Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Tuesday, February 16, 2016

Tanda-Tanda KIamat yang Bisa Dilihat Saat ini

KIAMAT adalah suatu keniscayaan. Bukan hanya sekadar kehancuran kecil karena bencana alam dan ulah manusia, tapi juga karena Allah swt sudah menghendakinya demikian. Dan Allah swt pun, lewat Nabi Muhammad saw, sudah memberikan perincian bagaimana kiamat akan terjadi.
Berikut adalah tanda-tanda kiamat yang ada di sekeliling kita dan sudah terjadi.
1. Menggembungnya bulan. Telah bersabda Rasulullah saw : “Di antara sudah mendekatnya kiamat ialah menggembungnya bulan sabit (awal bulan),” dishahihkan AlBaani di Ash Shahihah nomor 2292. Dalam riwayat yang lain dikatakan “Di antara sudah dekatnya hari kiamat ialah bahwa orang akan melihat bulan sabit seperti sebelumnya, maka orang akan mengatakan satu bentuk darinya untuk dua malam dan masjid akan dijadikan tempat untuk jalan jalan serta banyaknya orang yang mati mendadak,” (Ash Shahiihah AlBani 2292).
Sekarang ini, satu bulan sabit hampir selalu dihitung dua kali. Tentu kita masih ingat, bahwa umat Islam hampir selalu bertengkar menentukan bulan sabit untuk Ramadhan, Syawal dan Idhul adha . Antara ru’yat tidak sama cara melihatnya , dengan hisab.
2. Tersebarnya banyak pasar. Rasulullah bersabda: “Kiamat hampir akan terjadi apabila sudah banyak perbuatan bohong, masa (waktu) akan terasa cepat berlalu, dan pasar pasar akan berdekatan (jaraknya karena saking banyaknya),” (sahih Ibnu Hibban).
Lihatlah sekarang, pasar ada dimana-mana. Mall semakin banyak, supermarket di mana-mana. Belum lagi kalau kita hitung dengan mart-mart yang bahkan masuk sampai ke pelosok desa.
3. Wanita ikut bekerja seperti laki laki. Rasulullah bersabda : “Pada pintu gerbang kiamat, orang-orang hanya akan mengucapkan salam kepada orang yang khusus(dikenal) saja, dan berkembangnya perniagaan sehingga wanita ikut seperti suaminya (bekerja/berdagang),” Hadist Shahih Ahmad.
Sekarang karena emansipasi wanita, wanita yang bekerja sudah banyak dan bisa kita temui dimana-mana. Anak diurus oleh mertua atau pembantu.
4. Banyaknya polisi. Rasululah bersabda : “Bersegeralah kamu melakukan amal shalih sebelum datang enam perkara : pemerintahan orang orang jahil, banyaknya polisi, penjual belian hokum atau jabatan, memandang remeh terhadap darah, pemutusan silaturrahim, adanya manusia yang menjadikan Al-Qur’an sebagai seruling dimana mereka menunjuk seorang imam untuk sholat jamaah agar ia dapat menyaksikan keindahannya dalam membaca Al-QUr’an meskipun ia paling sedikit ke-faqihannya,” Musnad Ahmad, At Thabrani, Ash Shaihhah AlBani 979.

Tanda-Tanda KIamat yang Bisa Dilihat Saat ini

Tuesday, October 20, 2015

9 Kiat Agar Tidak Terjerumus dalam Kelamnya Zina

Segala puji yang terbaik hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kita sudah ketahui bersama bagaimanakah kehidupan pemuda lajang saat ini. Pergaulan bebas bukanlah suatu yang asing lagi di tengah-tengah mereka. Tidak memiliki kekasih dianggap tabu di tengah-tengah mereka. Hubungan yang melampaui batas layaknya suami istri pun seringkali terjadi. Bahkan ada yang sampai putus sekolah gara-gara masalah ini. Sungguh, inilah tanda semakin dekatnya hancur dunia.

Dalam tulisan kali ini, kami akan berusaha memberikan tips-tips mudah kepada segenap pemuda dan kaum muslimin secara umum agar mereka bisa menjauhkan diri dari bahaya yang satu ini yaitu zina. Semoga Allah beri kepahaman.

Pertama: Ketahuilah Bahaya Zina

Allah Ta’ala dalam beberapa ayat telah menerangkan bahaya zina dan menganggapnya sebagai perbuatan amat buruk. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’: 32)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.

Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,
ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ

“Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[1] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.

Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ

“Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.”[2]

Inilah besarnya bahaya zina. Oleh karenanya, syariat Islam yang mulia dan begitu sempurna sampai menutup berbagai pintu agar setiap orang tidak terjerumus ke dalamnya. Jika seseorang mengetahui bahaya zina dan akibatnya, seharusnya setiap orang semakin takut pada Allah agar tidak terjerumus dalam perbuatan tersebut. Rasa takut pada Allah dan siksaan-Nya yang nanti akan membuat seseorang tidak terjerumus di dalamnya.

Kedua: Rajin Menundukkan Pandangan

Seringnya melihat lawan jenis dengan pandangan penuh syahwat, inilah panah setan yang paling mudah mengantarkan pada maksiat yang lebih parah. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ (٣٠) وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (QS. An Nur: 30-31)

Allah Ta’ala juga menerangkan bahwa setiap insan akan ditanya apa saja yang telah ia lihat, sebagaimana terdapat dalam firman Allah,
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’: 36)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang duduk-duduk di tengah jalan karena duduk semacam ini dapat mengantarkan pada pandangan yang haram.

Dari Abu Sa’id Al Khudriy radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ » . فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ ، إِنَّمَا هِىَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا . قَالَ « فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلاَّ الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا » قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ « غَضُّ الْبَصَرِ ، وَكَفُّ الأَذَى ، وَرَدُّ السَّلاَمِ ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ ، وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ »

“Janganlah kalian duduk-duduk di pinggir jalan”. Mereka bertanya, “Itu kebiasaan kami yang sudah biasa kami lakukan karena itu menjadi majelis tempat kami bercengkrama”. Beliau bersabda, “Jika kalian tidak mau meninggalkan majelis seperti itu maka tunaikanlah hak jalan tersebut”. Mereka bertanya, “Apa hak jalan itu?” Beliau menjawab, “Menundukkan pandangan, menyingkirkan gangguan di jalan, menjawab salam dan amar ma’ruf nahi munkar”. (HR. Bukhari no. 2465)

Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.

“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai pandangan yang tidak di sengaja. Maka beliau memerintahkanku supaya memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 2159)

Ketiga: Menjauhi Campur Baur (Ikhtilath) yang Diharamkan

Di antara dalil yang menunjukkan haramnya ikhtilath (campur baur antara laki-laki dan perempuan) adalah hadits-hadits berikut.

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ » . فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ « الْحَمْوُ الْمَوْتُ »

“Janganlah kalian masuk ke dalam tempat kaum wanita.” Lalu seorang laki-laki dari Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda mengenai ipar?” beliau menjawab: “Ipar adalah maut.” (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ » . فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ امْرَأَتِى خَرَجَتْ حَاجَّةً وَاكْتُتِبْتُ فِى غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا . قَالَ « ارْجِعْ فَحُجَّ مَعَ امْرَأَتِكَ »

“Janganlah sekali-kali seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali dengan ditemani mahromnya.” Lalu seorang laki-laki bangkit seraya berkata, “Wahai Rasulullah, isteriku berangkat hendak menunaikan haji sementara aku diwajibkan untuk mengikuti perang ini dan ini.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, kembali dan tunaikanlah haji bersama isterimu.” (HR. Bukhari no. 5233 dan Muslim no. 1341)

Dari ‘Umar bin Al Khottob, ia berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus), lalu ia membawakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لاَ يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

“Janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiap yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin.” (HR. Ahmad 1/18. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perowinya tsiqoh sesuai syarat Bukhari-Muslim)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ

”Ketahuilah! Seorang laki-laki bukan mahram tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada mahramnya.” (HR. Muslim no. 2171)

Keempat: Wanita Hendaklah Meninggalkan Tabarruj

Inilah yang diperintahkan bagi wanita muslimah. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[3]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mengajak orang lain untuk tidak taat, dirinya sendiri jauh dari ketaatan, kepalanya seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Kelima: Berhijab Sempurna di Hadapan Pria

Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,
وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53)

Konteks pembicaraan dalam ayat ini adalah khusus untuk istri Nabi. Namun illah dalam ayat tersebut dimaksudkan umum sehingga hukumnya pun berlaku umum pada yang lainnya. Illah yang dimaksud adalah,
ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka”.

