Showing posts with label orang tua. Show all posts
Showing posts with label orang tua. Show all posts

Friday, December 19, 2014

Kisah Seoasang Suami Istri Tua

ambilLah pelajaran



Foto dibawah adalah foto sepasang suami istri yang dengan
sengaja saya ambil ketika saya sedang menaiki kereta arah depok > Jakarta kota beberapa minggu lalu.
Sepasang suami istri ini entah siapa namanya,beliau terlihat begitu berantakan dan sedikit kumal.mohon maaf ,bahkan terhirup bau tak sedap dari mereka,baunya bahkan membuat seorang Ibu yang awalnya duduk didekatnya terpaksa harus keluar dari kereta dan muntah sejadi2nya,mungkin karena tidak tahan dengan baunya.
Awalnya saya berfikir bahwa Ibu dan Bapak ini adalah seorang pengemis.Hingga Allah kembali menghentakkan hati saya dengan pembelajaran yang luar biasa pada hari itu.
Kali ini saya tidak akan bercerita mengenai bagaimana kisah cinta pasangan ini, ikatan cinta keduanya,bagaimana mereka bersama mengarungi masa2 tua,dengan kisah2 romantis mereka,menikmati hidup bersama.Bukan kawan,bukan itu yang akan saya ceritakan,hal ini lebih dari itu,jauh lebih indah dari itu.
Sambil menikmati perjalanan ditemani sebungkus kentang goreng menunggu kereta tiba di Jakarta kota.Mataku tak hentinya memandangi sepasang suami istri tersebut.Sebenarnya saya merasa terganggu karena bau yang dibawa kedua orang tua itu sungguh sangat menyengat ,tak dapat saya gambarkan baunya seperti apa,saya hanya dapat memastikan bahwa saat itu kepala saya sangat pusing akibat baunya.
Hingga datang seorang pemuda dengan gaya sangat stylish sambil menggunakan headset duduk tepat disamping bapak yang memakai baju putih.Sesaat ketika melihat pemuda itu perawakannya sangat mirip dengan teman saya di kampus Unhas,entah apa motivasi pemuda itu duduk tepat disamping bapak tersebut sedangkan setiap orang yang berada dalam gerbong kereta menjauhi sepasang suami istri itu karena baunya.
Hingga Mulai terdengar pemuda itu menanyakan beberapa hal kepada bapak tersebut. nama nya siapa pak?,tinggal dmana?,mau kemana?,punya anak berapa?.Saat itu sungguh saya dibuat terkagum dengan perawakan pemuda itu,walaupun terlihat selengean (cuek) namun sungguh ia satu dari beberapa orang hebat yang pernah kemui selama ini.banyak hal yang membuat saya yakin bahwa pemuda itu adalah orang yang nebat,namun tulisan saya Kali ini tidak akan membahas seberapa hebat pemuda itu,kali ini tulisan saya akan fokus menceritakan kisah sepasang suami istri tersebut.
Kereta sebentar lagi tiba distasiun gondangdia,kudengar dari percakapan pemuda dan bapak itu, stasiun gondangdia adalah stasiun tujuan pasangan suami istri itu.
Kulihat pemuda itu memasukkan tangannya kedalam tasnya dan mengambil beberapa uang berwarna merah(100.000 rupiah) dalam jumlah yang sangat banyak,sangat banyak saya tak tahu pastinya.
Dengan nada yang sangat sopan pemuda itu berkata : "pak,saya punya sedikit rejeki buat bapak dan Ibu mungkin bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup bapak dan Ibu beberapa hari kedepan"
Tahukah kawan,apa jawaban bapak itu? Beliau menjawab seperti ini.
"Sungguh agamaku melarangku menjadi seorang pengemis yang menengadahkan tangan menunggu bantuan uang dari situan kaya raya,kuyakin tuhanku maha kaya,sangat kaya.Saya tahu niat ananda adalah untuk membantu kami,dan sungguh saya yakin bahwa Allahlah yang telah mengirimmu kepada kami,namun mohon maaf nak saya tak bisa menerima itu,saya tak ingin sebuah kisah dari perjalanan perjuangan hidup kami mencari rezeki, terdapat sebuah kisah bahwa kami menerima uang dari orang lain dikarenakan kasihan dengan kondisi kami. Saya yakin nak ,sebentar lagi Allah akan memberikan rezeki bagi kami dengan cara yang lebih baik dari ini ,iya saya yakin sebentar lagi nak,sebentar lagi.
Kemudian bapak itupun melangkahkan kakinya turun ke stasiun gondangdia bersama istrinya.
Semoga Allah memaafkan prasangka saya yang menganggap bapak dan Ibu itu adalah seorang pengemis.sungguh mereka sebenar benarnya hamba Allah yang bertebaran dimuka bumi dan mencari rezeki Allah layaknya seorang pahlawan.
Pengalaman ini sontak menambah keyakinan saya bahwa rezeki Allah sungguh sangat dekat kawan,ya sebentar lagi,sebentar lagi.itu pesan si bapak tua.
Terima kasih banyak..
oleh
Wahyu Hidayat Ar Rasyid

