Showing posts with label Waktu Manusia. Show all posts
Showing posts with label Waktu Manusia. Show all posts

Tuesday, May 24, 2016

Social Media (Media Ajang Pamer)

Saya sudah merasa kadar muak saya melewati batas pada para pengguna sosial media. Hal ini disebabkan oleh orang orang yang seringkali menyalahgunakan fungsi sebenarnya dari social media dari wadah untuk saling memberi info dan berjaringan menjadi arena ajang pamer dan berkelahi aksara.

Tadinya saya biasa saja menanggapi pergeseran makna ini, tapi beberapa hal yang terjadi di social media lambat laun membuat saya jengah. coba tengok sejenak di timeline twitter, status facebook ataupun path juga foto foto di instagram yang isinya status seperti lagi galau, marah, seneng, cemburu ataupun keluhan keluhan keluhan yang seharusnya (menurut saya) lebih baik "just keep it to yourself." alias bukan konsumsi umum, lalu juga kadang saling sindir menyindir yang akhirnya jadi fitnah memfitnah. Wow i just amazed karena tanpa mereka sadari, mereka membuka aib nya sendiri.

Tidak hanya berhenti di situ, sosial media pun berubah menjadi arena pamer. baik itu pamer sedang berada di pusat perbelanjaan mewah, pamer baru beli barang-barang baru, pamer muka, pamer kendaraan, pamer pacar, pamer sedang makan makanan mewah, pamer kemesraan, pamer kebaikan hati, pamer ekspresi, pamer foto liburan di luar negeri (padahal jalan-jalan luar negerinya cuma seputaran mall di malaysia dan singapore dan foto di depan studio universal, ga tau deh beneran masuk ke universalnya apa numpang lewat doang.) dengan pose laiknya selebritis Hollywood lengkap dengan tentengan belanjaan.

Lalu ada juga yang paling konyol yang saya temui di social media, ketika seorang teman hampir setiap 15 menit mempost semua kegiatannya di Path. Mulai dari announcement baru bangun tidur, nulis status mau mandi, foto sarapan, foto kemacetan saat berangkat kerja, foto sudah sampai kantor, cek in di kantor, cek in di tempat makan siang bersama teman-temannya sambil foto bareng, nulis status lagi ngemil di waktu senggang kantor, posting foto/quote sambil tag berjamaah di path (dengan maksud mendapatkan heart banyak), memposting pulang kantor, foto lagi kongkow sama temen-temennya seusai jam kantor di klub paling hits di Jakarta, lalu posting perjalanan pulang dari hedonnya, posting quote sebelum tidur, posting listening to sebelum tidur sampai akhirnya dia memberitahu ke seluruh timeline bahwa dia akan tidur. (ok, can I say that this is too much?) well ya it's happen everyday!

Dan semua ajang pamer juga pencitraan di social media itu hanya untuk sekedar menjadi ajang pembuktian "eh, eh gue kaya loh, duit gue banyak, gue bisa beli ini itu dan nongkrong disana sini. Jadi jangan sembarangan ma gue yah.". Menurut pengamatan saya biasanya yang seperti itu adalah orang-orang yang kerap mengalami culture shock seperti seorang teman yang baru keterima kerja dengan gaji selangit sehingga jadi petantang petentengatau seorang yang menikahi pria/wanita kaya atau OKB (orang kaya baru).

Pertanyaan saya adalah: apa yang kamu dapatkan dengan pamer seperti itu?menginginkan pengakuan status sosial bahwa kamu lebih dalam segala hal kah? menginginkan pengakuan bahwa kamu gaul banget? lalu setelah mendaptkan pengakuan sosial bahwa kamu lebih dalam segala hal dan gaul banget lantas apalagi yang kamu cari?