Juga kalau kita perhatikan kelanjutan ayat, maka hijab tersebut berlaku bagi wanita mukmin lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.” (QS. Al Ahzab: 59)

Ditambah lagi dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin Mas’ud,
الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi no. 1173. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Keenam: Wanita Hendaklah Betah Tinggal Di Rumah

Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu” (QS Al Ahzab: 33).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki.” (HR. Tirmidzi no. 1173, shahih)

Dalam ajaran Islam pun, shalat wanita lebih baik di rumah. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَلاَةُ الْمَرْأَةِ فِى بَيْتِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى حُجْرَتِهَا وَصَلاَتُهَا فِى مَخْدَعِهَا أَفْضَلُ مِنْ صَلاَتِهَا فِى بَيْتِهَا

“Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di kamarnya, dan shalat seorang wanita di rumahnya yang kecil lebih utama baginya daripada dirumahnya.” (HR. Abu Daud no. 570. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari Ummu Salamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَيْرُ مَسَاجِدِ النِّسَاءِ قَعْرُ بُيُوتِهِنَّ

“Sebaik-baik masjid bagi para wanita adalah diam di rumah-rumah mereka.” (HR. Ahmad 6/297. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan berbagai penguatnya)

Ketujuh: Hendaklah Wanita Menjalani Berbagai Adab Ketika Keluar Rumah

Di antara adab yang mesti diperhatikan oleh wanita adalah:

Pertama: Tidak memakai harum-haruman ketika keluar rumah.

Dari Abu Musa Al Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْقَوْمِ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ

“Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina.” (HR. Ahmad 4/413. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)

Kedua: Hendaklah wanita benar-benar menutup aurat dengan sempurna ketika memasuki rumah yang terdapat kaum laki-laki

Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Sufyan dari Manshur dari Salim bin Abu Al Ja’d dari Abu Al Malih Al Hudzali bahwa para wanita dari penduduk Himsha pernah meminta izin untuk menemui ‘Asiyah, maka dia berkata; “Mungkin kalian adalah para wanita yang suka masuk ke pemandian umum, saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِى غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ

“Wanita mana pun yang meletakkan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka ia telah menghancurkan tirai antara dia dan Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 3750. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Ketiga: Hendaklah wanita berhias diri dengan sifat malu

Allah Ta’ala berfirman mengenai para wanita yang mendatangi Nabi Musa ‘alaihis salam,
فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan.” (QS. Al Qoshshosh: 25)

Keempat: Tidak bercampur baur dengan para pria

Allah Ta’ala menceritakan mengenai dua wanita yang mendatangi Musa,
وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا قَالَتَا لا نَسْقِي حَتَّى يُصْدِرَ الرِّعَاءُ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ

“Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab, “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak Kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya“. (QS. Al Qoshshosh: 23)

Kedelapan: Menghindari Jabat Tangan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahrom)

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Lebih baik kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum dari besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thobroni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat As Silsilah Ash Shohihah 226)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925). Jika kita melihat pada hadits ini, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau bukan mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul: “apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram.”[4]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencontohkan tidak menyalami wanita –non mahrom- dalam kondisi yang seharusnya beliau dituntut bersalaman sekalipun semacam baiat.

Telah menceritakan kepadaku Malik dari Muhammad bin Al Munkadir dari Umaimah binti Ruqaiqah berkata; “Aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika para wanita membaiatnya untuk Islam. Kami mengatakan; ‘Wahai Rasulullah, kami membaiatmu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendatangi kejahatan yang telah kami lakukan antara kedua tangan dan kaki kami, dan tidak bermaksiat terhadap anda dalam kebaikan.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan: “Semampu dan sekuat kalian.” Umaimah berkata, “Kami menyahutnya, “Allah dan Rasul-Nya lebih kami sayangi daripada diri kami. Wahai Rasulullah, kemarilah, kami akan membaiatmu.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ مِثْلِ قَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ

“Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti perkataanku untuk satu wanita.” (HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Kesembilan: Hendaknya Wanita Meninggalkan Tutur Kata yang Mendayu-dayu

Allah Ta’ala berfirman,
فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab: 32) Yang dimaksudkan “janganlah kamu tunduk dalam berbicara”, As Sudi mengatakan, “Janganlah wanita mendayu-dayukan kata-katanya ketika bercakap-cakap dengan kaum pria.”[5]

Inilah beberapa jalan yang jika dijalankan dengan baik akan menjauhkan kita dari pebuatan zina yang keji. Hanya Allah yang memberi taufik bagi siapa saja yang mau merenungkan hal ini.[6]

Selesai disusun atas nikmat Allah di Panggang-GK, 19 Jumadil Awwal 1431 H (03/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel muslim.or.id

[1] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.

[2] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[3] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqi’ Al Islam.

[4] Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i, hal. 41, Muassasah Ar Royan

[5] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 6/409, Dar Thoyibah, cetakan kedua, 1420 H.

[6] Pembahasan ini banyak kami sarikan dari penjelasan Syaikh Musthofa Al ‘Adawi dalam risalah beliau “Wa laa taqrobuz zinaa”, Daar Majid ‘Asiiri.

Apabila Zina telah Tersebar

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا

“Diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, menguatnya kebodohan, diminumnya khamar, dan nampaknya perzinahan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas Bin Malik radhiyallahu’anhu]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ويظهر الزنا أي يشيع ويشتهر بحيث لا يتكاتم به لكثرة من يتعاطاه

“Makna “Dan nampaknya perzinahan” yaitu tersebarnya perbuatan zina, ramai dilakukan, tatkala zina itu tidak dapat lagi disembunyikan karena banyaknya orang yang melakukannya (itulah diantara tanda kiamat).” [Fathul Bari, 12/114]

Apa Akibatnya?

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ ، فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ

“Apabila zina dan riba telah nampak di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan azab Allah bagi diri-diri mereka.” [HR. Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, Shahihut Targhib: 2401]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,

تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ فَيُنَادِي مُنَادٍ: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابَ لَهُ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجَ عَنْهُ؟ فَلا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ إِلا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ إِلا زَانِيَةٌ تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارٌ

“Pintu-pintu langit dibuka pada pertengahan malam, lalu menyerulah seorang penyeru: Apakah ada yang mau berdoa sehingga dikabulkan doanya? Apakah ada yang mau meminta sehingga diberikan permintaannya? Apakah ada orang yang tertimpa musibah (yang memohon pertolongan Allah) sehingga dihilangkan kesusahannya? Maka tidaklah seorang muslim pun yang berdoa dengan satu doa (di waktu tersebut) kecuali Allah akan mengabulkannya, kecuali seorang wanita pezina yang menjajakan kemaluannya dan seorang pemungut pajak.” [HR. Ath-Thabrani dari ‘Utsman bin ‘Abil ‘Ash Ats-Tsaqofi radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 1073]

Wanita yang Melepas Pakaian

Rasulullah shallallahu’ alaihi wa sallam juga bersabda,

يَا مَعْشَرَ الْمُهَاجِرِينَ خَمْسٌ إِذَا ابْتُلِيتُمْ بِهِنَّ ، وَأَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ تُدْرِكُوهُنَّ

لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ ، حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا ، إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ ، وَالأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلاَفِهِمُ الَّذِينَ مَضَوْا

وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ ، إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ ، وَشِدَّةِ الْمَؤُونَةِ ، وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ

وَلَمْ يَمْنَعُوا زَكَاةَ أَمْوَالِهِمْ ، إِلاَّ مُنِعُوا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ ، وَلَوْلاَ الْبَهَائِمُ لَمْ يُمْطَرُوا

وَلَمْ يَنْقُضُوا عَهْدَ اللهِ ، وَعَهْدَ رَسُولِهِ ، إِلاَّ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ ، فَأَخَذُوا بَعْضَ مَا فِي أَيْدِيهِمْ

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ ، وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ ، إِلاَّ جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ

“Wahai kaum Muhajirin, waspadailah lima perkara apabila menimpa kalian, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak menemuinya:

1) Tidaklah perzinahan nampak (terang-terangan) pada suatu kaum pun, hingga mereka selalu menampakkannya, kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka wabah penyakit tha’un dan penyakit-penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelumnya.

2) Dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan diazab dengan kelaparan, kerasnya kehidupan dan kezaliman penguasa atas mereka.

