
“Mana Abu Bakar?” tanyanya. “Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian.”
Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakar sebagai penggantinya kemudian, karena memimpin orang-orang bersembahyang sudah merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.
Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin memuncak, isteri-isteri dan tamu-tamu yang datang menjenguknya, bila meletakkan tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan itu. Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Ia sangat mencintai puterinya itu, cinta seorang ayah kepada anak yang hanya tinggal satu-satunya sebagai keturunan.
Apabila ia datang menemui Nabi, ia menyambutnya dan menciumnya, lalu didudukkannya di tempat ia duduk. Tetapi setelah sakitnya demikian payah, puterinya itu datang menemuinya dan mencium ayahnya.
“Selamat datang, puteriku,” katanya. Lalu didudukkannya ia disampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya ketika itu, Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain Fatimah pun jadi tertawa. Bila hal itu oleh Aisyah ditanyakan, ia menjawab:
“Sebenarnya saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.”
Tetapi setelah Rasul wafat, ia mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya sekali ini. Itu sebabnya Fatimah menangis. Kemudian dibisikkannya lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa.
Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka. Begitu tingginya suhu panas demam itu, kadang ia sampai tak sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali dengan keadaan yang sudah sangat payah sekali. Karena perasaan sedih yang menyayat hati, pada suatu hari Fatimah berkata mengenai penderitaan ayahnya itu, “Alangkah beratnya penderitaan ayah!”
“Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini,” jawabnya. Maksudnya ia akan meninggalkan dunia ini, dunia duka dan penderitaan.
Suatu hari sahabat-sahabatnya berusaha hendak meringankan penderitaannya itu dengan mengingatkan kepada nasehat-nasehatnya, bahwa orang yang menderita sakit jangan mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya dalam hal ini lebih dari yang harus dipikul oleh dua orang. Dalam keadaan sakit keras serupa itu dan di dalam rumah banyak orang, ia berkata, “Bawakan dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak lagi akan pernah sesat.”
Dari orang-orang yang hadir ada yang berkata, bahwa sakit Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sudah sangat gawat; pada kita sudah ada Qur’an, maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di kalangan yang hadir itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita tidak sesat. Ada pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.
Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata: “Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di hadapan Nabi.” Tetapi Ibn ‘Abbas masih berpendapat, bahwa mereka membuang waktu karena tidak segera menuliskan apa yang hendak dikatakan oleh Nabi. Sebaliknya Umar masih tetap dengan pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman, “Tiada sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu.” (Qur’an, 6:38)
Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah tersiar dari mulut ke mulut, sehingga akhirnya Usamah dan anak buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke Medinah. Bila Usamah kemudian masuk menemui Nabi di rumah Aisyah, Nabi sudah tidak dapat berbicara. Tetapi setelah dilihatnya Usamah, ia mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya kepada Usamah sebagai tanda mendoakan.
Melihat keadaannya yang demikian keluarganya berpendapat hendak membantunya dengan pengobatan. Asma’- salah seorang kerabat Maimunah-telah menyediakan semacam minuman, yang pernah dipelajari cara pembuatannya selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan pingsan karena demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya, “Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?”
“Kami kuatir Rasulullah menderita sakit radang selaput dada,” kata ‘Abbas pamannya.
“Allah tidak akan menimpakan penyakit yang demikian itu kepadaku.”
Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam rumah supaya meminum obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.
Muhammad memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai terasa berat. Kuatir bila ia meninggal harta masih di tangan, maka dimintanya supaya uangnya itu disedekahkan. Tetapi karena kesibukan mereka merawat dan mengurus selama sakitnya dan penyakit yang masih terus memberat, mereka lupa melaksanakan perintahnya itu. Setelah hari Minggunya sebelum hari wafatnya ia sadar kembali dari pingsannya, ia bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu?”
Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya. Kemudian dimintanya supaya dibawakan. Ketika uang itu sudah diletakkan di tangan Nabi, ia berkata, “Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhan, sekiranya ia menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya.”
Kemudian semua uang dinar itu disedekahkan kepada fakir-miskin di kalangan Muslimin.
Malam itu Muhammad dalam keadaan tenang. Panas demamnya sudah mulai turun, sehingga seolah karena obat yang diberikan keluarganya itulah yang sudah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar rumah pergi ke mesjid dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadhl bin Abbas. Abu Bakar waktu itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang luarbiasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi isyarat supaya mereka meneruskan salatnya. Bukan main Muhammad merasa gembira melihat semua itu.
Abu Bakar merasa apa yang telah dilakukan mereka itu, dan yakinlah dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat sembahyangnya untuk memberikan tempat kepada Muhammad. Tetapi Muhammad mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang bersembahyang. Dia sendiri kemudian duduk di samping Abu Bakar dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya
Selesai sembahyang ia menghadap kepada orang banyak, dan kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar sampai ke luar mesjid, “Saudara-saudara. Api (neraka) sudah bertiup. Fitnah pun datang seperti malam gelap gulita. Demi Allah, janganlah kiranya kamu berlindung kepadaku tentang apa pun. Demi Allah, aku tidak akan menghalalkan sesuatu, kecuali yang dihalalkan oleh Qur’an, juga aku tidak akan mengharamkan sesuatu, kecuali yang diharamkan oleh Qur’an. Laknat Tuhan kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka sebagai mesjid.”
Melihat tanda-tanda kesehatan Nabi yang bertambah maju, bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usamah bin Zaid datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke Syam, dan Abu Bakarpun datang pula menghadap dengan mengatakan, “Rasulullah! Saya lihat engkau sekarang dengan karunia dan nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah bagian Bint Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?”
Nabi pun mengijinkan. Abu Bakar segera berangkat pergi ke Sunh di luar kota Medinah – tempat tinggal isterinya. Umar dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum Muslimin sudah mulai terpencar-pencar lagi. Mereka semua dalam suasana suka-cita dan gembira sekali, – sebab sebelum itu mereka semua dalam kesedihan, berwajah suram setelah mendapat berita bahwa Nabi dalam keadaan sakit, demamnya semakin keras sampai ia pingsan.
Kemudian minta disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana itu ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga Abu Bakar datang ke tempat Aisyah dengan sebatang siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya kepada Nabi. Kemudian dengan itu ia menggosok dan membersihkan giginya.
Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada Allah sambil berdoa, “Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini.”
Aisyah berkata -yang pada waktu itu kepala Nabi berada di pangkuannya, “Terasa olehku Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sudah memberat di pangkuanku. Kuperhatikan air mukanya, ternyata pandangannya menatap ke atas seraya berkata, “Ya Rafiq Al A’la, dari surga.”
“Kataku, ‘Engkau telah dipilih maka engkau pun telah memilih. Demi Yang mengutusmu dengan Kebenaran.’ Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara dada dan leherku dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku dan usiaku yang masih muda, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas bantal, aku berdiri dan bersama wanita-wanita lain aku memukul-mukul mukaku.”
Kemudian berita kematian Rasulullah menyebar ke segenap Madinah.
Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Demi Allah jika aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, maka aku akan membunuhnya dengan pedangku ini.”
Semua orang yang ada ketika itu adalah orang yang tidak dapat membaca (umi). Belum pernah ada Nabi yang diutus kepada mereka sebelumnya. Orang-orang pun tidak ada yang berani mengomentari perihal wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berkata, “Wahai Salim! Pergi dan temuilah salah seorang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu panggilah ia.”