Merasakah bahwa social media menjadikan jiwa kita tidak sehat? sudah berapa sering kita cuekin keluarga/suami/pacar/teman/sahabat yang berada disamping kita karena mata kita tertuju terus pada smartphone atau tablet kita? sudah berapa kali kita bertengkar dengan suami/istri/pacar hanya karena diri kita sendiri/mereka terlalu sibuk dengan social media nya? dan apakah kita sadar bahwa kita menjadi stalker yang diam diam selalu mengecek/mengawasi social media pasangan kita setiap saat hanya untuk memastikan dia menulis apa atau sedang dimana? sangat tidak sehat untuk jiwa kita.

Entah apa yang salah, apakah diri saya yang mengganggap mereka terlalu berlebihan ataukah memang mereka yang berlebihan? Sebenarnya semua sah sah saja asalkan tidak berlebihan. Saya sendiri lebih menyukai akun social media seseorang yang lebih banyak memberi info tentang sebuah event ataupun posting foto liburan keliling Indonesia (yang jelas lebih indah dari luar negeri) lengkap dengan informasinya dan akhir akhir ini saya pun menggunakan social media sebagai wadah untuk memperluas jaringan juga saling menyapa teman yang sudah lama tidak bertemu.

Tidak munafik, sayapun pernah ada di posisi seperti yang saya sebutkan diatas, tetapi setelah kejadian teman yang kerap posting ini itu secara berlebihan di path dan saya merasa muak lalu saya pun sadar bahwa jika saya melakukan hal yang sama maka orang lain yang melihat pun akan muak dan ini sudah semakin tidak sehat. Maka dari itulah saya memulai langkah dengan mengganti smartphone saya menjadi handphone biasa yang fitur canggihnya hanya sebatas sms dan telpon. Jika ingin bersosial media maka saya pun diharuskan untuk meminjam handphone suami atau menggunakan tablet. Dan percayalah (karena saya mengalaminya sekarang) bahwa ternyata hidup jauh lebih tenang jika kita tidak terlalu aktif di social media.

Sumber : kaskus

Thursday, November 20, 2014

Kenaikan BBM buat siapa?







tenang saja, mereka bukanlah pengkonsumsi BBM bersubsidi.
mereka juga bukan pengguna sosmed, yg dpt mngungkapkan isi Hatinya.
Tenang,, mereka tidak akan kena dampak akan kneaikan BBM yg cuma 2 Ribu Rupiah. 
Tenang saja semuanya akan baik-baik saja.. 
jangan LEBAY gitu dong ahhh.. 
semua Sudah ada riskinya

======================================================================= 


Sebenarnya bukan masalah naik 2000 atau tidak.
Ada yang senang membanding bandingkan konsumsi bensin dan rokok, senang beli rokok, dan 2000 perak buat bensin dianggap pelit.
Masalah bukan disana!
Masalahnya adalah, saat harga bensin dinaikkan, otomatis harga bahan2 pokok lain naik seiring waktu (bahkan ada yang dinaikkan pas isu bahan bakar mau dinaikkan, cuma isu padahal ) .
Entah apa mereka yang berpendapat dan senang membanding-bandingkan itu sudah terbutakan, baik buta mata maupun hati nya, hingga informasi "sekecil"  ini saja luput darinya.
Manusia manusia.
Ataukah mungkin karena bapak presiden mereka, sebagai nabi mereka, berkata : "Untuk Industri, dll", hingga mereka mengangguk bagaikan ayam yang diberi jagung. Membungkuk.

Sadar kek...



Nih gw kasih 2000 perak yang kurang



Sumber : Indra Septiawan

=============================================================

#‎janganremehkaan‬ 2000

ada beberapa koment yang mungkin dipikirkan pakai dengkul

1. beli rokok aja mampu bbm naik 2000 aja g mampu..

mari kita pikirkan dengan otak dan bukan dengkul seperti orang2 yg beragumen di atas

sekarang anda perkirakan..dari jumlah penduduk indonesia..berapa persen yang merokok ???

rokok naik yang sengsara itu hanya perokok...

jika harga rokok naik ...barang2 tidak akan naik juga..bahan pangan..sandang dan transportasi..tdk naik juga..