3) Dan tidaklah mereka menahan zakat harta-harta mereka, kecuali akan dihalangi hujan dari langit, andaikan bukan karena hewan-hewan niscaya mereka tidak akan mendapatkan hujan selamanya.

4) Dan tidaklah mereka memutuskan perjanjian Allah dan perjanjian Rasul-Nya, kecuali Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari kalangan selain mereka, yang merampas sebagian milik mereka.

5) Dan tidaklah para penguasa mereka tidak berhukum dengan kitab Allah, dan hanya memilih-milih dari hukum yang Allah turunkan, kecuali Allah akan menjadikan kebinasaan mereka berada di antara mereka.”

[HR. Ibnu Hibban, dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Ash-Shahihah: 106]

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

sofyanruray.info

Monday, October 19, 2015

Zina adalah HUTANG !!!

Zina adalah HUTANG !!!

ungkapan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah :
 
Jagalah kehormatan kalian, niscaya istri-istri kalian akan terjaga dari perbuatan haram
Hindarilah segala yang tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim
Zina adalah hutang, Jika Engkau mengambilnya hutang
Maka, Ketahuilah bahwa tebusannya adalah anggota keluargamu
Barangsiapa berzina, akan dizinai meskipun di dalam rumahnya
Camkanlah, jika engkau termasuk orang yang berakal


Sebuah kisah nyata, dan ini dipublikasikan dalam koran-koran Arab. Aku tidak akan menyebutkan namanya. Yang menceritakan kisah ini adalah orang yang melakukannya sendiri. Dan dia meminta agar pihak koran tidak menyebutkan namanya. Dia hanya ingin agar orang-orang mengetahui kisahnya.

Dia mengisahkan, “Ketika sedang di kampus dengan teman-teman, dan punya banyak hubungan dengan gadis-gadis. Pada suatu waktu, aku bertemu seorang gadis dan melakukan hubungan terlarang dengannya. Dan aku tetap melakukannya hingga dia hamil karena berhubungan denganku. Ketika pihak keluarganya mengetahui hal ini, dan gadis tersebut menceritakan kepada kakaknya, dia menghajarku.

Setelah itu, aku berkata kepadanya, “Aku tidak mengenal adikmu. Carilah orang lain yang menghamilinya!”

Aku kemudian meninggalkannya, dan pergi.

Karena memang tidak memiliki bukti untuk membuktikan kesalahanku, mereka meninggalkanku.

Aku melupakan kejadian ini.

Tahun-tahun berlalu.

Pada suatu hari, aku pulang ke rumah dan menemukan ibuku pingsan di lantai. Aku mencoba untuk menyadarkannya. Setiap kali tersadar, ibu berteriak dan pingsan lagi. Aku menyadarkannya untuk kedua kalinya, tapi lagi-lagi ia berteriak dan pingsan. Aku mencoba untuk menyadarkannya tiga kali sampai aku berkata, “Wahai ibu, apa yang terjadi?”

Ibu berteriak dan berkata, “Saudarimu!”

“Apa yang terjadi dengan saudariku?” tanyaku.

“Saudarimu dihamili tetangga.” Jawab ibu.

Aku pung langsung menemui tetanggaku, dan mulai menyerangnya sampai dia berkata kepadaku dengan kata-kata yang seolah seperti anak panah yang menghunjam hatiku.

Tahukah kalian apa yang ia katakan kepadaku?

Dia mengatakan, “Aku tidak mengenal adikmu. Coba tanyakan orang lain yang menghamilinya!”

Subhanallah!

Hal yang sama seperti yang kuucapkan kepada keluarga gadis di kampus bertahun-tahun yang lalu.

Balasan tergantung pada amal perbuatannya.

Demikianlah.

Apakah kisah ini selesai? Belum.

Aku mengalami depresi yang berat setelahnya. Kemudian setelah berlalu beberapa tahun, aku memutuskan untuk menikah. Setelah bertunangan dan akad nikah, kami siap untuk pesta pernikahan.

Pada pesta pernikahan, aku mendapatkan kejutan. Calon istriku mengatakan bahwa ia pernah melakukan perbuatan zina sebelumnya. Dia berkata kepadaku, “Tolong tutupi keburukanku, semoga Allah juga menutupi keburukanmu.”

Lalu aku berkata kepada diriku sendiri, “Sudah cukup ya Allah! Cukup! Cukup! Aku sudah menjalani cukup hukuman!”

Aku menghela nafas –mencoba menelan cobaan ini. Dan aku menghabiskan banyak waktu dengan istriku hingga dia melahirkan seorang bayi perempuan yang bagaikan rembulan. Kemudian ketika dia berusia 6 tahun, anakku datang dari luar dengan menangis.

Apa yang telah terjadi?

Penjaga rumah telah memperkosanya.

Tidak ada perubahan, atau kekuatan kecuali atas kehendak Allah, Yang Maha Tinggi lagi Maha Kuasa.

Allah berfirman, “Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu, dan Alalh sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal: 30).

Saudara-saudariku tercinta...,
Jangan katakan bahwa ini sering terjadi pada orang yang tidak taat. Jangan!

Gadis dari kampus yang berzina dengannya di awal cerita memiliki seorang saudara yang sedih ketika tahu saudarinya diziniai. Lalu Allah memberikannya hukuman kepada saudari si pemuda, ya! Dan dia akan mempunyai seorang suami, yang akan Allah ujia melalui istrinya.

Gadis itu juga mempunyai seorang ayah yang hatinya hancur karenanya, sehingga Allah mengujinya melalui putrinya!

Balasan tergantung dari amal perbuatannya. Jadi dia harus membawa hukuman atas perbuatannya.

Dan untuk orang-orang yang tidak bersalah dalam kisah ini, maka ini menjadi cobaan bagi mereka. Allah ingin mengangkat derajat mereka, dan menghapus dosa-dosa mereka karenanya.

Saudara-saudariku, Allah cemburu untuk para wanita –yang dinodai kehormatannya. Mahasuci Dia! Dan Dia akan membalaskan dendam untuk mereka.

Maka, berhati-hatilah! –Kisah ini selesai sampai di sini.

Ya Allah, alangkah beratnya balasan bagi pelaku zina.

Satu saat Asy Syafi’i ditanya mengapa hukum bagi pezina sedemikian beratnya?

Wajah Asy Syafi’i memerah, pipinya rona delima.

“Karena,” jawabnya dengan mata menyala, “Zina adalah dosa yang bala’ akibatnya mengenai semesta keluarganya, tetangganya, keturunannya hingga tikus di rumahnya dan semut di liangnya.”

Ia ditanya lagi: Dan mengapa tentang pelaksanaan hukuman itu? Allah berfirman, “Dan janganlah rasa ibamu pada mereka menghalangimu untuk menegakkan agama!”

Asy Syafi’i terdiam… Ia menunduk, Ia menangis.

Setelah sesak sesaat, ia berkata…, “Karena zina seringkali datang dari cinta dan cinta selalu membuat kita iba .. Dan syaitan datang untuk membuat kita lebih mengasihi manusia daripada mencintai-Nya.”

Ia ditanya lagi, “Dan mengapa, Allah berfirman pula, “Dan hendaklah pelaksanaan hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.” Bukankah untuk pembunuh, si murtad, pencuri Allah tak pernah mensyaratkan menjadikannya tontonan?

Janggut Asy-Syafi’i telah basah, bahunya terguncang-guncang.

“Agar menjadi pelajaran…”
Ia terisak…

“Agar menjadi pelajaran…”
Ia tersedu…

“Agar menjadi pelajaran…”
Ia terisak…

Lalu ia bangkit dari duduknya, matanya kembali menyala, “Karena ketahuilah oleh kalian.. sesungguhnya zina adalah hutang. Hutang, sungguh hutang… dan.. salah seorang dalam nasab pelakunya pasti harus membayarnya!”

Ya, hindarilah segala yang tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang muslim. Zina adalah hutang, hutang, hutang. Jika engkau berhutang, maka ketahuilah bahwa tebusannya adalah anggota keluargamu. Barangsiapa berzina, maka akan ada yang dizinai, meskipun di dalam rumahnya. Camkanlah hal ini jika engkau termasuk orang yang berakal.
Semoga bermanfaat.

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dengan sanad shahih [*], dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا

“Ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia berkata : “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku berzina!”



فأقبل القوم عليه فزجروه و قالوا : مه مه!

“Maka para shahabat pun menghampirinya dan memperingatinya : “Diam kamu! Jangan bicara seperti itu!”