Salim bin Ubaid pun bergegas menemui Abu Bakar yang saat itu berada di masjid. Aku menemuinya sambil menangis. Dan ketika Abu Bakar melihatku, ia bertanya, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat?”
Ia menjawab, “Sesungguhnya ‘Umar mengatakan, “Tidaklah aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, melainkan aku akan membunuhnya dengan pedangku ini!’”
Lalu Abu Bakar berkata, “Bergegaslah engkau.”
Kemudian mereka bergegas pergi bersamanya. Ketika Abu Bakar datang, orang-orang telah lebih dahulu masuk dan melihat jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata:”Wahai orang-orang berikan jalan untukku!’ Mereka lalu memberikan jalan untuknya sehingga Abu Bakar langsung memeluk dan menyentuh jasad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, seraya mengucapkan, “Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati (pula).” (QS Az Zumar: 30)
Kemudian para Sahabat bertanya, “Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat?”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Ya.” Dan, mereka percaya bahwa Abu Bakar telah berkata benar.
Kemudian mereka kembali bertanya, “Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dishalati?”
Ia menjawab, “Ya.”
Mereka bertanya lagi, “Bagaimana?”
Abu Bakar menjawab, “Sekelompok orang masuk, lalu bertakbir, membaca shalawat, dan mendoakannya. Setelah itu hendaknya mereka keluar. Lalu kelompok lainnya masuk, kemudian bertakbir, membaca shalawat, dan mendoakannya. Kemudian mereka keluar….,” sampai semua orang ikut menshalatkannya.
Mereka bertanya lagi, ”Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan dimakamkan?”
Ia menjawab, “Ya.”
Mereka bertanya, “Di mana?”
Abu Bakar, “Di mana Allah mencabut arwahnya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mencabut arwahnya melainkan di tempat yang baik.” Dan mereka pun mengetahui bahwa Abu Bakar telah berkata benar. Kemudian Abu Bakar memerintahkan agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimandikan oleh anak-anak dari pihak bapak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apakah yang membuat ‘Umar rmengancam dengan pedangnya seraya berkata, “Demi Allah, jika aku mendengar seseorang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, maka aku akan membunuhnya dengan pedangku ini!”
Sungguh, kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan perihal yang sangat besar bagi dirinya. Sesungguhnya kedudukan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam begitu tinggi di hatinya. Ia benar-benar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi cintanya terhadap drinya sendiri, anaknya, iatrinya, hartanya, dan manusia seluruhnya.
Lalu, bagaimana kiranya perasaan Sahabat yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat?
Sungguh, seluruh Sahabat belum pernah mempunyai seorang Nabi sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengajarkan kepada mereka apa yang seharusnya mereka lakukan. Karena ietulah mereka menahan diri untuk bicara.
Adapun Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, ia memeluk dan menyentuh jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Sesungguhnya kamu akan mati dan mereka akan mati (pula).” (QS.Az-Zumar: 30)
Ini menunjukkan pemahaman Abu Bakar terhadap Al Quran. Ia memahami dari ayat ini bahwa kematian adalah perkara yang pasti akan dialami oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, situasi yang begitu genting serta besarnya kecintaan para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lah yang membuat mereka bersikap berbeda dari semestinay, dan ini bukan merupakan sesuatu yang mengherankan. Sebab, sosok yang pergi meninggalkan mereka adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam!
Berapa banyak manusia ditinggal pergi oleh anak-anaknya, lalu mereka pingsan, bahkan di antara mereka ada pula yang menyusul kematian anaknya tersebut. Di antara mereka ada pula yang sampai kehilangan akalnya, bahkan ada pula yang terkena penyakit berbahaya.
Kemudian para Sahabat bertanya, “Wahai Sahabat Rasulullah, apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat?’ Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Ya’. Dan, mereka percaya bahwa Abu Bakar telah berkata benar.
Ketika itulah para Sahabat merasa tenang dan menyadari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Pada hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki kota Madinah, segala sesuatu di kota tersebut menjadi begitu terang. Tetapi, pada hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, segala sesuatu di kota tersebut menjadi begitu gelap. Belum lagi kami selesai menguburkan beliau, kami telah mengingkari apa yang ada dalam hati kami.” [HR. Imam Ibnu Majah rahimahullah, Shahih Sunan Ibnu Majah no.1327]