efek domino tidak ada

pernah tidak kita mendengar kalau rokok naik semua barang naik???

bandingkan dengan kenaikan BBM...barang2 naik..bahan pangan...sandang dan transportasi juga akan naik

efek dominonya akan lebih terasa...dan itu berantai

dan kenaikkan akan di rasakan semua...bukan hanya yg perokok

bahkan wapres juga memberi peluang BBM akan NAIK LAGI tahun depan jika harga minyak dunia naik..

sekarang pikirkan sendiri...apa efeknya

http://www.merdeka.com/…/jusuf-kalla-buka-peluang-harga-bbm…

Logika Rakyat Kecil:
Harga BBM naik >> harga barang2 ikut naik >> hidup makin susah

2. siapapun presidennya pasti akan menaikkan bbm,kalao prabowo jadi 12 rb

ini fakta dari mana?? apalagi menyebutkan prabowo kalau jadi presiden bbm jadi 12 rb...emangnya lo dukun cabul?

kalaupun ada berita prabowo menaikkan BBM berarti itu menepati janji..

Jika Betul prabowo katakan subsidi BBM akan dicabut, tapi tidak dikatakan langsung dicabut kalau jadi presiden, harus di persiapkan betul langkah2 antisipasi, menciptakan ribuan lapangan kerja, memprioritaskan mengatasi kebocoran2 anggaran yg menurut abraham samad 7.200 Trilyun, merevisi kontrak2 migas dgn asing, dan UU pro asing , setelah daya beli masyarakat membaik barulah dinaikkan BBM. Tidak seperti sekarang.. belum apa2 sudah langsung naikkan BBM tanpa bekerja dan mikir keras terlebih dahulu.

bandingkan dengan jokowi dan PDIP....ketika kampaye teriak2 tidak akan mencabut subsidi..ketemu tkg ojek bilang tidak akan cabut subsidi

katanya akan memberantas mafia migas...mafianya aja belum ketangkap BBM udah di naikkan

PDIP 10 tahun menentang kenaikkan BBM...mengeluarkan buku putih yg berisi petunjuk APBN tanpa kenaikkan BBM

dan itu konsisten diteriakkan...

bandingkan dengan sekrang ketika mencabut subsidi...kira2 menepati janji atau ingkar janji??

naiknya emang CUMA 2 ribu... itu menurut kamu ya ialah berapa sih 2rb cm uang parkir doank...itu menurut kamu..tapi buat rakyat kecil itu beda..jadi jangan bicara seolah" itu sangat sepele

jangan bicara nilainya...tapi bicara efeknya...

jangan mikirkan diri sendri....pikirkan orang lain..

karena kamu g bisa sukses tanpa orang lain..

selama ini setiap ada kebijakan naik harga BBM apakah :

1. Infrastrukturnya tambah banyak?

2. Utang Luar negeri berkurang?

3. Rakyat tambah sejahtera ?

Tuesday, March 8, 2011

Waktu Manusia


Berapa jam yang ada dalam sehari? Berapa pula menit dalam waktu sejam? Dan terakhir, berapa banyak detik dalam semenit? Mungkin pertanyaan ini sudah dapat kita jawab di luar kepala. 24 jam, 60 menit, dan 60 detik, mudah dan cepat, pertanyaan SD.


Kalau begitu, mungkin saya akan menambahkan satu pertanyaan lain. Berapa banyak manusia yang membuang waktunya dalam waktu sehari itu? Actually, saya tidak memakai kata “Memanfaatkan”, saya malah menggantinya dengan kata membuang. Karena pernyataan negatif akan lebih cepat melekat di otak manusia dibandingkan dengan kata-kata penyemangat positif.


Kita mulai dari saat bangun tidur. Berapa waktu yang anda pakai untuk tidur dalam sehari? 8 jam? Atau lebih dari 8 jam? Atau mungkin lebih kurang dari itu? Kalau begitu mari kita ambil asumsi waktu yang terpakai untuk tidur sekitar 7 jam.


