Ternyata presiden Indonesia itu selalu ada hubungan dengan perempuan lho...
Nggak percaya?
Baca aja...
Presiden pertama : Penakluk perempuan
Presiden kedua : setia kpd perempuan
Presiden ketiga : Tak punya anak perempuan
Presiden keempat : tak lihat perempuan
Presiden kelima : memang perempuan
Presiden keenam : hormat kpd perempuan
Presiden ketujuh : terserah IBUnya PUAN
Setuju aja deh sama komisaris presiden
Showing posts with label pdip. Show all posts
Showing posts with label pdip. Show all posts
Friday, January 16, 2015
Tuesday, November 11, 2014
Kenapa Selalu PKS?
Dua Kisah di Sosmed yang Gak Ada Hubungan Sama PKS, tapi..
2 foto ini adalah contoh yg baru-baru ini saya temuin di sosmed.. dan saya lihat sendiri bahasannya. Yang lebih menarik bukan fotonya, tapi adalah arah pembahasannya..
Yang pertama foto seorang tokoh negara yg lagi minum bir, di komen-komen malah ketika ada seorang yg menyalahkan kelakuannya malah dihujat dgn argumen "kebebasan,klarifikasi,bla,bla". (Tapi kalo kasus yg lain gak pernah tabayyun,hehe). Malah yg kritik ke peminum itu diklaim sbg orang PKS, atau dibilang sok suci kayak PKS aje... hohoho..
Foto kedua, seorang yg tadinya gak ngetop, tapi karena bikin video yg mengungkap kristenisasi terselubung di car free day sekarang jadi terkenal... nah ternyata gara2 aksi beraninya itu, akun FBnya sampe di hack, sampe akun2 anonim bikin grafis2 hinaan, dianggep penyebar kebencian,dll.. dan lucunya ujung2nya para haters yg bergentayangan itu jadi bikin kesimpulan dia pemecah belah bangsa krn ada foto dia pake baju PKS,,,hihihihi...
yaah, lucunya arah pembahasan kali ini ujung-ujungnya PKS.. padahal keduanya gak lagi ngomongin PKS. Sering bgt model bahasan kyk gini, di status saya juga sering. Krn bagi umat jokowi, para haters, misionaris, JIL, dkk itu tau kok sebenernya siapa yg ada dibalik ajakan kebaikan dan perlawanan terhadap maksiat.. yah PKS. juga gerakan Islam lainnya. tapi mereka gak mau mengakuinya dgn memberi klaim yg macem-macem.
Malah dengan sikap mengancam, berkata kasar, bikin grafis fitnah, panik takut ketauan kedok misionaris, panik ketauan idolanya pencitraan ngibul,dll justru menunjukkan mereka merasa di pihak yg salah.. betul juga kata bang Jonru, mereka bikin klaim sendiri "kami di pihak yg benar" malah tanpa sadar menunjukkan mereka sebenernya udah dicap pihak yg salah..hehehe..
Karena yang penting adalah jadi orang BENAR, bukan dianggap orang lain sebagai orang BENAR...
Sumber : here
====================================================================
Yah begitulah. Kadang suka bingung untuk masalah ini. Video yang dibilang upaya kristenisasi dibilang fitnah fitnah. Jelas banget juga itu. Gw faham banget kalo itu memang upaya kaum salibis untuk menarik perhatian (bahasa yang sering dipake : misionaris).
Belum nonton video nya? here
Bukan gw mau ngebanggain atau apa, tapi ketauan dari sinar wajah orang yang di video, jelas banget keliatan beda, orang yang bener muslim dan non-muslim. Sinar wajahnya nggak keliatan ada bekas wudhu nya om :p. Maaf ye.
Kedengkian sudah mengakar dalam jiwa, hingga tidak dapat disembuhkan.
Sehingga ya begini, hasilnya seperti di artikel diatas. Nggak ada hubungan, dikait-kaitkan.
Nggak puas kali ya kalau faham sesat nya di "fahami" sama manusia lainnya.
Gw selalu berharap, mrk mau membaca kisah-kisah mualaf, yang berpindah ke Islam.Islam yang kaffah, yang benar adanya. Sehingga akan terlihat perbedaannya, akan terasa keharuan bahwa apa yang selama ini Islam tunjukkan, adalah kebenaran.