فقال : ادنه ، فدنا منه قريبا قال : فجلس ،

Kemudian Nabi berkata : “Dekatkan dia padaku”. Pemuda itupun mendekat kepada Nabi, kemudian duduk di dekat beliau.

قال : أتحبه لأمك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لأمهاتهم ،

Kemudian Nabi bertanya kepada pemuda tersebut : “Apakah engkau suka kalau ibumu berzina?”

Pemuda itu menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau ibu mereka berzina”

قال : أفتحبه لابنتك ؟ قال : لا والله يا رسول الله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لبناتهم،

Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau putrimu berzina?”

Dia menjawab : “Demi Allah tidak ya Rasulullah! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau anak perempuan mereka berzina”

قال : أفتحبه لأختك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لأخواتهم

Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudari perempuanmu berzina?”

Dia menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudari perempuan mereka berzina”

قال : أفتحبه لعمتك . قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : و لا الناس يحبونه لعماتهم ،

Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ayahmu berzina?”

Dia menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudara perempuan ayah mereka berzina”

قال : أفتحبه لخالتك ؟ قال : لا والله جعلني الله فداءك ، قال : ولا الناس يحبونه لخالاتهم ،

Kemudian Nabi bertanya lagi : “Apakah engkau suka kalau saudara perempuan ibumu berzina?”

Dia menjawab : “Demi Allah tidak! Semoga Allah menjadikan aku sebagai tebusanmu”

Nabi pun menjawab : “Demikian juga orang lain. Mereka tidak mau kalau saudara perempuan ibu mereka berzina”

قال : فوضع يده عليه و قال : اللهم اغفر ذنبه و طهرقلبه و حصن فرجه . فلم يكن بعد ذلك الفتى يلتفت إلى شيء

Kemudian Nabi meletakkan tangan beliau kepada si pemuda itu seraya mendo’akannya :

“Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya”

Setelah itupun si pemuda sama sekali tidak punya keinginan lagi untuk berzina.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Lindungi kami dari perbuatan ini.
Sungguh cerita ini sangat mengerikan, menyedihkan, dan menyakitkan.
Dosa yang sangat besar disisi Allah...

Lindungi kami...

Thursday, July 9, 2015

Permasalahan Agama

Rentetan berita yang selama ini beredar dan jadi polemik khususnya masalah agama; mulai dari soal langgam nusantara, kaset ngaji "polusi udara", himbauan menghormati yang gak berpuasa, konflik Suriah, pengungsi Rohingya, dan paling anyar soal LGBT di Amerika, sebenarnya semua itu gak perlu dihindari untuk mencari aman dengan dalih selemah-lemah iman. Justru dari sini kita bisa mengambil banyak pelajaran dan hitung-hitungan.
Cermati saja. Makin ke sini, makin keliatan dengan siapa-siapa saja semestinya kau berteman (teman dalam arti sesungguhnya, bukan teman sekadar basa-basi media sosial belaka)
Kelihatan mana orang-orang yang punya kepekaan agama, yang memang peduli pada amar ma'ruf nahi munkar. Keliatan pula mana yang masa bodo, mana yang bebal, nyeleneh dan nyinyir, serta yang bangga sebagai pengolok-olok syariat. Entah, seperti ada kepuasan dan merasa keren bagi mereka yang bisa memperlakukan agama seperti anak kecil terhadap mainannya
Ironis. Yang peduli pada nilai-nilai religi biasanya rentan jadi sasaran bully. Kalo ada yang pengen gabung di kelompok ini maka siap-siap saja kupingmu bosan dengan seruan takfiri atau wahabi. Tolol dan dungu apalagi.
Yang masa bodo, beralasan gak cukup ilmu untuk bersuara. Hellaaaaw... semisal soal LGBT, diperlukan ilmu seluas dan setinggi apa pula? Simpelnya, letakkan saja otakmu di atas meja, dan kau gak perlu berfikir, cukup memfungsikan seonggok benda kecil bernama hati untuk sekadar merasakan perilaku hina dan menyimpangnya. Baut gak bakalan ketemu baut, begitu pula mur dengan mur, gak akan klop hingga kiamat kubra. Jika kau cerdas mestinya kau bisa lebih lugas, bersikap kan bisa tanpa harus menghakimi.
Yang nyinyir dan pengolok biasanya gak bisa melepaskan islam dengan embel-embel arab. Tadinya cuma becandaan doang, semisal ngomong "varokah", lama kelamaan makin tampak kesan mengoloknya dengan mengganti huruf F pada setiap kata berhuruf P. Membawa-bawa onta, celana cingkrang, dan jidat hitam. Orang-orang ini mungkin lupa bahwa akar Islam bermula di Arab, dan kitabullah yang kita agungkan turun dengan bahasa Arab, bukan sansekerta. Sejak lama gw menganggap ini sebagai jenis humor yang sungguh gak lucu.
Yang membuat gw miris, gw melihat kecenderungan teman-teman yang kualitas pemikirannya di atas rata-ratalah yang justru banyak terinfeksi virus nyeleneh ini. Celakanya, mereka punya banyak pengikut yang kadang taklid begitu saja. Orang seperti ini yang gw kasian adalah orang tuanya, yang tentunya menggantungkan harapan besar pada anaknya sebagai pemberi syafaat, bukan justru jadi penambah beban di hari perhitungan kelak
Ada beberapa tipe spesifik teman pengambil sikap atau sekadar komentator dalam polemik yang pelik ini:
- tipe yang memang terang-terangan membela agama dan niat pemurnian aqidah
- tipe yang membela kebebasan logika (biasanya satu paket dengan pembelaan kaum minoritas)
- tipe abstain, yang entah males mikir atau memang gamang dan gak tau mesti berbuat apa (tipe yang ini tetap gw hargai sebagai keterbatasan manusiawi)
- tipe OOT, yang sekadar mengomentari typo, panjang tulisan, nitip emoticon, atau hal-hal teknis lainnya. Kadang menyebalkan tapi masih bisa dimaklumi sebagai pemberi warna postingan
- tipe silent haters, gak berani berkomentar tapi jempolnya sering nangkring di komentar-komentar yang melawan ataupun memojokkan postingan. Sesekali ia juga menjempol atau membagikan tautan dari tokoh-tokoh Syiah atau sekuler. Nah ini sebenarnya tipe yang gak banget. Gak punya sikap dan pendirian. Kalo memang haters, kenapa masih menguntit dan menyimak? Tipe ini sepertinya hanya cocok ditempatkan pada bagian dapur sanitasi di medan perang. Ngurusin sampah saja, biar ada faedahnya. Orang seperti ini yang paling banyak gw blokir.
Jujur, sejak debat dengan pentolan agama Syiah tempo hari (bukan debat sih sebenarnya, karena tiba-tiba saja gw diserang secara personal), pikiran gw mulai terbuka untuk memfiltrasi pertemanan, memilah-milah demi kenyamanan. Kita fesbukan tujuannya mau bersenang-senang, lah ngapain mesti direpotkan berurusan dengan orang-orang menyebalkan?
Hingga saat ini sudah ada seratusan daftar blokiran gw, baik di pertemanan maupun di list followers. Ada orang baru, ada juga teman yang pernah dekat banget. Toh hidup ini pilihan, gw cuma berharap semoga kita masih bisa berkawan di kehidupan yang lain.
Awalnya cuma Syiah rese dan simpatisan JIL yang gw tendang, lalu komunis dan atheis. Belakangan kriteria itu gw tambah lagi dengan masuknya pro LGBT, dan para pengumpat dan penghujat. Kriteria terakhir ini sering menuding orang dengan kalimat "huh, dasar gak mau dikalah!", padahal di saat yang bersamaan ia memaknai kebenaran itu sebagai dirinya sendiri.
Kebijakan pemblokiran gak populer ini memang harus gw ambil. Gw gak peduli lagi ditinggalkan orang, toh gw sudah pernah sampai pada titik gak butuh lagi pengakuan.
Alhamdulillah, kerasa banget pengaruhnya. Hampir gak ada lagi aura negatif tiap gw buka beranda fesbuk. Sejauh ini, gw masih mentolerir beberapa teman dengan pertimbangan kedekatan personal, tapi bukan gak mungkin suatu saat dikick juga, bahkan kerabat dekat hingga saudara pun insyaallah gak bakal luput kalo memang itu harus dilakukan.
Ya, ini postingan sudah kepanjangan dan gak jelas juntrungannya. Sorry, sudah menyita waktunya. Jadi mari kita akhiri saja.
Wabillahi taufik walhidayah. Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber : Arham Rasyid