Kehilangan seseorang yang sangat kau cintai, menyedihkan. seorang nabi, seorang yang tidak tergantikan lagi di dunia ini. Bahkan di detik terakhir kematiannya, beliau masih sempat memikirkan umatnya. Ya Allah, begitu besar kecintaan Nabi mu kepada kami.

Allah yang mencintai kita, dan Nabi yang memikirkan nasib umatnya. Apalagi yang kita harapkan?

Mari kita berharap agar bertemu dengan beliau di surgaNya kelak. Melihat senyuman beliau, itu yang kuharapkan.

           -------------------------------------------xXx------------------------------------------------

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Dari Anas r.a. ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orangtuanya, anaknya, dan manusia semuanya."

Thursday, October 4, 2012

dan mari berkata, islam bukan agama teroris!!

Baru-baru ini membaca artikel dari koran tempo yang membuat saya akhirnya memutuskan menulis tentang hal ini. Isi artikel selengkapnya silahkan dibaca di bawah ini:

TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok teroris Al Qaidah Indonesi mengincar mahasiswa dalam merekrut anggotanya. Hal ini terungkap saat seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta, Andi Lala Adi Susilotomo, menyerahkan diri karena dititipi bahan material bom tersangka Wendy Febriangga.
"Masih ada dua mahasiswa lagi yang diduga direkrut Wendy," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Boy Rafli saat ditemui di kantornya, Kamis, 4 Oktober 2012.
Ia menyatakan proses rekrutmen terhadap mahasiswa ini dilakukan di luar kegiatan kampus. Polisi sendiri belum memastikan secara spesifik kegiatan tersebut, termasuk kemungkinan proses rekrutmen melalui pengajian.
Polisi masih mengharapkan para mahasiswa yang merasa terlibat kelompok teroris segera melaporkan diri. Keputusan Andi untuk melapor dan menyerahkan diri, menurut Boy, menjadi iktikad baik yang juga membantu polisi mengungkap jaringan baru Jamaah Islamiyah Noor Din M. Top. "Harap segera melapor seperti Andi," kata Boy.
Ia juga menyatakan, para orang tua hendaknya lebih memperhatikan setiap kegiatan anaknya di sekolah dan universitas. Kelompok Al Qaidah sendiri memang memiliki beberapa anggota yang masih muda, salah satunya Fajar Novianto yang masih berumur 18 tahun.
Wendy adalah tersangka yang ditangkap pada Kamis, 27 September 2012, sekitar pukul 11.00 di Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah. Dalam kelompok pimpinan Baderi Hartono ini, ia berperan untuk merakit bom, merekrut anggota, dan ikut pelatihan militer di Poso.
Kelompok Al Qaidah Indonesi terungkap setelah pimpinan dan ahli rakit bom, Baderi Hartono, ditangkap di Solo pada 22 September lalu. Polisi kemudian menangkap sekitar 11 orang yang diduga anggota kelompok di Solo, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah.
Sembilan orang dipastikan sebagai tersangka dan ditahan di Markas Komando Brigadir Mobil, Kelapa Dua, Depok. Densus 88 masih mencari tiga orang anggota kelompok yang baru berumur sembilan bulan ini dan merupakan sel dari kelompok Jamaah Islamiyah Noor Din M. Top.
 -----------------------------------------------xXx----------------------------------------------------------

Miris sekali. Pengajian yang seharusnya diisi dengan tilawah dan saling berbagi kisah malah dijadikan sebagai sarana perekrutan orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai pengusung keadilan. Menjadikan nama islam dicap sebagai umat yang membolehkan menumpahkan darah tanpa sebab kepada kaum yang berbeda kepercayaan kepada mereka.
Ironis...

Islam. Apakah kamu tahu apa arti islam. secara harfiah berarti kesejahteraan. Rasulullah tidak menjadikan kekerasaan sebagai senjatanya dalam mengajak umat kepada kebaikan. Kenapa harus menjadikan islam itu sendiri menjadi sesuatu hal yang dicap sebagai "teroris" ?

Kita tahu saudara-saudara kita di palestina sana menderita banyak. mengapa tidak berjihad kesana. daripada menumpahkan darah orang-orang non-muslim yang tidak bersalah pada kita?. Mereka mebayar pajak, dan ketika masa Rasulullah saw, orang-orang non-muslim yang membayar pajak walaupun mereka belum atau tidak mau melepaskan kepercayaan mereka, membayar pajak untuk dijaga darahnya.

Perang saat ini yang dilancarkan oleh gembong-gembong Amerika dan antek-anteknya masih "belum" dalam tahap perang senjata. Perang pemikiran lah yang sekarang banyak terjadi dan menghancurkan generasi muslim kita. mengapa tidak mengajak dan mengajari mereka para generasi muda muslim untuk berpikir positif dan bukan merekrut untuk kegiatan yang hanya membuat nama buruk bagi agama yang kita usung?

Mari berpikir Akhi...

dan mari berkata, islam bukan agama teroris!!

Luthfan Mursyidan
-Catatan kecil hati-