Terimakasih Pak SBY...
Tetap Berkarya Pak Prabowo...
Selamat Bertugas Pak Jokowi...
3 baris kalimat ini mungkin bisa menjadi wakil dari ungkapan pribadi saya.
Ya, 10 tahun sudah SBY memimpin negeri ini. Alhamdulillah sudah banyak perubahan dan kemajuan yang dialami.Dibalik kesuksesan itu pasti pula banyak kesalahan dan kekhilafan terdapat dibelakangnya.
Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kehilafan bapak yang terjadi khususnya 10 tahun memerintah dan mengemban amanah.
Terimakasih Pak SBY,kami akan merindukanmu.....
Begitu juga Pak Prabowo, setelah menyelesaikan prosesi pemilu dan segala hasilnya di MK. Kembalilah menjadi seorang negarawan yang bersahaja, kritis, juga ikut serta membangun negeri ini. Tetap jaga semangat nasionalisme agar bersama menjaga negeri ini dari gempuran pihak asing.
Semoga Allah menguatkan hati bapak untuk terus berjuang dalam membangun negeri yang dicintai ini.
Tetap berkarya Pak Prabowo,perjuanganmu kami tunggu...
Dan, secara resmi Indonesia telah memiliki Presidennya yang baru, Pak Jokowi. Sekarang beliaulah pemimpin kita. Saatnya untuk mendukung, bahu membahu dengan semangat gotong royong untuk menjadikan Indonesia jauh lebih baik dari sebelumnya, baik pemerintahan, kinerja, pendidikan,dan pembangunan bangsa ini. Harapan besar kami ada di pundakmu, Pak Jokowi. Jadilah pemimpin yang amanah, jujur,dan bijak dalam menghadapi permasalahan bangsa.
Semoga Allah melindungi dan merahmati bapak serta wakil dalam memimpin negeri ini. Juga diberikan petunjuk dan istiqomah dalam memberikan kemaslahatan bagi ummat.
Selamat bertugas Pak Jokowi...
#TerimakasihSBY , #TetapBerkaryaPrabowo , #SelamatBertugasJokowi
======================================================================
Tulisan bagus dari salah seorang teman di facebook; sayangnya saat ane mau menyertakan sumber, tab sudah keburu ketutup.
Showing posts with label adil. Show all posts
Showing posts with label adil. Show all posts
Monday, October 20, 2014
Monday, September 24, 2012
Sebuahh Kutipan dari Ustadz Rahmat Abdullah
Foto diambil dari Islamedia
Berikut ana mau share tentang suatu perkataan dari ust. Rahmat Abdullah(Alm.)
Semoga dengan membaca ini semakin memperkokoh kita di jalan dakwah yang semakin berliku..
Aku rindu zaman ketika halaqoh
adalah keperluan,
bukan sekedar sambilan apalagi
hiburan …
Aku rindu zaman ketika mambina
adalah kewajiban
bukan pilihan apalagi beban dan
paksaan …
Aku rindu zaman ketika dauroh
menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelangkap pengisi
program yang dipaksakan …
Aku rindu zaman ketika tsiqoh
menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi
kecurigaan …
Aku rindu zaman ketika tarbiyah
adalah pengorbanan,
bukan tuntutan, hujatan dan
obyekan….
Aku rindu zaman ketika nasihat
menjadi kesenangan
bukan su’udzon atau
menjatuhkan …
Aku rindu zaman ketika kita
semua
memberikan segalanya untuk
da’wah ini …
Aku Rindu zaman ketika nasyid
ghuroba
manjadi lagu kebangsaan…
Aku rindu zaman ketika hadir liqo
adalah kerinduan
dan terlambat adalah kelalaian …
Aku rindu zaman ketika malam
gerimis
pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan uang yang cukup2
dan peta tak jelas …
Aku rindu zaman ketika seorang
ikhwah
benar-benar berjalan kaki 2 jam
di malam buta sepulang tabligh
da’wah di desa sebelah …
Aku rindu zaman ketika pergi liqo
selalu membawa infaq, alat tulis,
buku catatan
dan qur’an terjemah ditambah
sedikit hafalan …
Aku rindu zaman ketika binaan
menangis
karena tak bisa hadir di liqo …
Aku rindu zaman ketika tengah
malam pintu diketuk
untuk mendapat berita kumpul di
subuh harinya …
Aku rindu zaman ketika seorang
ikhwah
berangkat liqo dengan wang
belanja esok hari untuk
keluarganya …
Aku rindu zaman ketika seorang
murobbi
sakit dan harus dirawat,
para binaan patungan
mengumpulkan dana apa adanya
…
Aku rindu zaman itu …
Ya Rabb …
Jangan Kau buang kenikmatan
berda’wah dari hati-hati kami …
Ya Rabb …
Berikanlah kami keistiqomahan di
jalan da’wah ini …
KH RAHMAT ABDULLAH
Monday, September 3, 2012
Masa sih cape-cape kuliah malah jadi pengangguran ??