Monday, January 19, 2015

3 Pertanyaan dari Pemuda Shalih untuk Calon Istri



 Ini adalah sebuah kisah tentang seorang pemuda shalih yang sedang mencari calon pendamping hidupnya. Meskipun belum diketahui pasti apakah ini kisah nyata atau fiktif, namun semoga pelajaran yang terkandung di dalamnya dapat bermanfaat bagi para muslimah terutama yang belum menikah. Semoga kisah ini dapat menginspirasi dan menjadi renungan bagi para muslimah untuk selalu memperbaiki diri.
Ada seorang pemuda yang shalih, tampan, pendidikannya baik dan umurnya telah mencukupi untuk menikah. Kedua orangtuanya telah memberikan usulan calon istri padanya, namun semuanya ditolak oleh sang pemuda shalih. Tiap kali ada wanita yang dihadirkan di rumahnya, namun jawabannya selalu sama, “Dia bukanlah orangnya!”
Pemuda itu mengatakan bahwa kriteria yang diinginkannya adalah sosok muslimah yang religius dan taat menjalankan agamanya (shalihah). Kemudian orangtuanya menemukan sosok wanita yang dirasa memenuhi kriteria pemuda itu. Wanita yang dimaksud memang terlihat religius dan juga cantik.
Akhirnya wanita itu dipertemukan dengan pemuda shalih tersebut. Kemudian mereka berbincang-bincang dan pemuda tersebut mempersilakan sang gadis untuk bertanya apa saja pada dirinya. Kemudian, dengan semangat sang gadis banyak bertanya tentang pemuda tersebut. Tak satupun pertanyaan yang tidak dijawab oleh pemuda itu dengan ramah dan sopan, sehingga wanita itu merasa gembira. Namun, setelah cukup lama mengobrol si wanita mulai bosan dan berharap pemuda itu ganti menanyainya.
Lalu, pemuda itu berkata, “Aku hanya akan menanyakan tiga hal padamu,”
Sang Wanita cukup girang, hanya tiga? Okelah, silakan.
“Siapakah yang paling kamu cintai, yang kamu cintai melebihi siapapun yang ada di dunia ini?”
Wanita itu menjawab dengan mantap,”Ibuku,” Ini pertanyaan yang mudah, pikir si gadis.
“Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surat mana yang kamu ketahui artinya?”
Wanita itu tersipu malu, dia tidak yakin akan menjawab karena dia belum banyak belajar tentang arti surat-surat dalam Al Qur’an yang dibacanya karena sibuk. Dia berjanji akan memelajarinya nanti.
“Aku telah dilamar untuk menikah, dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik dan pintar daripada dirimu, Mengapa saya harus menikahimu?”
Mendengar pertanyaan ketiga ini, sang wanita meradang dan mengadukan hal itu kepada orangtuanya perihal pertanyaan sang pemuda. Ia mengatakan pada orangtuanya bahwa dia tidak ingin menikahi pemuda itu karena dia telah menghina kecantikan dan kepintarannya.
Kemudian orangtua pemuda itu bertanya mengapa pemuda itu menyinggung perasaan gadis itu dan membuatnya sedemikian marah? Pemuda itu telah menyiakan jawabannya sendiri.
Pertanyaan pertama, gadis itu mengatakan bahwa yang paling dia cintai adalah ibunya. Orangtuanya bertanya, “Apa yang salah dengan hal itu?” Pemuda itu menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim, hingga dia mencintai Allah dan RasulNya (shalallahu’alaihi wa sallam) melebihi siapapun di dunia ini”. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) lebih dari siapapun, dia akan mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku, karena cinta itu, dan ketakutannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan kami akan berbagi cinta ini, karena cinta ini adalah yang lebih besar daripada nafsu untuk kecantikan.
Pertanyaan kedua, wanita itu bilang dia sibuk sehingga tidak sempat belajar Al Qur’an. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa Aku harus menikahi seorang wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya, dan apa yang akan dia ajarkan kepada anak-anakku, kecuali bagaimana untuk menjadi lalai, karena wanita adalah madrasah (sekolah) dan guru terbaik. Dan seorang wanita yang tidak memiliki waktu untuk Allah, tidak akan memiliki waktu untuk suaminya.
Pertanyaan ketiga, wanita itu marah ketika aku bertanya apa yang membuatnya pantas untuk aku nikahi sedangkan telah banyak wanita yang datang lebih cantik lagi pintar daripada dia. Orangtanya berkata bahwa itu sesuatu yang menyebalkan bagi seorang wanita. Pemuda itu menjawab, “Nabi (shalallahu’alaihi wa sallam) mengatakan ‘Jangan marah, jangan marah, jangan marah’, ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan adalah datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya dengan orang asing yang baru saja ia temui, apakah kalian pikir dia akan dapat mengontrol amarah terhadap suaminya?
Pelajaran yang dapat diambil dari kisah diatas adalah dalam sebuah pernikahan hendaknya orang lebih mementingkan ilmu, bukan kecantikan. Beramal, bukan hanya berceramah atau membaca. Mudah memaafkan dan tidak gamang marah. Keshalihan dan ketaatan kepada Allah, bukan hanya nafsu.
Sedangkan memilih pasangan hendaknya adalah orang yang mencintai Allah SWT di atas segalanya yang ada di dunia ini, mencintai Rasulullah Saw di atas manusia yang lain, Memiliki ilmu islam dan mau beramal dengan ilmu tersebut, dapat mengontrol kemarahan, dan mudah diajak musyawarah atau berkomunikasi.
Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Wanita dinikahi karena empat hal, (pertama) karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Carilah yang agamanya baik, jika tidak maka kamu akan tersungkur fakir”. (HR. Bukhori no. 5090, Muslim no. 1466)
Semoga kisah diatas dapat memberi hikmah dan manfaat bagi kita semua. Aamiin.

Sumber : here

Monday, July 21, 2014

Gak Usah Bawa-bawa Agama

Gak Usah Bawa-bawa Agama
Bro: “Bray...”
Bray: “Naon bro?”
Bro: “Jangan bawa-bawa agama bray”
Bray: “Apanya?”
Bro: “Ya semuanyalah. Elu mah dikit-dikit bawa agama, dikit-dikit bawa agama, sampe-sampe urusan nyoblos aja masih aja bawa-bawa agama”
Bray: “Gitu ya bro?”
Bro: “Iya, ribet bray! Makanya udah gak usah bawa-bawa agamalah bray”
Bray: ”Ya udah sok atuh kasih tau ini Islam agama gw mesti ditaro dimana?”
Bro: “Maksudnya?”
Bray: “Iya, tolong kasih tau gw, mesti ditaro mana ini Islam?
Bro: “Maksudnya gimana bray? Gw gak ngerti”
Bray: “Iya, kan lo suruh gw jgn bawa-bawa agama kan? Nah gw bingung bro. Kalo gw gak boleh bawa2 agama, Islam mesti gw taro mana? Soalnya Islam mengatur dari mulai gw bangun tidur sampai mau tidur lagi. Bangun tidur diatur, masuk kamar mandi diatur, berpakaian diatur, mau makan diatur, keluar rumah diatur, berpergian diatur, bertetangga diatur, berbisnis diatur, bahkan sampai urusan mau indehoy ama bini aja diatur. Bahkan lagi bro, sorry banget nih ya bro, urusan cebok aja ada aturannya! Yang lebih heran lagi bro, itu aturan malah sampe ada doanya segala bro. Bayangin, sampai semuanya ada doanya! Lengkap banget!
… hening …

