Showing posts with label polisi. Show all posts
Showing posts with label polisi. Show all posts
Thursday, February 5, 2015
Polisi Jujur Di Indonesia Sudah Tiada
Mantan Presiden Gus Dur punya anekdot, hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia. Ketiganya adalah patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng Iman Santosa. Ini semacam sindiran bahwa sulit mencari polisi jujur di negeri ini. Kalaupun ada, langka dicari.
Polisi Hoegeng adalah satu teladan polisi jujur yang kisah dan kiprah selalu layak diceritakan turun-temurun. 14 Oktober 1921, tepat 91 tahun lalu, Hoegeng lahir di Pekalongan. Inilah beberapa cerita dan kiprah polisi Hoegeng sejak merintis karir sebagai polisi, sebagai dirjen imigrasi hingga berpuncak pada karir sebagai Kapolri.
Kisah-kisah yang menyentuh dan menggetarkan hati ini beberapa dikutip dari memoar Hoegeng, Polisi antara Idaman dan Kenyataan, karangan Ramadhan KH.
1. Larang istri buka toko bunga
Sebagai perwira, Hoegeng hidup pas-pasan. Untuk itulah istri Hoegeng, Merry Roeslani membuka toko bunga. Toko bunga itu cukup laris dan terus berkembang.
Tapi sehari sebelum Hoegeng akan dilantik menjadi Kepala Jawatan Imigrasi (kini jabatan ini disebut dirjen imigrasi) tahun 1960, Hoegeng meminta Merry menutup toko bunga tersebut. Tentu saja hal ini menjadi pertanyaan istrinya. Apa hubungannya dilantik menjadi kepala jawatan imigrasi dengan menutup toko bunga.
“Nanti semua orang yang berurusan dengan imigrasi akan memesan kembang pada toko kembang ibu, dan ini tidak adil untuk toko-toko kembang lainnya,” jelas Hoegeng.
Istri Hoegeng yang selalu mendukung suaminya untuk hidup jujur dan bersih memahami maksud permintaan Hoegeng. Dia rela menutup toko bunga yang sudah maju dan besar itu.
“Bapak tak ingin orang-orang beli bunga di toko itu karena jabatan bapak,” kata Merry.
2. Tolak rayuan pengusaha cantik
Kapolri Hoegeng Imam Santosa pun pernah merasakan godaan suap. Dia pernah dirayu seorang pengusaha cantik keturunan Makassar-Tionghoa yang terlibat kasus penyelundupan. Wanita itu meminta Hoegeng agar kasus yang dihadapinya tak dilanjutkan ke pengadilan.
Seperti diketahui, Hoegeng sangat gencar memerangi penyelundupan. Dia tidak peduli siapa beking penyelundup tersebut, semua pasti disikatnya.
Wanita ini pun berusaha mengajak damai Hoegeng. Berbagai hadiah mewah dikirim ke alamat Hoegeng. Tentu saja Hoegeng menolak mentah-mentah. Hadiah ini langsung dikembalikan oleh Hoegeng. Tapi si wanita tak putus asa. Dia terus mendekati Hoegeng.
Yang membuat Hoegeng heran, malah koleganya di kepolisian dan kejaksaan yang memintanya untuk melepaskan wanita itu. Hoegeng menjadi heran, kenapa begitu banyak pejabat yang mau menolong pengusaha wanita tersebut. Belakangan Hoegeng mendapat kabar, wanita itu tidak segan-segan tidur dengan pejabat demi memuluskan aksi penyelundupannya.
Hoegeng pun hanya bisa mengelus dada prihatin menyaksikan tingkah polah koleganya yang terbuai uang dan rayuan wanita.
3. Mengatur lalu lintas di perempatan
Teladan Jenderal Hoegeng bukan hanya soal kejujuran dan antikorupsi. Hoegeng juga sangat peduli pada masyarakat dan anak buahnya. Saat sudah menjadi Kapolri dengan pangkat jenderal berbintang empat, Hoegeng masih turun tangan mengatur lalu lintas di perempatan.
Hoegeng berpendapat seorang polisi adalah pelayan masyarakat. Dari mulai pangkat terendah sampai tertinggi, tugasnya adalah mengayomi masyarakat. Dalam posisi sosial demikian, maka seorang agen polisi sama saja dengan seorang jenderal.
“Karena prinsip itulah, Hoegeng tidak pernah merasa malu, turun tangan sendiri mengambil alih tugas teknis seorang anggota polisi yang kebetulan sedang tidak ada atau tidak di tempat.
Jika terjadi kemacetan di sebuah perempatan yang sibuk, dengan baju dinas Kapolri, Hoegeng akan menjalankan tugas seorang polantas di jalan raya. Itu dilakukan Hoegeng dengan ikhlas seraya memberi contoh kepada anggota polisi yang lain tentang motivasi dan kecintaan pada profesi.”
Demikian ditulis dalam buku Hoegeng-Oase menyejukkan di tengah perilaku koruptif para pemimpin bangsa- terbitan Bentang.
Hoegeng selalu tiba di Mabes Polri sebelum pukul 07.00 WIB. Sebelum sampai di kantor, dia memilih rute yang berbeda dan berputar dahulu dari rumahnya di Menteng, Jakarta Pusat. Maksudnya untuk memantau situasi lalu lintas dan kesiapsiagaan aparat kepolisian di jalan.