Ah sudahlah,
mungkin ini sudah akhir dunia.
Yang terpenting adalah, jangan sampai diri pribadi termasuk dalam golongan yang menyesal di kemudian hari di akhirat.
Seperti yang selalu gw tulis, hidup adalah pilihan, dan gw nggak mau termasuk orang yang salah memilih.
Labels:
berita,
catatan singkat,
Indonesia,
jokowi,
manusia,
masyarakat,
pdip,
PKS
Tuesday, September 30, 2014
Lalu Buat Apa Ikut Voting?
LALU BUAT APA IKUT VOTING ?
Ketika Prabowo kalah suara dalam pemilu dan menggugat ke MK , orang beramai2 mengolok2 dan membullynya, seolah2 Prabowo dan pendukungnya tidak legowo dengan kekalahan ini. Padahal langkah gugatan yang dilakukan Prabowo dan pendukungnya sangat bisa diterima oleh akal sehat dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. Begitu luasnya wilayah Indonesia membuat kemungkinan kecurangan atau kesalahan hitung terjadi di mana-mana. Wajar, mereka menggugat.
Bandingkan dengan yang terjadi saat ini.
Proses Sidang Paripurna DPR untuk menentukan Pilkada Langsung atau Tidak Langsung berlangsung di satu ruangan yang bisa ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia. Jutaan mata menjadi saksi. Semua pihak telah sepakat dengan aturan main.
Artinya, semuanya sepakat untuk menerima apapun hasil akhir dri voting ini. Baik pihak yang mendukung Pilkada langsung maupun yang mendukung Pilkada Tidak Langsung.
Lalu terjadilah situasi yang mengejutkan.
Ternyata jumlah suara anggota DPR yang mendukung Pilkada Tidak Langsung jauh lebih banyak. Dari 361 anggota DPR, 135 mendukung Pilkada Langsung dan 226 mendukung pilkada lewat DPRD alias tak langsung.
Lalu hebohlah para pendukung pilkada langsung yang sebagian besar adalah para pendukung partai-partai pengusung Jokowi-JK.
Dunia maya, khususnya media sosial, langsung dihujani berbagai ungkapan kekecewaan, mulai dari yang masih dalam kategori wajar sampai yang berupa hujatan, kata-kata kotor, makian, nama2 hewan, bahkan pengkriminalan dan hinaan yang amat melecehkan kepada sesama anak bangsa, termasuk kepada simbol negara kita, Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono.
Ini amat mengherankan dan konyol, menurut saya,
Bukankah proses voting berlangsung sangat terbuka ? Semua bisa melihat proses yang terjadi. Dan sekali lagi, semua semestinya juga sudah tahu konsekwensi yang harus diterima ketika suara terbanyak terpilih dalam sebuah sistem demokrasi.
Lalu mengapa tiba-tiba harus ramai-ramai tidak terima dengan hasil dari sebuah proses demokrasi yang selalu akan dimenangkan oleh suara terbanyak ?
Bukankah itu pilihan mereka sendiri ?
Mengapa harus menganggap kemenangan pro pilkada tak langsung ini sebagai sebuah perampokan, pembunuhan terhadap demokrasi, pengkhianatan kepada rakyat, keputusan tidak waras, keputusan bodoh dan berbagai hinaan serta cacian yang tak pantas terhadap anggota DPR dan para pendukung pro pilkada tak langsung ?
Saya jadi bingung, lalu untuk apa mereka kemarin menyetujui dan mengikuti voting di sidang paripurna DPR ?
Bangsa ini sedang sakit parah.
Kita semakin tak dapat berpikir jernih lagi. Pekerjaan kita tiap hari di medsos mengobral caci maki dan membully satu sama lain. Kita lupa dengan pendidikan tinggi yang sudah kita raih. Kita lupa dengan jabatan kita di kantor yang dihormati. Kita lupa profesi kita yang terhormat. Dan terutama sekali kita lupa dengan ajaran agama yang selama ini diajarkan kepada kita.
Kita seolah tak pernah mendapatkan itu semua.
Saya kuatir, jangan-jangan anak SD jauh lebih baik, santun dan cerdas untuk soal ini.