Sumber : here

Friday, June 27, 2014

Tentang Ayah

Mungkin ibu lebih kerap menelpon untuk menanyakan keadaanku setiap hari, tapi apakah aku tahu, bahwa sebenarnya ayahlah yang mengingatkan ibu untuk meneleponku?

Semasa kecil, ibukulah yang lebih sering menggendongku. Tapi apakah aku tau bahwa ketika ayah pulang bekerja dengan wajah yang letih ayahlah yang selalu menanyakan apa yang aku lakukan seharian, walau beliau tak bertanya langsung kepadaku karena saking letihnya mencari nafkah dan melihatku terlelap dalam tidur nyenyakku. Saat aku sakit demam, ayah membentakku “Sudah diberitahu, Jangan minum es!” Lantas aku merengut menjauhi ayahku dan menangis didepan ibu. Tapi apakah aku tahu bahwa ayahlah yang risau dengan keadaanku, sampai beliau hanya bisa menggigit bibir menahan kesakitanku.

Ketika aku remaja, aku meminta izin untuk keluar malam. Ayah dengan tegas berkata “Tidak boleh! ”Sadarkah aku, bahwa ayahku hanya ingin menjaga aku, beliau lebih tahu dunia luar, dibandingkan aku bahkan ibuku? Karena bagi ayah, aku adalah sesuatu yang sangat berharga. Saat aku sudah dipercayai olehnya, ayah pun melonggarkan peraturannya.

Maka kadang aku melanggar kepercayaannya. Ayahlah yang setia menunggu aku diruang tamu dengan rasa sangat risau, bahkan sampai menyuruh ibu untuk mengontak beberapa temannya untuk menanyakan keadaanku, ''dimana, dan sedang apa aku diluar sana.'' Setelah aku dewasa, walau ibu yang mengantar aku ke sekolah untuk belajar, tapi tahukah aku, bahwa ayahlah yang berkata: Ibu, temanilah anakmu, aku pergi mencari nafkah dulu buat kita bersama.

Disaat aku merengek memerlukan ini – itu, untuk keperluan kuliahku, ayah hanya mengerutkan dahi, tanpa menolak, beliau memenuhinya, dan cuma berpikir, kemana aku harus mencari uang tambahan, padahal gajiku pas-pasan dan sudah tidak ada lagi tempat untuk meminjam.

Saat aku berjaya. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan bertepuk tangan untukku. Ayahlah yang mengabari sanak saudara, ''anakku sekarang sukses.'' Walau kadang aku cuma bisa membelikan baju koko itu pun cuma setahun sekali. Ayah akan tersenyum dengan bangga.

Dalam sujudnya ayah juga tidak kalah dengan doanya ibu, cuma bedanya ayah simpan doa itu dalam hatinya. Sampai ketika nanti aku menemukan jodohku, ayahku akan sangat berhati – hati mengizinkannya.