Sebenarnya sulit untuk masuk ke pikiran masyarakat yang masih tabu akan
pentingnya ilmu itu. Jujur, saya kuliah bukan untuk mencari kerja tapi
saya mencari ilmu. Jika saya kuliah untuk mencari kerja, “BODOH” itu
namanya.
BODOH ?? ya. Saya bilang betapa bodohnya diri saya. Jika anda belum paham dengan tulisan saya, saya akan beri penjelasan mengenai orang bodoh vs orang pintar yang saya ambil dari “MARIO TEGUH” :
Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis…
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,
dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Saya yakin pasti akan timbul pertanyaan..
1. Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
3. Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
4. Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??
intinya jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh. Kata kunci nya adalah ‘resiko’ dan ‘berusaha’,
karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh…
Diamanakah posisi anda saat ini…
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan. Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya, Lalu perhatikan apa yang terjadi…
Terima Kasih…..saya hanya calon sarjana yang “bodoh”!!
Sumber : Sumber
------------------------------------------------xxxx---------------------------------------------------
Sedikit kata dari saya, "Bahwa kesuksesan seorang manusia itu tidak ditentukan dengan bagusnya nilai di ijazah, juga bukan karena seringnya kehadiran di kelas, melainkan kemampuan orang itu untuk melihat peluang dan usaha yang tidak ada habisnya hingga mencapai tujuannya". Semoga ada yang tersadar dan terketuk hatinya, terutama MAHASISWA..
M Luthfan Mursyidan
BODOH ?? ya. Saya bilang betapa bodohnya diri saya. Jika anda belum paham dengan tulisan saya, saya akan beri penjelasan mengenai orang bodoh vs orang pintar yang saya ambil dari “MARIO TEGUH” :
Orang bodoh sulit dapat kerja, akhirnya berbisnis…
Agar bisnisnya berhasil, tentu dia harus rekrut orang pintar.
Walhasil boss-nya orang pintar adalah orang bodoh.
Orang bodoh sering melakukan kesalahan,
maka dia rekrut orang pintar yang
tidak pernah salah untuk memperbaiki yang salah.
Walhasil orang bodoh memerintahkan orang pintar untuk keperluan orang bodoh.
Orang pintar belajar untuk mendapatkan ijazah untuk selanjutnya
mencari kerja. Orang bodoh berpikir secepatnya mendapatkan uang untuk
membayari proposal yang diajukan orang pintar.
Saat bisnis orang bodoh mengalami kelesuan,
dia PHK orang-orang pintar yang berkerja.
Tapi orang-orang pintar DEMO. Walhasil orang-orang pintar
‘meratap-ratap’ kepada orang bodoh agar tetap diberikan pekerjaan.
Tapi saat bisnis orang bodoh maju, orang pinter akan menghabiskan waktu
untuk bekerja keras dengan hati senang, sementara orang bodoh menghabiskan
waktu untuk bersenang-senang dengan keluarganya.
Mata orang bodoh selalu mencari apa yang bisa di jadikan duit.
Mata orang pintar selalu mencari kolom lowongan perkerjaan.
Saya yakin pasti akan timbul pertanyaan..
1. Mendingan jadi orang pinter atau orang bodoh??
2. Pinteran mana antara orang pinter atau orang bodoh ???
3. Mana yang lebih mulia antara orang pinter atau orang bodoh??
4. Mana yang lebih susah, orang pinter atau orang bodoh??
intinya jangan lama-lama jadi orang pinter, lama-lama tidak sadar bahwa dirinya telah dibodohi oleh orang bodoh.
Jadilah orang bodoh yang pinter dari pada jadi orang pinter yang bodoh. Kata kunci nya adalah ‘resiko’ dan ‘berusaha’,
karena orang bodoh perpikir pendek maka dia bilang resikonya kecil, selanjutnya dia berusaha agar resiko betul-betul kecil. Orang pinter berpikir panjang maka dia bilang resikonya besar untuk selanjutnya dia tidak akan berusaha mengambil resiko tersebut. Dan mengabdi pada orang bodoh…
Diamanakah posisi anda saat ini…
Berhentilah meratapi keadaan anda yang sekarang…
Ini hanya sebuah Refleksi dari semua Retorika dan Dinamika kehidupan. Semua Pilihan dan Keputusan ada ditangan anda untuk merubahnya, Lalu perhatikan apa yang terjadi…
Terima Kasih…..saya hanya calon sarjana yang “bodoh”!!