Bray: “Makanya dalam semua urusan, akhirnya gw bawa-bawa Islam. Nah, kalau gw skrg gak boleh bawa-bawa agama, sok atuh kasih tau KAPAN dan DIMANA gw bisa lepasin Islam gw?”
Bro: “Errr... Gak gitu-gitu amat kali bray”
Bray: “Iya gw juga tadinya mikir gitu bro. Gak perlu gitu2 amatlah. Tapi lama2 gw perhatikan justru itulah bedanya Islam. Islam itu ya emang gitu bro. Gak cuma ritual yang diatur, tapi cara hidup. Islam memang hadir untuk mengatur hidup kite bro. Emang lo gak mau hidup lo jadi lebih bener bro?”
Bro: “Err ... mmmh .... Ya mau sih bray”
Bray: “Nah! Kalo gitu mesti mau dong diatur ama Islam. Kan lo udah syahadat?”
Bro: “Ya tapi gak usah jadi fanatik gitulah bray, serem dengernya”
Bray: “Harusnya gimana bro?
Bro: “Ya diem-diem ajalah. Masing-masing aja. Kan Allah lebih tau gimana gw ber-Islam. Iya kan?”
Bray: “Iya sih….”
Bro: “Nah iya kan?”
Bray: “ Tapi kebayang ya bro?”
Bro: “Kebayang apa bray?”
Bray: “Iya, kalo Islam memang hanya untuk diem-diem aja, untuk masing-masing pribadi aja, bukan untuk dishare ke orang lain, kira-kira bakal sampe gak ya hidayah Islam ke kita sekarang? Kalo dulu Nabi Muhammad ber-Islam sambil diem-diem aja, buat sendirian doang, bakal nyampe gak ya Islam ke kita bro?”
…. Hening lagi ….
Bro: “Bray …”
Bray: “Ya bro”
Bro: “Gw cabut dulu ya, kapan-kapan kita ngobrol lagi. Daaaah”
Bray: “Loh koq buru-buru bro? Ya udah hati-hati ya bro, Islamnya dibawa terus ya brooo ...” (sambil teriak)
Bro: …….. (gak ada respon, mungkin sudah kejauhan, tp mudah2an masih mau dengar)

Sumber : Sujadi Abdillah

Tuesday, July 15, 2014

Ketika Islam Kembali Menjadi Asing

Ketika Islam Kembali Menjadi Asing
oleh: Jonru
Akan tiba suatu masa, ketika Islam kembali menjadi asing, seperti ketika dulu pertama kali diperkenalkan oleh Rasulullah
Akan tiba masa, ketika umat membela maksiat dan memusuhi kebaikan.
Akan tiba masa, ketika kebaikan diangggap aneh dan memalukan, sedangkan kemaksiatan dianggap biasa, keren dan modern
Akan tiba masa, ketika umat penuh semangat mengerjakan bid'ah, dan malas-malasan menerapkan sunnah.
Akan tiba masa, ketika orang yang menerapkan ajaran Islam disebut sesat, sedangkan orang yang mengerjakan kemungkaran dipuja-puja.
Akan tiba masa ketika tokoh-tokoh yang jauh dari agama dipuja-puja, sementara para ulama dicaci-maki.
Akan tiba masa, ketika aliran sesat dibela-bela, namun Islam yang lurus disebut fundamentalis, teroris, dan sebagainya.
Akan tiba masa, ketika umat lebih percaya kepada tradisi ketimbang dalil Al Quran dan Hadits.
Akan tiba masa, ketika umat marah dan ngamuk-ngamuk saat tokoh idola mereka dikritik. Tapi mereka santai saja ketika Rasulullah dihina.
Akan tiba masa... ah... apakah masa itu sudah tiba dan kita sedang terlibat di dalamnya?
Semoga kita tetap berada di jalan yang lurus, yang sesuai Al Quran dan Sunnah, walau semua orang berkata kita gila, aneh, teroris, fundamentalis, dan sebagainya.
Penilaian terbaik hanya dari Allah semata.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
Jakarta, 16 Juli 2014
Jonru

Tuesday, June 24, 2014

Berpikir Ulang tentang Jokowi






Sumber : here

Oleh : Sigit kamseno

Prolog

Tadi malam, akun twitter saya di-mention oleh adik dari sahabat (sangat) karib. Mention itu terhubung ke sebuah cerita fiksi tentang santri yang mendapatkan pencerahan dari seorang kyai. Bahwa untuk hadapi pilpres 9 Juli nanti, tak perlu bawa-bawa agama. “Tuhan tak perlu dibela. Agama terlalu besar untuk sekadar urusan politik”, kurang lebih demikian kata kyai itu sambil memegang cerutu.

Saya tahu kemana arah narasi fiktif itu. Sebuah cerpen ideologis yg, tentu saja, tidak bebas nilai. Cerpennya sekular, penulis tersebut berhasrat untuk menceraikan sentimen agama dari konstelasi politik. Sebuah cara pandang yg, dalam konteks Indonesia, ahistoris. Dan tentu saja, cerpen ini banyak di-share oleh pemilih Jokowi-JK, karena semangat memilih berdasarkan alasan-alasan agama nampaknya memang lebih kental di kubu nomor satu, pendukung pasangan Prabowo-Hatta.

Nilai dari cerita fiktif tersebut berbeda dengan apa yang secara nyata saya alami. Beberapa waktu lalu, bersama sejumlah alumni pondok, saya sowan ke seorang kyai besar. Pimpinan pondok pesantren sekaligus pengurus di PBNU (saya selalu merasa senang menjadi bagian dari warga NU). Tanpa diduga, kyai tersebut justru memulai “percakapan ringan” dengan ngobrol-ngobrol seputar ingar bingar pilpres. Dalam obrolan tersebut, raut wajah beliau nampak kecewa kepada Jokowi yang meninggalkan orang-orang non Muslim sebagai penggantinya. Katakanlah Fransiskus Xaverius Hadi Rudyatmo, seorang Katholik yang kini memimpin Kota Solo selepas ditinggal Jokowi. Atau Ahok, yang akan menggantikan Jokowi sebagai Gubernur Jakarta jika Jokowi menang pilpres.

Saya sejujurnya tidak mau membawa isu agama di tulisan ini. Lagipula ini hanya tulisan ringan untuk menemani iseng macet Jakarta pagi hari. (Mas Joko, macet tambah parah saja nih. Selese-in dulu dunk :p). Saya khawatir tulisan ini dianggap berbau sara sekalipun tak ada motif untuk itu sama sekali. Saya hanya ingin sampaikan bahwa Sang Kyai yang saya temui, nampak kecewa dengan pasangan Jokowi-JK dengan alasan tadi.

Lagipula, seperti yang saya katakan di muka, dalam konteks historis-politik di Indonesia, menceraikan Islam dari politik adalah hal yang ahistoris, dan  bertentangan dengan dua hal: pertama, bertentangan dengan sejarah dan konsep Islam itu sendiri. Kedua, bertentangan dengan cita-cita para founding fathers negara kita.


Relasi Islam-Politik

Islam dan politik adalah pasangan yang sah. Tidak seperti yang secara pejoratif acap didengungkan oleh anak-anak Islam liberal bahwa kita harus menghentikan “perselingkuhan Islam dan politik”. Mereka lupa, bahwa Islam dan politik tak pernah selingkuh. Islam dan politik adalah pasangan yang sah. Sememangnya, setiap orang punya kosa kata yang akrab dengan keseharian mereka. :-)

Saya selalu tertarik dengan apa yang ditulis oleh Ian Adams dalam bukunya 'Political Ideology Today', (btw saya cuma baca terjemahannya yang diterbitkan oleh Penerbit Qalam :D). Ketika membahas hubungan Islam dengan politik,pemikir dari Durham Unversity, Inggris itu mengakui bahwa sejak kelahirannya, Islam adalah agama paling politis di dunia. Sejak masa awal, Muhammad adalah seorang Nabi sekaligus pemimpin negara. Sejak masa awal itu, bahkan hingga kini, Islam ditegakkan oleh kebijakan-kebijakan yang tak lepas dari faktor politik.

Dari situlah kemudian kita paham mengapa seorang “professor” besar penulis Ihya Ulumuddin, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali mengatakan bahwa Islam dan Negara seumpama fondasi dan penjaganya. Sesuatu tanpa fondasi akan runtuh, dan fondasi tanpa penjaga kan hilang. Dari situ pula kita pahami mengapa terdapat segambreng ulama dari masa klasik hingga modern yang menulis tentang politik Islam. Mulai dari Ibn Abi Rabi' dengan Suluk al-Malik fi Tadbir al-Mamalik-nya, al-Farabi dengan konsep Madinatul Fadhilah-nya, imam al-Mawardi dengan ‘masterpiece’-nya al-Ahkam al-Sulthaniyyah, al-Ghazali seperti saya sebutkan di awal, ibn Taimiyah yang menulis al-Siyasah al-Syar’iyyah, hingga Abul A'la al-Maududi dengan al-Khilafah wa al Mulk,  Sayyid Quthb dengan sejumlah tulisannya, terutama al-‘adalah al-Ijtima’iyyah fil Islam, dan paling modern Syaikh Yusuf al-Qaradhawy dengan Fiqh Daulah-nya, dan seterusnya.. dan seterusnya. Tentu saja, pemikiran-pemikiran mereka tidak lahir dari ruang hampa. Tapi lahir dari sebuah fakta menarik bahwa Islam sejatinya tidak bisa dilepaskan dari politik. (dalam hal ini menarik untuk dikomparasi dengan dengan gagasan filosof Romawi abad IV, St.Agustinus mengenai doktrin Civitas Dei versus Civitas Terrena.