Dan akhirnya, saat ayah melihatku duduk diatas pelaminan bersama pasanganku, ayahpun tersenyum bahagia. Lantas pernahkah aku memergoki, bahwa ayah sempat pergi ke belakang dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat bahagia. Dan beliau pun berdoa, “Ya Alloh, tugasku telah selesai dengan baik. Bahagiakanlah putra putri kecilku yang manis bersama pasangannya.

''Pesan ibu ke anak untuk seorang Ayah''

Anakku..

Memang ayah tidak mengandungmu,
tapi darahnya mengalir di darahmu, namanya melekat dinamamu ...
Memang ayah tak melahirkanmu,
Memang ayah tak menyusuimu,
tapi dari keringatnyalah setiap tetesan yang menjadi air susumu ...

Nak..

Ayah memang tak menjagaimu setiap saat,
tapi tahukah kau dalam do'anya selalu ada namamu disebutnya ...
Tangisan ayah mungkin tak pernah kau dengar karena dia ingin terlihat kuat agar kau tak ragu untuk berlindung di lengannya dan dadanya ketika kau merasa tak aman...

Pelukan ayahmu mungkin tak sehangat dan seerat bunda, karena kecintaanya dia takut tak sanggup melepaskanmu...
Dia ingin kau mandiri, agar ketika kami tiada kau sanggup menghadapi semua sendiri..

Bunda hanya ingin kau tahu nak..
bahwa...
Cinta ayah kepadamu sama besarnya dengan cinta bunda..
Anakku...
Jadi didirinya juga terdapat surga bagimu... Maka hormati dan sayangi ayahmu.

Thursday, October 3, 2013

Di Saat Aku Tua

Di saat aku tua, aku bukan diri ku yang dulu.  Anak ku ,maklumilah diri ku,
bersabarlah dalam menghadapi ku.
Di saat aku menumpahkan kuah sayuran di bajuku,  Di saat aku tidak lagi mengingat cara mengikat tali sepatu ku.  engkau ingatlah saat-saat bagaimana aku mengajari mu, membimbing mu untuk melakukannya di waktu dulu.
Di saat aku sudah pikun,selalu mengulang-ulang ucapan yang membosankan diri mu. bersabarlah mendengarkan ku, jangan memotong ucapan ku. Di masa kecil mu, aku juga harus mengulang-ulang terus sebuah cerita ribuan kali kepada mu agar kamu bisa tertidur lelap.
Di saat aku membutuhkan mu untuk memandikan ku , janganlah menyalahkan ku, ingatlah di waktu kamu masih kecil , bagaimana aku harus membujuk dengan berbagai cara agar kamu mau mandi.
Di saat aku bingung hal-hal baru dan bingung dengan peralatan teknologi modern ---- jangan mentertawai ku, jangan memarahi ku karena lambat tangkap penjelasan mu. Renungkanlah bahwa bagaimana dulu nya aku dengan sabar menjawab setiap pertanyaan yang kamu ajukan.
Di saat ke dua kaki ku lemah untuk berjalan.---- ulurkanlah tangan mu yang muda dan kuat untuk memapah ku, bagaikan di masa kecil mu , aku juga menuntun mu melangkah kaki untuk belajar berjalan.
Di saat aku selalu lupa topik pembicaran kita saat ngobrol -berilah sedikit waktu kepada ku untuk mengingatnya. Sebenarnya , topik pembicaraan kita tidaklah terlalu penting bagi ku, yang lebih penting adalah ada engkau berada di sisi ku untuk mendengarkan ku, menemani ku melewati sisa-sisa waktu ku. aku sudah bahagia.
Di saat engkau melihat diri ku terus semakin tua, janganlah bersedih. -maklumilah diri ku, dukunglah diri ku melewati hari-hari yang tidak tersisa banyak, seperti aku mendukung mu saat dulu engkau mulai belajar tentang kehidupan.
Aku tidak menuntut balasan apa-apa, aku hanya ingin engkau terus bersama ku dengan segala cinta kasih mu dan kesabaran mu, sehingga aku bisa tersenyum penuh syukur. Di dalam senyum ku , tertanam cinta kasih ku dan rasa bangga yang tak terhingga kepada mu.