Sumber : here
Ketika Prabowo kalah suara dalam pemilu dan menggugat ke MK , orang beramai2 mengolok2 dan membullynya, seolah2 Prabowo dan pendukungnya tidak legowo dengan kekalahan ini. Padahal langkah gugatan yang dilakukan Prabowo dan pendukungnya sangat bisa diterima oleh akal sehat dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. Begitu luasnya wilayah Indonesia membuat kemungkinan kecurangan atau kesalahan hitung terjadi di mana-mana. Wajar, mereka menggugat.
Bandingkan dengan yang terjadi saat ini.
Proses Sidang Paripurna DPR untuk menentukan Pilkada Langsung atau Tidak Langsung berlangsung di satu ruangan yang bisa ditonton oleh seluruh rakyat Indonesia. Jutaan mata menjadi saksi. Semua pihak telah sepakat dengan aturan main.
Artinya, semuanya sepakat untuk menerima apapun hasil akhir dri voting ini. Baik pihak yang mendukung Pilkada langsung maupun yang mendukung Pilkada Tidak Langsung.
Lalu terjadilah situasi yang mengejutkan.
Ternyata jumlah suara anggota DPR yang mendukung Pilkada Tidak Langsung jauh lebih banyak. Dari 361 anggota DPR, 135 mendukung Pilkada Langsung dan 226 mendukung pilkada lewat DPRD alias tak langsung.
Lalu hebohlah para pendukung pilkada langsung yang sebagian besar adalah para pendukung partai-partai pengusung Jokowi-JK.
Dunia maya, khususnya media sosial, langsung dihujani berbagai ungkapan kekecewaan, mulai dari yang masih dalam kategori wajar sampai yang berupa hujatan, kata-kata kotor, makian, nama2 hewan, bahkan pengkriminalan dan hinaan yang amat melecehkan kepada sesama anak bangsa, termasuk kepada simbol negara kita, Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono.
Ini amat mengherankan dan konyol, menurut saya,
Bukankah proses voting berlangsung sangat terbuka ? Semua bisa melihat proses yang terjadi. Dan sekali lagi, semua semestinya juga sudah tahu konsekwensi yang harus diterima ketika suara terbanyak terpilih dalam sebuah sistem demokrasi.
Lalu mengapa tiba-tiba harus ramai-ramai tidak terima dengan hasil dari sebuah proses demokrasi yang selalu akan dimenangkan oleh suara terbanyak ?
Bukankah itu pilihan mereka sendiri ?
Mengapa harus menganggap kemenangan pro pilkada tak langsung ini sebagai sebuah perampokan, pembunuhan terhadap demokrasi, pengkhianatan kepada rakyat, keputusan tidak waras, keputusan bodoh dan berbagai hinaan serta cacian yang tak pantas terhadap anggota DPR dan para pendukung pro pilkada tak langsung ?
Saya jadi bingung, lalu untuk apa mereka kemarin menyetujui dan mengikuti voting di sidang paripurna DPR ?
Bangsa ini sedang sakit parah.
Kita semakin tak dapat berpikir jernih lagi. Pekerjaan kita tiap hari di medsos mengobral caci maki dan membully satu sama lain. Kita lupa dengan pendidikan tinggi yang sudah kita raih. Kita lupa dengan jabatan kita di kantor yang dihormati. Kita lupa profesi kita yang terhormat. Dan terutama sekali kita lupa dengan ajaran agama yang selama ini diajarkan kepada kita.
Kita seolah tak pernah mendapatkan itu semua.
Saya kuatir, jangan-jangan anak SD jauh lebih baik, santun dan cerdas untuk soal ini.
Sumber : here
Friday, September 26, 2014
Legowo Menerima Pilkada Tak Langsung
Legowo Menerima Pilkada Tak Langsung
Saya sih berusaha legowo dgn kembalinya pemilihan Pilkada ke DPRD toh selama ini jg sebenarnya saya pribadi ga merasa ada perbedaan berarti antara kepala daerah yg dipimpin langsung dgn dipilih DPRD, kalau dibilang lbh demokratis, nyatanya hasil dari demokrasi itu jg memberikan banyak kerugian bagi negara dan masyarakat. Setidaknya ada beberapa hal positif yg bisa kt dapatkan jikalau mau sedikit legowo dan berbaik sangka dgn putusan sidang paripurna DPR kemarin yang memenangkan kubu koalisi merah putih.