Itulah mengapa saya katakan, menceraikan Islam dari politik bertentangan dengan konsep Islam itu sendiri, selain tentu saja sebuah hal yang ahistoris.

Dosen ilmu politik saya, Prof. Bachtiar Effendy, dalam tulisannya berjudul “Disartikulasi Pemikiran PolitikIslam?” mengatakan, “(karena) Pemikiran politik Islam menjadikan Qur’an dan Sunnah sebagai rujukan,...juga sejarah Nabi Muhammad dan para sahabat dijadikan sebagai parameter dan inspirasi rumusan pemikiran politik Islam.. maka disitu ada klaim kebenaran (truth claim) yang dianggap berdimensi ilahiah, bahkan kadang-kadang berimplikasi teologis”

Islam, Politik, Indonesia

Kedua, selain ahistoris dari perspektif sejarah Islam tadi, memisahkan sudut pandang agama dari konstelasi politik Indonesia juga bertentangan dengan cita-cita para pendiri republik ini. Adalah Firdaus AN, dalam bukunya yang terkenal “Dosa-dosa Orde Baru yang Tidak Boleh Terulang”, menggambarkan konflik yang terjadi pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Panitia Sembilan yang mewakili Islam, Nasionalis, dan Kristen yang merumuskan dasar negara sebetulnya sudah bersepakat untuk memasukan Piagam Jakarta sebagai bagian tak terpisahkan dari konstitusi. Kalimat ‘Ketuhanan YME denganKewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya’ lahir sebagai sebuah kesepakatan yang menurut Dr.Soekiman merupakan aGentlement Agreement, atau menurut Prof.Soepomo sebagai sebuah ‘Kesepakatan yang Luhur’. Sayangnya, hasil perundingan berbulan-bulan itu di-delete dalam waktu sekejap hanya untuk mengakomodir ancaman seseorang yang mengklaim sbg wakil dari Indonesia Timur, yang setelah dilakukan penelitian oleh University belakangan diketahui bernama Saul Samuel Jacob Samratulangi.

Meski demikian, sekalipun “tujuh kata sakral” itu di-delete, semangat untuk tetap mengagregasikan agama dengan politik tidak pudar. Kalimat Ketuhanan YME pada sila pertama Pancasila, atau rasa Syukur atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa pada Muqaddimah UUD ‘45  menjadi bukti dari sebentuk keyakinan, bahwa iman pada Tuhan tak bisa lepas dari semangat politik kenegaraan kita. Sebuah rasa syukur bahwa negara ini sejatinya berdiri di atas pundak para ulama. Nusantara terhampar di atas banjir darah para syuhada. Semoga rekan-rekan tidak lupa bahwa Takbir Bung Tomo yang menggelorakan semangat jihad melawan Belanda kemudian membuat arek-arek Surabaya tak kenal takut untuk membebaskan Nusantara. Takbir tersebut juga lahir dari fatwa Resolusi Jihad para ulama yang berkumpul di Surabaya pada 22 Oktober 1945 di bawah pimpinan Hadhratusyaikh Hasyim Asy'ari.. (Tiba2 saya ingin menangis...).

Artinya adalah, gagasan untuk menjauhkan agama dari politik keindonesiaan adalah hal yang ahistoris dalam sejarah negara kita. Indonesia tak mungkin menjadi negara sekular yang memisahkan sentimen agama dari ranah politik. Itulah mengapa saya tetap meyakini bahwa doktrin politik aliran yang ditetaskan Indonesianis “Abad Pertengahan Indonesia”, Clifford Geeetz akan tetap ada, ibarat cintanya Sammy Simorangkir, tak lekang oleh waktu.

Sekadar salah satu contoh paling riil, kita memahami mengapa kalangan umat Islam, khususnya kader-kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) misalnya, sangat intens berkampanye di dunia nyata dan maya dengan semangat agama. Dan tanpa kita sadari, dengan modal pendidikan yang relatif tinggi dan melek teknologi, hembusan “perang ideologi” yang ditebar “anak-anak muda hasil tarbiyahan” itu efektif merubah mindset publik lewat perang akbar di dunia maya. Sejauh pengamatan saya yang faqir ilmu namun ganteng ini B-) , “pasukan PKS” lah yang paling besar berperang sbg counter opinion bagi ideologi yang mereka sebut 'Sepilis' (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme). Hal ini karena mereka memahami bahwa kampanye politik yang mereka lakukan adalah bagian dari dakwah. Bagi ‘anak-anak tarbiyahan’, politik adalah satu dari sayap-sayap Islam sebagaimana sayap lainnya semisal ekonomi, budaya, pertahanan, pendidikan, dll., sesuai dengan konsep 'kesempurnaan Islam' (syumuliyatul Islam) yang mereka imani.

***

Menimbang Jokowi Lewat PDIP
(Nah, bicara kita sudah ngalor-ngidul. Saya intip jendela baru nyampe Jatinegara. Lanjut..)
Berkaitan dengan itulah, menjadikan pertimbangan agama sebagai parameter dalam menentukan pilihan politik, dalam hal ini Pilpres, adalah hal yang sangat relevan. Dan Jokowi terganjal oleh sentimen ini. Bagaimanapun kita mesti memahami bahwa mantan walikota solo itu merupakan bagian tak terpisahkan dari PDIP. Jokowi mau maju sebagai Capres hanya setelah direstui oleh Ketum PDIP, Megawati Soekarno Putri. Bahkan, yang tak boleh kita lupa adalah, Megawati berpesan sekalipun Jokowi terpilih kelak, pria kotak-kotak itu tetap merupakan kader PDIP.

Mudah untuk menafsirkan kalimat tersebut, bahwa yang dimaksud adalah sekalipun Jokowi terpilih sebagai Presiden, ia tetap kader yang mesti patuh kepada asas, visi misi, dan garis besar partai. Menjalankan visi misi dan rule partai. Padahal, PDIP sendiri merupakan  sebuah partai yang punya track record kurang harmonis terutama terhadap regulasi yang beririsan dengan kepentingan umat Islam. Ini yang perlu dikhawatirkan.

PDIP adalah partai yang menolak UU Pendidikan Nasional yang berisi agar Setiap murid di sekolah mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh guru yang seagama. Artinya, anak-anak Muslim yang bersekolah di sekolah-sekolah Kristen berhak untuk mendapatkan guru agama Islam yang beragama Islam. Tidak diajarkan kebaktian. Mengapa PDIP menolaknya? PDIP juga Juga menolak UU Perbankan Syariah, UU Jaminan Produk Halal, UU anti Pornografi, dan tentu saja yang terbaru, PDIP merupakan satu-satunya fraksi di DPRD yang menolak penutupan lokasi maksiat Dolly di Surabaya. PDIP pula yang memerintahkan kadernya untuk menginteli para khatib di masjid-masjid.

Sejumlah track record tersebut kemudian melahirkan persepsi bahwa PDIP sebetulnya merupakan partai yang memang anti Islam, dan sama sekali tak akan mendukung aspirasi umat Islam. Dalam kacamata sosiologis, pandangan masyarakat terhadap PDIP ini tentu merupakan hal yang sah dan tak bisa disalahkan. Masyarakat menilai dari apa yang mereka ketahui. Persepsi tersebut juga melahirkan kekhawatiran di tubuh umat Islam, --dan sentimen ini kemudian berkembang—terutama dalam proses pembuatan UU di DPR bersama pemerintah seandainya Jokowi terpilih sebagai presiden.

Bagaimana mungkin aspirasi umat Islam, misalnya, sebagai bagian terbesar dari komposisi rakyat Indonesia, akan terakomodasi jika pemerintah yang mengusulkan RUU dan DPR yang kemudian menggodoknya sebelum menjadi UU, adalah kalangan yang anti Islam, atau tidak beragama Islam?

Jangan lupa, Caleg non-Muslim dari PDIP pada Pemilu laluberjumlah 183 orang atau setara dengan 52%! Sangat tidak proposional dengan komposisi umat beragama di Indonesia. Mau seobjektif apapun, secara naluriah sejumlah caleg ini sekiranya terpilih tentu punya sudut pandang subjektif sesuai agama mereka.