Di kala aku tua. aku merasakan semua akan berakhir. Ternyata lahir - menjadi tua - sakit dan mati benar-benar terjadi pada ku.
aku benar-benar khawatir, aku ingin ada orang yang memberi ku harapan, memberi ku semangat untuk mejalani sisa-sisa waktu ku.
Di kala tubuh ku mulai rapuh, semangat ku pun turun dengan cepat. aku sudah tidak ingin pergi ke mana-mana. aku sudah tidak memiliki energi untuk semua itu.--- aku sebenarnya merasa sangat kesepian. jika ada engkau di sisi ku, aku sudah senang, walaupun hanya sebentar, jadi sering2 seringlah mengunjungi ku...
Di saat aku sudah tak berdaya, aku tahu bahwa tidak ada yang kekal, termasuk diri ku. aku mulai selalu memikirkan masa lalu ku. aku mulai menyesali banyak hal yg tidak aku lakukan dengan benar dulu nya.
aku ingin engkau memaafkan ku. aku ingin engkau tahu betapa berarti nya dapat menguasai diri dan bertindak yang benar semasih muda.

Sunday, September 8, 2013

Tangan Ibu

Ketika kita lapar, tangan ibu yang menyuapi. Ketika kita haus, tangan ibu yang memberi minuman. Ketika kita menangis, tangan ibu yang mengusap air mata. Ketika kita gembira, tangan ibu yang menadah syukur, memeluk kita erat dengan deraian air mata bahagia.


Ketika kita mandi, tangan ibu yang meratakan air ke seluruh badan, membersihkan segala kotoran. Ketika kita dilanda masalah, tangan ibu yang membelai duka sambil berkata, "Sabar nak, sabar ya sayang."
NAMUN,
Ketika ibu sudah tua dan kelaparan, tiada tangan dari anak yang menyuapi. Dengan tangan yang gemetar, ibu menyuapkan sendiri makanan ke mulutnya dengan linangan air mata. Ketika ibu sakit, dimana tangan anak yang ibu harapkan dapat merawat ibu yang sedang sakit?
Ketika nyawa ibu terpisah dari jasad. Ketika jenazah ibu hendak dimandikan, dimana tangan anak yang ibu harapkan untuk menyirami jenazah ibu untuk terakhir kali.
Tangan ibu, tangan ajaib. Sentuhan ibu, sentuhan kasih. Dapat membawa ke Surga Firdaus.





Sunday, December 30, 2012

Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !!





Terjadi Di Jakarta !!!, Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !!
Penumpang kereta rel listrik (krl) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, khaerunisa (3 thn).
Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa krl. Tapi di stasiun tebet, supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan setiabudi. Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya rp 10.000,- per hari. Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel ka di cikini itu.
Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, muriski saleh (6 thn), untuk memulung kardus di manggarai hingga salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00.
Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari manggarai hingga ke stasiun tebet, supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau khaerunisa sudah menghadap sang khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika krl jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang krl yang mendengar penjelasan supriono langsung berkerumun dan supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah khaerunisa. Jangan bilang keluarga supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia, ujarnya.

Wednesday, November 7, 2012

Beliau dan Gerobak Tuanya


Entah sejak kapan saya mengenal bapak ini. Tidak sepenuhnya mengenal, namun hampir tiap saya pulang dari kampus ke rumah, di kala sore hari, pasti saya berpapasan dengan beliau. Berjualan kue rangi dengan bahan bakar kayu sebagai alatnya, merupakan kebiasaan yang mungkin di lakukan beliau, baik hari libur ataupun hari biasa. Mendorong gerobak demi secercah harapan dan sepeser uang. Umurnya entah sudah berapa, pendengaran beliau pun agak sudah menurun dibandingkan sewaktu muda dulu.  