Beberapa hal positif yang bisa kita petik antara lain:
1. Ga perlu ada serangan fajar, udah tau dosa nyatanya diterima jg sama masarakat. Itung2 ngilangin potensi dosa yg bisa didapat rakyat akibat ambisi penguasa. berbuat dosa kok ajak2.. Betul??
2. Ga perlu ada alat peraga kampanye, baliho, spanduk, poster, yang mengotori pemandangan dan lingkungan. Sebel aja pagar rumah gue tiap pilkadal ditempel2 poster sama tim kampanye calon.
3. Ga perlu ada pengerahan massa yang bikin ilfeel, sok jagoan di jalan geber2 kendaraan. Belum kalau bikin rusuh, ngerusak fasilitas umum, ngerusak taman, mukulin orang dijalan, dll.
4. Hemat biaya anggaran. Biaya penyelenggaraan pilkada itu besar sekali, bahkan ga semua daerah sanggup menyelenggarakannya dan harus dibantu APBN. Nah itu uang siapa? ya uang rakyat toh? klo satu propinsi aja butuh sekitar 500-1000 milyar bt pilkada bisa diitung brp total biaya keseluruhan pilkada di negara Indonesia? 20 triliun lebih!
5. Mengurangi dominasi kepemilikan aset bangsa dari asing dan para cukong. Serius loh, klo nyabup dan nyagub itu modalnya puluhan milyar. Yah segelintir aja yg mungkin ga modal, krn udh ada nama ato prestasi walo ada sih yg pencitraan. Dapat duit dari mana tu calon modal puluhan milyar? pastinya ada sponsor donk? disini yg berbahaya, byk aset kita akhirnya dikuasai asing dan cukong2 yg menjadi sponsor tu kepala daerah. Ga mungkin calon terpilih bs menolak kemauan sponsor, bs di cap durhaka ntr.
6. Menekan korupsi, bisa anda hitung sendiri berapa banyak kepala daerah tersangkut korupsi semenjak pilkada langsung. Kenapa gitu? slh satunya krn modal mereka nyalon yang begitu besar, sementara gaji gub/bupati itu kecil akhirya cari seseran bt balik modal donk.
7. Tidak mengacaukan sistem pemerintahan daerah. Tiap ganti bupati / gubernur, kepala dinas juga ikutan diganti. Jadi tu kepala dinas diganti sama orang2 baru yg dibawa gubernur/bupati baru yg dianggap loyal sama mereka. kadang kepala dinas diambil dari org yg sebenarnya tak kompeten di bidang tersebut tp dipaksakan krn dekat dgn gubernur/bupati terpilih.
8. Mempererat persaudaraan, ada loh gara2 beda pilihan jadi berantem sama saudara, ga teguran selama bertahun lantaran pilihan mereka beda. Mending klo cm ga teguran, nah klo akhirnya jotos2n, bakar2an dan tawuran antar kampung apa ga repot.
9. Mencegah dinasti kepemimpinan, bagi warga banten tentu dah bukan rahasia lg kalau beberapa daerah di propinsi tersebut di kuasai oleh dinasti ratu atut. Dengan pengaruh dan uang mereka mudah saja masyarakat kecil dibujuk dan dirayu utk memilih mereka yang punya duit dan kuasa.
10. Mencegah rayat jadi korban PHP. para calon kepala daerah nie klo pas kampanye janjinya ini dan itu.. bla blaa.. tapi klo udah kepilih banyak lupanya. Boro2 mikirin rakyat, yg ada akhirnya bgaimana cara buat balikin modal kampanye dan ngurusin kepentingan cukong2 yg jd sponsor mereka nyalon.
Yang terakhir dan paling penting dgn adanya pilkada tak langsung kerjaan dokter jiwa jadi lebih ringan. Kasihan juga tu calon yang kalah udah habis puluhan milyar jadi stress bin depresi. Nah kalo bunuh diri begimane? apa ga kasihan anak istrinya.
Intinya marilah kita belajar legowo. Bukankah mereka yang kalah dalam sdang paripurna selama ini juga sering menuntuk para pendukung koalisi merah putih utk legowo ketika capres mereka kalah? kalau dibilang ini awal kematian demokrasi atau kembalinya kita ke jaman orba. Ternyata ga sepenuhnya benar kok, ga sepenuhnya rakyat juga menginginkan pilkada langsung seperti apa yang dibilang oleh partai pendukung pilkada langsung dan lembaga survey yang mendukung mereka.