Sumber : Sumber
------------------------------------------------xxxx---------------------------------------------------
Sedikit kata dari saya, "Bahwa kesuksesan seorang manusia itu tidak ditentukan dengan bagusnya nilai di ijazah, juga bukan karena seringnya kehadiran di kelas, melainkan kemampuan orang itu untuk melihat peluang dan usaha yang tidak ada habisnya hingga mencapai tujuannya". Semoga ada yang tersadar dan terketuk hatinya, terutama MAHASISWA..
M Luthfan Mursyidan
Thursday, August 9, 2012
PKS(PK) engkau dulu dan kini.-Sebuah kritik dari saya untukmu para kader-
PKS, sebuah
partai dengan basis dakwah dan merupakan
singkatan dari Partai Keadilan Sejahtera. Partai yang mengusung tag, “bersih,
peduli dan professional”. Partai yang berlambang padi dan berwarna hitam dan
kuning. Partai dengan ikhwan dan akhwatnya yang berpakaian rapi, setidaknya
yang sering aku lihat di sekitar saya. Dan terakhir, partai yang aku kagumi.
Secara
jujur, judul diatas bukanlah untuk menyudutkan para ikhwah PKS sendiri, namun
semoga menjadi teguran dan pencerminan kita untuk intropeksi di masa mendatang.
Aku melihat
PKS sekarang seakan haus akan jabatan, ghirahmu kurasakan hilang. Dimana
kesederhanaan itu?. Aku tahu figur-figur macam Ustadz Hidayat Nur Wahid yang
memang aku akui beliau bijaksana, ustadz Nur Mahmudi Ismail yang aku suka
senyumnya yang tenang, dan berbagai kader lain yang tidak dapat aku sebut,
tolong maafkan. Aku merasa kesederhanaan mu memudar wahai PKS. Aku merindukan
saat-saat dulu, ketika kampanye dirasa dengan semangat yang berkobar. Indah aku
rasa.
Aku juga
ingin menyampaikan keluhanku kepada para kader yang mengisi posisi jabatan di
kursi DPR. Janganlah kamu lupa wahai para kader bahwa jabatan itu akan
dipertanyakan oleh Allah swt kelak. Kebenaran dan kesalahannya,
pertanggungjawaban mu akan dimintai di akhirat. Pertanyaan ku adalah apakah
kalian sudah merasa bahwa kinerja kalian sudah benar? Aku tidak berkata bahwa
kerja kalian salah, tapi kumohon untuk intropeksi diri. Aku mohon.
Taukah
kalian wahai kader-kader yang hidup berkecukupan bahkan lebih? Aku ingin
bertanya, apakah kalian tau bagaimana nasib kawan-kawan kader lain yang
memasang spanduk, baliho hingga jam 2 malam. Apakah kalian tau nasib mrk apakah
mrk sudah makan hari ini atau belum? Ataukah kalian sudah memuliakan tetangga
kalian yang hidup dibawah rata-rata?. Harta itu tidak akan dibawa mati, hanya
itu yang ingin kusampaikan. Rasulullah Saw, kemuliaan hanya untuknya, bahkan
tidak meninggalkan sepeserpun harta ketika beliau meninggal. Beliau hidup dalam
kesederhanaan. Ketika aku baca Sirah Nabi Muhammad Saw, aku tertegun. Sudahkan
kita hidup sebagaimana beliau? Padahal beliau adalah suri tauladan kita.
Aku
merindukan pemimpin seperti Umar bin
Khattab yang tegas, namun jiwanya lebut ketika dibacakan Al-Quran. Aku juga
merindukan pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz yang memiliki kisah
kesederhanaan yang luar biasa. Padahal beliau tidak bertemu baginda Rasulullah
Saw.
Aku
berharap para kader membaca ini, agar menjadi teguran bagi kita semua. Semoga
Allah swt tetap merestui jalan dakwah kita, agar Islam Berjaya, agar islam
menjadi rahmatan lilalamin bagi kita semua. Insya Allah.
Wallahualam..
Muhammad Luthfan Mursyidan
mursyidanluthfan@gmail.com
Subscribe to:
Posts (Atom)