Kemanakah anak-anak beliau? saya pun kurang tahu. tapi satu topik yang akan saya angkat adalah, "kemana rasa kepedulian kita terhadap para orang berumur yang masih bekerja".

Bekerja ketika umur yang sudah semakin merayap. Punggung yang semakin membongkok. Syaraf yang semakin kendur. Amat berat saya kira.

Mengangkat topik ini adalah hal yang sebenarnya merupakan titik critical bagi kita manusia. Ketika seorang tua yang sudah berumur masih berjualan dan bekerja keras, sekali lagi,  kemana anak-anaknya?.

Mereka telah berumur lanjut. Apa yang kita kerjakan selama ini sehingga orang tua semacam ini dan orang-orang tua lainnya bisa terbengkalai. Masih diharuskan bekerja demi sesuap nasi? Menyedihkan.

Seorang anak memiliki kewajiban untuk terus membaktikan dirinya terhadap  orang tuanya. Hingga tak terbatas. Walaupun mrk telah menuju liang lahat, namun seorang anak harus senantiasa mendoakannya demi dibebaskan dari siksa kubur.

Sebuah kisah di zaman Rasulullah, 

Sang anak bertanya kepada Rasul, “Ya Rasul..apakah saya sudah berbakti kepada orang tua saya? Saya menggendong ibu saya di pundak saya berjalan dari Madinah sampai Kota Mekah untuk melaksanakan ibadah haji”.

Seketika itu pula Rasul menangis, Kemudian Rasul menjawab dengan diiringi tangisnya yang tersedu2, “Wahai Saudaraku, engkau sungguh anak yang luar biasa, engkau benar2 anak sholeh, tapi maaf…..(sambil tetap menangis) apapun yang kamu lakukan di dunia ini untuk membahagiakan orang tuamu…. apapun usaha kerasmu untuk menyenangkan orang tuamu …. tidak akan pernah bisa membalas jasa orang tuamu yang telah membesarkanmu”
 
Sumber  : this
------------------------------------------------------xXx---------------------------------------------------- 
 
Ketika umur mendekati lanjut usia, 
Seorang tua bermandikan keringat di lapangan kerja,
sementara sang anak bermanja-manja, 
dalam lautan harta tak terhingga.

Semoga mencerahkan ya.

Monday, October 29, 2012

Aku dan Ibu-sebuah surat-






Bismillah .. Aku mempunyai pasangan hidup ...
Saat senang aku cari pasanganku ..
Saat sedih aku cari ibu ....


Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku ..
Saat gagal aku ceritakan pada ibu ...

Saat bahagia aku peluk erat pasanganku ..
Saat sedih aku peluk erat ibuku ...

Saat liburan aku bawa pasanganku ..
Saat aku sibuk anak dianter ke rumah ibu ...

Saat sambut valentine slalu beri hadiah pada pasangan ..
Saat sambut hari ibu aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu" ...

Selalu aku ingat pasanganku ..
Selalu ibu yg ingat aku ...

Setiap saat aku akan telpon pasanganku ..
Kalau inget saja aku akan telpon ibu ...

Selalu aku belikan hadiah untuk pasanganku ..
Entah kapan aku akan belikan hadiah untuk ibu ...

Renungkanlah ..:

"Kalau kau sudah gajian saat berkerja ...
sudahkah kau kirim uang untuk ibu ..?

Ibu tidak minta banyak... lima puluh sebulan pun "cukuplah".
Berderai air mata jika kita mendengarnya ........

Tapi kalau ibu sudah tiada ..........
Ibu aku RINDU....... AKU RIIINDDUU ... SANGAT RINDU ....