Jangan bilang tu lembaga survey yg menyebutkan "bahwa masyarakat kita lebih banyak mendukung pilkada langsung" emg bener semua rakyat indonesia udah disurvey? atau cm disampling doank? yakin ga ada manipulasi data? atau jangan2 lantaran mereka takut ga dapat pekerjaan gara2 besok2 lagi ga akan ada calon gubernur atau bupati yang memakai jasa konsultasn politik mereka yang biayanya mencapai milyaran rupiah. Hahaha... #salamgigitjari deh...
salam sehat berpolitik,,
dr. Wahyu 3asmara (DrW)
Sumber : here
Saya sih berusaha legowo dgn kembalinya pemilihan Pilkada ke DPRD toh selama ini jg sebenarnya saya pribadi ga merasa ada perbedaan berarti antara kepala daerah yg dipimpin langsung dgn dipilih DPRD, kalau dibilang lbh demokratis, nyatanya hasil dari demokrasi itu jg memberikan banyak kerugian bagi negara dan masyarakat. Setidaknya ada beberapa hal positif yg bisa kt dapatkan jikalau mau sedikit legowo dan berbaik sangka dgn putusan sidang paripurna DPR kemarin yang memenangkan kubu koalisi merah putih.
Beberapa hal positif yang bisa kita petik antara lain:
1. Ga perlu ada serangan fajar, udah tau dosa nyatanya diterima jg sama masarakat. Itung2 ngilangin potensi dosa yg bisa didapat rakyat akibat ambisi penguasa. berbuat dosa kok ajak2.. Betul??
2. Ga perlu ada alat peraga kampanye, baliho, spanduk, poster, yang mengotori pemandangan dan lingkungan. Sebel aja pagar rumah gue tiap pilkadal ditempel2 poster sama tim kampanye calon.
3. Ga perlu ada pengerahan massa yang bikin ilfeel, sok jagoan di jalan geber2 kendaraan. Belum kalau bikin rusuh, ngerusak fasilitas umum, ngerusak taman, mukulin orang dijalan, dll.
4. Hemat biaya anggaran. Biaya penyelenggaraan pilkada itu besar sekali, bahkan ga semua daerah sanggup menyelenggarakannya dan harus dibantu APBN. Nah itu uang siapa? ya uang rakyat toh? klo satu propinsi aja butuh sekitar 500-1000 milyar bt pilkada bisa diitung brp total biaya keseluruhan pilkada di negara Indonesia? 20 triliun lebih!
5. Mengurangi dominasi kepemilikan aset bangsa dari asing dan para cukong. Serius loh, klo nyabup dan nyagub itu modalnya puluhan milyar. Yah segelintir aja yg mungkin ga modal, krn udh ada nama ato prestasi walo ada sih yg pencitraan. Dapat duit dari mana tu calon modal puluhan milyar? pastinya ada sponsor donk? disini yg berbahaya, byk aset kita akhirnya dikuasai asing dan cukong2 yg menjadi sponsor tu kepala daerah. Ga mungkin calon terpilih bs menolak kemauan sponsor, bs di cap durhaka ntr.
6. Menekan korupsi, bisa anda hitung sendiri berapa banyak kepala daerah tersangkut korupsi semenjak pilkada langsung. Kenapa gitu? slh satunya krn modal mereka nyalon yang begitu besar, sementara gaji gub/bupati itu kecil akhirya cari seseran bt balik modal donk.
7. Tidak mengacaukan sistem pemerintahan daerah. Tiap ganti bupati / gubernur, kepala dinas juga ikutan diganti. Jadi tu kepala dinas diganti sama orang2 baru yg dibawa gubernur/bupati baru yg dianggap loyal sama mereka. kadang kepala dinas diambil dari org yg sebenarnya tak kompeten di bidang tersebut tp dipaksakan krn dekat dgn gubernur/bupati terpilih.
8. Mempererat persaudaraan, ada loh gara2 beda pilihan jadi berantem sama saudara, ga teguran selama bertahun lantaran pilihan mereka beda. Mending klo cm ga teguran, nah klo akhirnya jotos2n, bakar2an dan tawuran antar kampung apa ga repot.