Berikutnya, berapa waktu yang anda pakai untuk menunggu sesuatu( seperti menunggu angkutan umum, mobil yang dipanaskan, atau menunggu antrian mandi, atau mungkin bengong merenung dan sebagainya)? Mari ambil kembali asumsi 4 jam.


Berikutnya, berapa waktu yang dipakai untuk mengobrol ngalur ngidul atau berkata – kata yang tidak jelas? Waktu yang dipakai untuk menggunjing atau mengumpat? Satukan seluruhnya dalam satu group. Dan Ambil kembali asumsi untuk melakukan perbuatan itu selama 2 jam.


Kalau semua perhitungan itu mendekati keakuratan, maka dapat kita pastikan bahwa selama 13 jam itu kita tidak mendapatkan apa-apa atau tidak bermanfaat. Waktu hanya terbuang seperti angin lalu, tanpa adanya hal yang diperoleh dari waktu yang terbuang itu.


Bagaimana dengan sisa waktu yang 10 jam? Hanya anda yang tahu sendiri…


Renungkan sejenak. Janganlah tulisan ini menjadi penyemangat sementara saja. Hidup manusia yang sementara janganlah menjadikan ingatan kita menjadi sementara. Jadikan waktu yang kita manfaatkan semakin berarti. Berubahlah! Sebelum waktu menghimpit kita dalam kegelapan yang pekat. Hingga kita tak sadar akan pentingnya waktu, before it’s too late….

Waktu Manusia


Berapa jam yang ada dalam sehari? Berapa pula menit dalam waktu sejam? Dan terakhir, berapa banyak detik dalam semenit? Mungkin pertanyaan ini sudah dapat kita jawab di luar kepala. 24 jam, 60 menit, dan 60 detik, mudah dan cepat, pertanyaan SD.


Kalau begitu, mungkin saya akan menambahkan satu pertanyaan lain. Berapa banyak manusia yang membuang waktunya dalam waktu sehari itu? Actually, saya tidak memakai kata “Memanfaatkan”, saya malah menggantinya dengan kata membuang. Karena pernyataan negatif akan lebih cepat melekat di otak manusia dibandingkan dengan kata-kata penyemangat positif.


Kita mulai dari saat bangun tidur. Berapa waktu yang anda pakai untuk tidur dalam sehari? 8 jam? Atau lebih dari 8 jam? Atau mungkin lebih kurang dari itu? Kalau begitu mari kita ambil asumsi waktu yang terpakai untuk tidur sekitar 7 jam.


Berikutnya, berapa waktu yang anda pakai untuk menunggu sesuatu( seperti menunggu angkutan umum, mobil yang dipanaskan, atau menunggu antrian mandi, atau mungkin bengong merenung dan sebagainya)? Mari ambil kembali asumsi 4 jam.


Berikutnya, berapa waktu yang dipakai untuk mengobrol ngalur ngidul atau berkata – kata yang tidak jelas? Waktu yang dipakai untuk menggunjing atau mengumpat? Satukan seluruhnya dalam satu group. Dan Ambil kembali asumsi untuk melakukan perbuatan itu selama 2 jam.


Kalau semua perhitungan itu mendekati keakuratan, maka dapat kita pastikan bahwa selama 13 jam itu kita tidak mendapatkan apa-apa atau tidak bermanfaat. Waktu hanya terbuang seperti angin lalu, tanpa adanya hal yang diperoleh dari waktu yang terbuang itu.


Bagaimana dengan sisa waktu yang 10 jam? Hanya anda yang tahu sendiri…


Renungkan sejenak. Janganlah tulisan ini menjadi penyemangat sementara saja. Hidup manusia yang sementara janganlah menjadikan ingatan kita menjadi sementara. Jadikan waktu yang kita manfaatkan semakin berarti. Berubahlah! Sebelum waktu menghimpit kita dalam kegelapan yang pekat. Hingga kita tak sadar akan pentingnya waktu, before it’s too late….