Berapa banyak yang sanggup menyuapkan ibunya dikala beliau sakit ....?
berapa banyak yang sanggup melap muntah ibunya .....?

berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya .....?
berapa banyak yang sanggup. membuang nanah dan membersihkan luka ibunya ..?

berapa banyak yang sanggup cuti kerja untuk menjaga ibunya yg sedang sakit ...?
Dan akhir sekali berapa banyak yang menshalati JENAZAH ibunya ......?

Saturday, October 8, 2011

Surat dari orang tua terhadap anaknya

Anakku,


Ketika aku tua, aku harap engkau mengerti dan bersabar menghadapi ku,


Ketika aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup ke meja karena pandanganku yang mengabur, kuharap engkau tidak memekik kearahku.


Orang tua sangat sensitive…


selalu merasa sedih ketika engkau memekik.



Saat pendengaranku memburuk dan tidak dapat mendengar apa yang kau katakan, kuharap engkau tidak memanggilku “Tuli!”.


Tolong ulangi apa yang engkau katakan atau tuliskan diatas secarik kertas.



Maafkan aku anakku,


aku mulai tua.


Lututku mulai ringkih, kuharap engkau memiliki kesabaran untuk membantuku bangkit.


Seperti saat aku menolongmu di waktu kecil, saat belajar untuk berjalan.



Tolong bersabarlah,


Saat aku merengek berulang kali seperti rekaman rusak, kuharap kau tetap mendengarkanku.


Tolong jangan membuat itu sebagai lelucon atau muak mendengarkanku.


Apa engkau mengingat saat kau kecil dan menginginkan balon?.


Kau merengek terus menerus sampai kau mendapatkan apa yang aku inginkan.



Maafkan aku karena bauku,


aku berbau seperti orang tua…



Jangan paksa aku untuk mandi, tubuhku lemah.


Orang tua cepat sakit ketika mereka kedinginan,


kuharap aku tidak menjengkelkanmu.


Apa engkau ingat saat kau kecil?.


Aku mengejarmu karena engkau tidak mau mandi.



Kuharap engkau bersabar denganku, ketika aku lekas marah.


Ini bagian dari masa tua, kau akan mengerti ketika saatnya tiba.



Dan jika engkau punya waktu luang, kuharap kita bisa saling berbincang, walau hanya beberapa menit.


Aku selalu sendirian sepanjang waktu dan tidak ada seorang pun untuk diajak bicara.


Aku tahu engkau sibuk kerja.


Walau engkau tidak tertarik dengan cerita ku, tolong luangkan waktu untukku.


Apa kau ingat ketika kau kecil?.


Aku selalu mendengarkan cerita mu tentang boneka teddy mu.



Ketika saatnya tiba, dan aku sakit sehingga harus berbaring di atas tempat tidur.


Kuharap kau memiliki kesabaran untuk merawatku.



Maafkan aku,


Jika aku secara tidak sengaja membuat kekacauan.


Kuharap kau memiliki kesabaran untuk merawatku di saat akhir-akhir hidupku.



Aku tidak akan bertahan lama.


Ketika saatnya kematian datang menjemputku, kuharap kau menggengam tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian.



Dan jangan khawatir,


Ketika aku bertemu sang pencipta…


Aku akan berbisik kepadaNya untuk merakhmatimu.


Karena engkau menyayangi ayah dan ibumu.


Terima kasih untuk perhatianmu,


Kami menyayangimu.


Dengan penuh cinta,


Ayah dan ibu


*****


Sayangilah kedua orang tua kita. Semoga semua amal kita saat merawat mereka berdua diterima Allah swt.


“mereka tidak butuh apa-apa, tidak uangmu, makananmu, ataupun anak-anakmu. Mereka berbuat bukan untuk dipuji. Yang mereka inginkan hanyalah melihatmu seperti apa yang kamu inginkan. Walaupun mereka selalu marah padamu, janganlah kamu membalas dengan perkataan yang menyakitkan. Ketika kau kecil, mereka selalu membelikan apa yang kamu inginkan, ketika remaja,mereka mendukungmu untuk bersekolah di mana yang kamu suka, dan disaat dewasa kamu malah meninggalkan mereka. Hidup mereka untukmu, dan apakah hidupmu untuk mereka?”