9. Mencegah dinasti kepemimpinan, bagi warga banten tentu dah bukan rahasia lg kalau beberapa daerah di propinsi tersebut di kuasai oleh dinasti ratu atut. Dengan pengaruh dan uang mereka mudah saja masyarakat kecil dibujuk dan dirayu utk memilih mereka yang punya duit dan kuasa.
10. Mencegah rayat jadi korban PHP. para calon kepala daerah nie klo pas kampanye janjinya ini dan itu.. bla blaa.. tapi klo udah kepilih banyak lupanya. Boro2 mikirin rakyat, yg ada akhirnya bgaimana cara buat balikin modal kampanye dan ngurusin kepentingan cukong2 yg jd sponsor mereka nyalon.
Yang terakhir dan paling penting dgn adanya pilkada tak langsung kerjaan dokter jiwa jadi lebih ringan. Kasihan juga tu calon yang kalah udah habis puluhan milyar jadi stress bin depresi. Nah kalo bunuh diri begimane? apa ga kasihan anak istrinya.
Intinya marilah kita belajar legowo. Bukankah mereka yang kalah dalam sdang paripurna selama ini juga sering menuntuk para pendukung koalisi merah putih utk legowo ketika capres mereka kalah? kalau dibilang ini awal kematian demokrasi atau kembalinya kita ke jaman orba. Ternyata ga sepenuhnya benar kok, ga sepenuhnya rakyat juga menginginkan pilkada langsung seperti apa yang dibilang oleh partai pendukung pilkada langsung dan lembaga survey yang mendukung mereka.
Jangan bilang tu lembaga survey yg menyebutkan "bahwa masyarakat kita lebih banyak mendukung pilkada langsung" emg bener semua rakyat indonesia udah disurvey? atau cm disampling doank? yakin ga ada manipulasi data? atau jangan2 lantaran mereka takut ga dapat pekerjaan gara2 besok2 lagi ga akan ada calon gubernur atau bupati yang memakai jasa konsultasn politik mereka yang biayanya mencapai milyaran rupiah. Hahaha... #salamgigitjari deh...
salam sehat berpolitik,,
dr. Wahyu 3asmara (DrW)
Sumber : here
Antara Pilkada Langsung dan Tidak Langsung
Repot amat sih pendukung partai banteng.
gw liat di medsos banyak amat tulisan dan dukungan-dukungan kosong.
Kenapa nggak dijalanin dulu?
Hmm, tapi saat ini gw mau nulis tentang perbandingan pilkada langsung dan tidak langsung.
Isi opini gw...
========================================================================
Ane sih fine fine aja toh.
Gw rasa tiap opsi ada mudharat dan kelebihan masing-masing;
kalo mau pilkada langsung, rakyat yang memutuskan secara langsung, pemimpin pilihan rakyat.
kalo mau pilkada nggak langsung, dpr yang memutuskan. Memang ini menghapus "pilihan" dari rakyat sendiri, tapi gw mendukung ini krn gw muak ngeliat dinasti politik macam si emak atut dan kroni kroni mirip dia.
Toh banyak rakyat indonesia yang bodoh dan nggak berpendidikan; hingga pemimpin yang "dipilih" sendiri aja ngerusak wilayah yang ia pimpin.
Ngga usa buta kenyataan.
Ingat aja, kalo lo milih pemimpin, lalu pemimpin itu bertindak yang merugikan apa yang ia pimpin, secara nggak langsung lo dapat dosanya. Yah bebas sih, toh nggak semua Islam kan ya. Kalau kek gt, mending gw nggak milih, biarkan dpr yang menanggung dosa kalau pemimpin yang mrk pilih berbuat salah.
Gw jadi inget zaman rasul juga, khalifah dipilih berdasarkan musyawarah para shahabat. Yang notabene para sahabat nabi itu terpercaya.
Lo bilang DPR nggak terpercaya?
Lah, yang milih mrk biar nempati bangku dpr siapa pas pemilu? Lo lo juga kan?
Mikir lah...
Ngga usa belaga bego dengan hal-hal di depan lo..
gw liat di medsos banyak amat tulisan dan dukungan-dukungan kosong.
Kenapa nggak dijalanin dulu?