Apakah mereka akan membela aspirasi atau regulasi yang memayungi umat Islam? Sulit untuk mengatakan iya. Jika kemudian pemerintahan di bawah Jokowi, yang di-back up oleh PDIP di parlemen itu, berkawin dengan anggota dewan yang demikian, kita akan memahami bahwa kekhawatiran umat Islam tersebut sebetulnya adalah hal yang wajar. Track record adalah parameter yang ilmiah untuk menilai sesuau, kan? Belum lagi melihat fakta bagaimana Jokowi menjadikan seorang non Muslim sbg walikota di Solo,  juga gubernur di DKI seperti disinggung di muka...

Sebetulnya jika kita melihat fakta sejarah tentang PDIP, kita akan melihat bahwa PDI (sebelum pecah antara PDI Soerjadi dengan PDI Megawati) sejak mula memang merupakan fusi atau gabungan dari “partai-partai non Islam" pada 1973. PDI adalah produk penyederhanaan partai pada masa Soeharto yang merupakan fusi dari tiga partai secular (PNI, Murba, dan IPKI) dan dua partai Kristiani (Partai Kristen Indonesia/Parkindo, dan Partai Katolik.

Dari situ kita paham mengapa sejumlah tokoh  yang dianggap tidak sejalan dengan Islam bergabung di PDI, karena PDI adalah kendaraan paling dekat secara ideologi dengan mereka. Kita bisa menyebut beberapa nama seperti Ribka Tjipating Proletariati (anak seorang Tapol PKI), atau Budiman Sudjatmiko yang disebut-sebut berhaluan kiri. Atau sejumlah tokoh Kristen seperti Panda Nababan, Sabam Sirat, dll. Pasca koalisi Pilpres ini, beberapa tokoh yang memiliki track record tidak baik di mata umat Islam juga bergabung dengan kubu Jokowi yang dimotori PDIP, katakanlah AM.Hendropriyono yang disebut-sebut bertanggungjawab atas pembantaian umat Islam di Talangsari pada 1989.

Point saya, persepsi-persepsi seperti yang saya tulis di atas adalah pandangan yang eksis di tengah-tengah masyarakat kita.

Epilog

Sebagai sebuah epilog, tentu saja sebagai Muslim kita berkewajiban untuk saling mengingatkan. Mengingatkan bahwa semua pilihan kita di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Sekecil apapun. Termasuk pilihan-pilihan politik, apalagi yang berimplikasi pada nasib 207 juta lebih umat Islam (survei BPS tahun 2010 menyebut jumlah umat Islam di Indonesia adalah 207 juta dari 237juta penduduk),

Bayangkan berapa banyak orang yang akan menanggung akibat dari regulasi yang salah, seandainya kita menjatuhkan pilihan yang keliru dalam pilpres nanti. Padahal kita memahami -bahkan- seberat dzarrah (ukuran terkecil dari sesuatu) pun amal-amal kita akan dipertanggungjawabkan di Mahkamah Akhirat kelak.

Apa yang akan kita katakan, di Mahkamah Yang Maha Adil itu?

Wednesday, March 26, 2014

Hukum Pemilu by @Ala_Qsho

Bismillah. Lagi buka twitter saya nemu tulisan menarik dari teman saya di SMA, kultweet oleh @ala_qsho
Silahkan disimak. Mengenai Hukum Pemilu. Insya Allah bermanfaat.

"Perlu dicatat bahwa tidak ada keterpihakan terhadap suatu organisasi tertentu. Pilih lah dengan hati nurani anda di tanggal 9 april 2014 nanti"


Pemilu!


1. Saya mau bahas hukum pemilu menurut apa yg Habib Rizieq sampaikan kmrn malam

2. Mungkin ada banyak ulama yg berbeda pendapat tentang hukum ikut pemilu nanti tanggal 9 April

3. Sebagian ada yang mengatakan wajib, kemudian ada yang bilang mubah, dan ada juga yang mengatakan HARAM.. WOW..

4. Kalau Majelis Mujahidin sendiri telah merilis pernyataan bahwa hukum ikut pemilu itu mubah

5. Namun ada juga organisasi yang mengharamkan untuk ikut pemilu

6. Jadi waktu malam kemarin Habib memberikan analogi untuk yg mengatakan bahwa pemilu itu haram seperti babi

 7. Hukum asal babi itu apa ? Kita pasti sudah tahu kalau hukum babi itu adalah haram

 8. Namun ada saat dimana babi tersebut menjadi boleh, Kapan ? Saat kita benar2 terdesak karena kelaparan

 9. Hukum tersebut berlaku ketika tidak ada lagi sesuatu yang dapat dimakan, kecuali hanya babi itu sendiri yg dapat dimakan

 10. Mungkin kita dpt mengambil contoh sprti yg terjadi di suriah, mereka terpaksa makan singa dan kucing karna hanya itu yg ada

 11. Kembali ke pemilu, pemilu merupakan satu2nya cara agar kita dapat dipimpin oleh orang Islam itu sendiri

 12. Tentunya bukan hanya Islam saja, tapi juga mampu mempraktikan keislamannya dalam kepemimpinannya

 13. Dan kenapa hal ini begitu mendesak ? Karena musuh2 Islam telah bersekongkol agar dapat menguasai bangsa kita

 14. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa draft Undang2 tentang miras dan kesetraan gender telah menunggu di DPR

 15. Jika pada pemilu nanti yang terpilih adalah orang2 syiah, liberal dan sebagainya. Apa yang dapat kita bayangkan ? NGERIII

 16. Meraka (liberal,syiah,dll) akan dengan mudah mengesahkan Undang2 tsb untuk disahkan, tentunya yg sesuai dg selera mereka

 17. Dan jika itu terjadi, Hancurlah negeri kita !!!

 18. Oleh karenanya penting bagi umat Islam untuk memilih pemimpin yg mampu dan berkomitmen dlm menegakkan syariat Islam

 19. Dan juga untuk pemilihan presiden, dibutuhkan suara yang cukup dari partainya agar dapat mengusung calonnya sendiri

 20. Dan jika partai Islam telah memiliki suara yg cukup di atas electoral threshold, maka dapat mengusung calonnya sendiri

21. Maka dari itu hendaknya pada pemilu tanggal 9 April nanti kita memilih partai Islam yg komitmen trhdap ajaran Islam

 22. Dan tentunya partai Islam yang kredibel yang telah teruji kualitasnya

 23. Saya tdk b'maksud untuk m'kampanyekan salah satu partai Islam, tapi tujuan saya agar kita dpt memilih sesuai keyakinan kita











 

Sunday, February 2, 2014

Doa Penyembuh Segala Penyakit

Al-Hakim, Abu ya’la, Ibn abi Hatim, Ibn sunni dan al-Tirmidzi meriwayatkan daripada Ibn Mas’ud bahawa beliau telah membacakan ayat-ayat ini ke telinga seorang pesakit, lalu sembuhlah dia. Nabi s.a.w. telah bertanya kepadanya: “Apakah yang dibacanya itu?” Beliau menjawab: “ayat-ayat terakhir daripada surah al-Mu’minun.” Nabi bersabda: “Demi Tuhan yang nyawaku berada pada tangan-Nya, jika dibaca oleh seseorang kamu dengan yakin kepada gunung nescaya akan pecah gunung itu.” (ad-Durrul Manthur, tafsir ayat 115-118, surah al-Mu’minun)








115.       "Maka adakah patut kamu menyangka bahawa Kami hanya menciptakan kamu (dari tiada kepada ada) sahaja dengan tiada sebarang hikmat pada ciptaan itu? Dan kamu (menyangka pula) tidak akan dikembalikan kepada Kami?". (Al Mu’Minun 115)

116.       Maka (dengan yang demikian) Maha Tinggilah Allah Yang Menguasai seluruh alam, lagi Yang Tetap Benar; tiada Tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai Arasy yang mulia.(Al Muminun 116)

117.       Dan sesiapa yang menyembah tuhan yang lain bersama-sama Allah, dengan tidak berdasarkan sebarang keterangan mengenainya, maka sesungguhnya hitungannya (dan balasan amalnya yang jahat itu) disediakan di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir tidak akan berjaya. (Al Mu’Minun 117)

118.       Dan berdoalah (wahai Muhammad dengan berkata): "Wahai Tuhanku, berikanlah ampun dan kurniakan rahmat, dan sememangnya Engkaulah sahaja sebaik-baik Pemberi rahmat!"(Al Mu’minun 118)