Surat dari orang tua terhadap anaknya

Anakku,


Ketika aku tua, aku harap engkau mengerti dan bersabar menghadapi ku,


Ketika aku memecahkan piring, atau menumpahkan sup ke meja karena pandanganku yang mengabur, kuharap engkau tidak memekik kearahku.


Orang tua sangat sensitive…


selalu merasa sedih ketika engkau memekik.



Saat pendengaranku memburuk dan tidak dapat mendengar apa yang kau katakan, kuharap engkau tidak memanggilku “Tuli!”.


Tolong ulangi apa yang engkau katakan atau tuliskan diatas secarik kertas.



Maafkan aku anakku,


aku mulai tua.


Lututku mulai ringkih, kuharap engkau memiliki kesabaran untuk membantuku bangkit.


Seperti saat aku menolongmu di waktu kecil, saat belajar untuk berjalan.



Tolong bersabarlah,


Saat aku merengek berulang kali seperti rekaman rusak, kuharap kau tetap mendengarkanku.


Tolong jangan membuat itu sebagai lelucon atau muak mendengarkanku.


Apa engkau mengingat saat kau kecil dan menginginkan balon?.


Kau merengek terus menerus sampai kau mendapatkan apa yang aku inginkan.



Maafkan aku karena bauku,


aku berbau seperti orang tua…



Jangan paksa aku untuk mandi, tubuhku lemah.


Orang tua cepat sakit ketika mereka kedinginan,


kuharap aku tidak menjengkelkanmu.


Apa engkau ingat saat kau kecil?.


Aku mengejarmu karena engkau tidak mau mandi.



Kuharap engkau bersabar denganku, ketika aku lekas marah.


Ini bagian dari masa tua, kau akan mengerti ketika saatnya tiba.



Dan jika engkau punya waktu luang, kuharap kita bisa saling berbincang, walau hanya beberapa menit.


Aku selalu sendirian sepanjang waktu dan tidak ada seorang pun untuk diajak bicara.


Aku tahu engkau sibuk kerja.


Walau engkau tidak tertarik dengan cerita ku, tolong luangkan waktu untukku.


Apa kau ingat ketika kau kecil?.


Aku selalu mendengarkan cerita mu tentang boneka teddy mu.



Ketika saatnya tiba, dan aku sakit sehingga harus berbaring di atas tempat tidur.


Kuharap kau memiliki kesabaran untuk merawatku.



Maafkan aku,


Jika aku secara tidak sengaja membuat kekacauan.


Kuharap kau memiliki kesabaran untuk merawatku di saat akhir-akhir hidupku.



Aku tidak akan bertahan lama.


Ketika saatnya kematian datang menjemputku, kuharap kau menggengam tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian.



Dan jangan khawatir,


Ketika aku bertemu sang pencipta…


Aku akan berbisik kepadaNya untuk merakhmatimu.


Karena engkau menyayangi ayah dan ibumu.


Terima kasih untuk perhatianmu,


Kami menyayangimu.


Dengan penuh cinta,


Ayah dan ibu


*****


Sayangilah kedua orang tua kita. Semoga semua amal kita saat merawat mereka berdua diterima Allah swt.


“mereka tidak butuh apa-apa, tidak uangmu, makananmu, ataupun anak-anakmu. Mereka berbuat bukan untuk dipuji. Yang mereka inginkan hanyalah melihatmu seperti apa yang kamu inginkan. Walaupun mereka selalu marah padamu, janganlah kamu membalas dengan perkataan yang menyakitkan. Ketika kau kecil, mereka selalu membelikan apa yang kamu inginkan, ketika remaja,mereka mendukungmu untuk bersekolah di mana yang kamu suka, dan disaat dewasa kamu malah meninggalkan mereka. Hidup mereka untukmu, dan apakah hidupmu untuk mereka?”