Hmm, tapi saat ini gw mau nulis tentang perbandingan pilkada langsung dan tidak langsung.
Isi opini gw...
========================================================================
Ane sih fine fine aja toh.
Gw rasa tiap opsi ada mudharat dan kelebihan masing-masing;
kalo mau pilkada langsung, rakyat yang memutuskan secara langsung, pemimpin pilihan rakyat.
kalo mau pilkada nggak langsung, dpr yang memutuskan. Memang ini menghapus "pilihan" dari rakyat sendiri, tapi gw mendukung ini krn gw muak ngeliat dinasti politik macam si emak atut dan kroni kroni mirip dia.
Toh banyak rakyat indonesia yang bodoh dan nggak berpendidikan; hingga pemimpin yang "dipilih" sendiri aja ngerusak wilayah yang ia pimpin.
Ngga usa buta kenyataan.
Ingat aja, kalo lo milih pemimpin, lalu pemimpin itu bertindak yang merugikan apa yang ia pimpin, secara nggak langsung lo dapat dosanya. Yah bebas sih, toh nggak semua Islam kan ya. Kalau kek gt, mending gw nggak milih, biarkan dpr yang menanggung dosa kalau pemimpin yang mrk pilih berbuat salah.
Gw jadi inget zaman rasul juga, khalifah dipilih berdasarkan musyawarah para shahabat. Yang notabene para sahabat nabi itu terpercaya.
Lo bilang DPR nggak terpercaya?
Lah, yang milih mrk biar nempati bangku dpr siapa pas pemilu? Lo lo juga kan?
Mikir lah...
Ngga usa belaga bego dengan hal-hal di depan lo..
Thursday, July 17, 2014
Terima kasih Jokowi dan Selamat kepada anda Joko Widodo
Ini adalah bentuk ucapan terima kasih saya, kepada bapak Joko Widodo.
Saya sangat sangat berterima kasih.
Terima kasih Jokowi
Terima kasih Joko Widodo
1. Terima kasih Joko Widodo, berkat blusukan dan pencitraan anda, korupsi terbesar dari salah satu partai yang mengusung anda tidak muncul di permukaan. Hingga yang dibahas adalah sapi, masjid, bocor dan bocor. Nice!
2. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda, "wayang" anda gembira. Seperti nya nanti jika anda benar terpilih menjadi presiden 2014-2019, "wayang" anda semakin senang. Nice
3. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda umat muslim Indonesia terpecah belah. Ya gw sadar untuk nasrani, syiah, dan golongan lain gw nggak terlalu perduli. Tapi jujur aja, sampai ada "santri" yang menimbulkan kerusuhan dengan serangan ke salah satu kantor partai dari golongan bapak prabowo.
Pesantren Jokowi
4. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda, bahkan kaum ulama tidak mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat. Padahal pilihan ulama adalah yang telah mereka pikirkan dengan baik untuk umat. Saya sangat berterima kasih.
5. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda, jalan untuk kaum yang menentang agama anda (saya kurang faham anda non-muslim atau bukan islam, tapi ya sudahlah) akan terbuka lebar-selebarnya.
Tulisan yang bagus : here
Saya sangat sangat berterima kasih.
Terima kasih Jokowi
Terima kasih Joko Widodo
1. Terima kasih Joko Widodo, berkat blusukan dan pencitraan anda, korupsi terbesar dari salah satu partai yang mengusung anda tidak muncul di permukaan. Hingga yang dibahas adalah sapi, masjid, bocor dan bocor. Nice!
2. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda, "wayang" anda gembira. Seperti nya nanti jika anda benar terpilih menjadi presiden 2014-2019, "wayang" anda semakin senang. Nice
3. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda umat muslim Indonesia terpecah belah. Ya gw sadar untuk nasrani, syiah, dan golongan lain gw nggak terlalu perduli. Tapi jujur aja, sampai ada "santri" yang menimbulkan kerusuhan dengan serangan ke salah satu kantor partai dari golongan bapak prabowo.
Pesantren Jokowi
4. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda, bahkan kaum ulama tidak mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat. Padahal pilihan ulama adalah yang telah mereka pikirkan dengan baik untuk umat. Saya sangat berterima kasih.
5. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda, jalan untuk kaum yang menentang agama anda (saya kurang faham anda non-muslim atau bukan islam, tapi ya sudahlah) akan terbuka lebar-selebarnya.
6. Terima kasih Joko Widodo, berkat anda, generasi muda Islam di Indonesia bahkan tidak faham tentang ajaran agamanya.
Lilin palestina? Penyusupan Ideologi kaum nasrani? Misa? karena jujur saya lihat ada yang beragama Islam(pakai kerudung).
Biarlah, semoga tulisan saya dapat dibaca hingga yang mengikuti lilin itu sadar.
Munasharah atau demo disalahkan. Bukankah ada hikmah yang lebih indah dalam demo :
Silahkan baca tulisan saya :
Dan ini untuk kalian para generasi muda yang pemahaman islam nya, (maaf) rendah hingga mau saja mengikuti tradisi nasrani
7. Terakhir, terima kasih joko widodo, berkat anda, saya terhindar dari dosa karena memilih pemimpin yang sebenarnya lebih menunjukkan sifat yang lebih mulia dibanding anda. Ini bukan persepsi yang datang dari masyarakat dan mempengaruhi saya. Namun, ini jujur persepsi yang datang saat saya melihat beliau menghentikan orasi nya saat adzan dzuhur. Dan itu sangat memukau karena beliau dapat membedakan antara kewajiban dunia dan akhirat.
Terima kasih, sangat sangat berterima kasih.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Intinya adalah, ini adalah ucapan terima kasih saya.
Jika ini fitnah, yah jasmev juga suka banyak berkata begitu.
Data diambil dari google, terutama images.
Semoga saja benar "Indonesia Hebat" seperti yang slogan anda katakan.
Semoga...
إِنَّمَا السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ
وَيَبْغُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada
manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat ‘adzab
yang pedih” [QS. Asy-Syuuraa : 42].
Nabi shallallaahu
‘alaihi wa sallam telah bersabda :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ...
”Setiap orang di antara kalian adalah
pemimpin, dan setiap orang di antara kamu akan dimintai pertanggungan jawab
atas apa yang dipimpinnya...”.Tulisan yang bagus : here
Wednesday, July 2, 2014
Pendukung Jokowi Brutal di Yogyakarta
Protes keras Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap tvOne memicu massa Partai Banteng itu untuk bertindak sendiri. Massa PDIP segel kantor tvOne Yogyakarta.
Pantauan merdeka.com pukul 22.15 Wib, Rabu (2/7), ratusan kader dan simpatisan PDIP berbondong-bondong mendatangi kantor tvOne di Jl Kenari, Perumahan Timoho. Massa menyegel kantor tersebut dengan menggunakan bambu yang melintang di pintu depan.
Sambil berorasi, massa yang marah atas pemberitaan tvOne juga meluapkan kekesalannya dengan mencorat-coret tembok kantor tvOne dengan cat semprot warna merah. Salah satunya, mereka menulis 'Jokowi bukan kader PKI', 'JKW-JK', 'tvOne anj**g', dan sebagainya.
Sampai berita ini diturunkan, polisi masih berjaga-jaga di lokasi tersebut. Dalam kerumunan massa tersebut terdapat juga elemen mahasiswa.
Sebelumnya, Sekjen Partai
Tjahjo menilai siaran tvOne itu merupakan fitnah dan mencederai harga diri partai. Selain itu, anggota Komisi I DPR ini menilai penyiaran seputar Pilpres 2014 yang dilakukan tvOne sudah tidak sesuai dengan kaidah-kaidah serta kode etik penyiaran.
"Sebut nama siapa yang merupakan kader PKI jangan asal sebut nantinya malah timbul fitnah," ungkapnya.
Sumber : here
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Remember, dont go full retard.
Orang Indonesia itu banyak yang bodoh, baik bodoh dari sisi akhlak maupun pikiran mereka.
Pemimpin dilambangkan dari tingkah laku pendukungnya.
Semoga orang-orang seperti ini memperoleh balasan setimpal dari yang maha kuasa.
ngomong2 tentang fitnah, itu metro, tribun, kompas, dsb nya nggak mau ikut diserbu?
oh ya, mereka mah nggak nyerang jokowi ya. fumu, fumu, begitu tho..
Subscribe to:
Posts (Atom)