Saat suasana ramai, seperti malam tahun baru, Natal atau Lebaran, Hoegeng juga selalu terjun langsung mengecek kesiapan aparat di lapangan. Dia memastikan kehadiran para petugas polisi adalah untuk memberi rasa aman, bukan menimbulkan rasa takut. Polisi jangan sampai jadi momok untuk masyarakat.
4. Berantas semua beking kejahatan
Banyak aparat hukum malah menjadi beking tempat maksiat, perjudian hingga menjadi bodyguard. Hanya sedikit yang berani mengobrak-abrik praktik beking ini. Polisi super Hoegeng Imam Santosa mungkin yang paling berani.
Ceritanya tahun 1955, Kompol Hoegeng mendapat perintah pindah ke Medan. Tugas berat sudah menantinya. Penyelundupan dan perjudian sudah merajalela di kota itu.
Para bandar judi telah menyuap para polisi, tentara dan jaksa di Medan. Mereka yang sebenarnya menguasai hukum. Aparat tidak bisa berbuat apa-apa disogok uang, mobil, perabot mewah dan wanita. Mereka tak ubahnya kacung-kacung para bandar judi.
Bukan tanpa alasan kepolisian mengutus Hoegeng ke Medan. Sejak muda dia dikenal jujur, berani dan antikorupsi. Hoegeng juga haram menerima suap maupun pemberian apapun.
Maka tahun 1956, Hoegeng diangkat menjadi Kepala Direktorat Reskrim Kantor Polisi Sumut. Hoegeng pun pindah dari Surabaya ke Medan. Belum ada rumah dinas untuk Hoegeng dan keluarganya karena rumah dinas di Medan masih ditempati pejabat lama.
Cerita soal keuletan para pengusaha judi benar-benar terbukti. Baru saja Hoegeng mendarat di Pelabuhan Belawan, utusan seorang bandar judi sudah mendekatinya. Utusan itu menyampaikan selamat datang untuk Hoegeng. Tak lupa, dia juga mengatakan sudah ada mobil dan rumah untuk Hoegeng hadiah dari para pengusaha.
Hoegeng menolak dengan halus. Dia memilih tinggal di Hotel De Boer menunggu sampai rumah dinasnya tersedia.
Kira-kira dua bulan kemudian, saat rumah dinas di Jl Rivai siap ditinggali, bukan main terkejutnya Hoegeng. Rumah dinasnya sudah penuh barang-barang mewah. Mulai dari kulkas, piano, tape hingga sofa mahal. Hal yang sangat luar biasa. Tahun 1956, kulkas dan piano belum tentu ada di rumah pejabat sekelas menteri sekalipun.
Ternyata barang itu lagi-lagi hadiah dari para bandar judi. Utusan yang menemui Hoegeng di Pelabuhan Belawan datang lagi. Tapi Hoegeng malah meminta agar barang-barang mewah itu dikeluarkan dari rumahnya. Hingga waktu yang ditentukan, utusan itu juga tidak memindahkan barang-barang mewah tersebut.
Apa tindakan Hoegeng?
Dia memerintahkan polisi pembantunya dan para kuli angkut mengeluarkan barang-barang itu dari rumahnya. Diletakkan begitu saja di depan rumah. Bagi Hoegeng itu lebih baik daripada melanggar sumpah jabatan dan sumpah sebagai polisi Republik Indonesia.
Hoegeng geram mendapati para polisi, jaksa dan tentara disuap dan hanya menjadi kacung para bandar judi. “Sebuah kenyataan yang amat memalukan,” ujarnya geram.
5. Hoegeng dan pemerkosaan Sum Kuning
Sumarijem adalah seorang wanita penjual telur ayam berusia 18 tahun. Tanggal 21 September 1970, Sumarijem yang sedang menunggu bus di pinggir jalan, tiba-tiba diseret masuk ke dalam mobil oleh beberapa orang pria. Di dalam mobil, Sum diberi eter hingga tak sadarkan diri. Dia dibawa ke sebuah rumah di Klaten dan diperkosa bergiliran oleh para penculiknya.
Setelah puas menjalankan aksi biadab mereka, Sum ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Gadis malang ini pun melapor ke polisi. Bukannya dibantu, Sum malah dijadikan tersangka dengan tuduhan membuat laporan palsu.
Dalam pengakuannya kepada wartawan, Sum mengaku disuruh mengakui cerita yang berbeda dari versi sebelumnya. Dia diancam akan disetrum jika tidak mau menurut. Sum pun disuruh membuka pakaiannya, dengan alasan polisi mencari tanda palu arit di tubuh wanita malang itu.
Karena melibatkan anak-anak pejabat yang berpengaruh, Sum malah dituding anggota Gerwani. Saat itu memang masa-masanya pemerintah Soeharto gencar menangkapi anggota PKI dan underbouw-nya, termasuk Gerwani.
Kasus Sum disidangkan di Pengadilan Negeri Yogyakarta. Sidang perdana yang ganjil ini tertutup untuk wartawan. Belakangan polisi menghadirkan penjual bakso bernama Trimo. Trimo disebut sebagai pemerkosa Sum. Dalam persidangan Trimo menolak mentah-mentah.
Jaksa menuntut Sum penjara tiga bulan dan satu tahun percobaan. Tapi majelis hakim menolak tuntutan itu. Dalam putusan, Hakim Ketua Lamijah Moeljarto menyatakan Sum tak terbukti memberikan keterangan palsu. Karena itu Sum harus dibebaskan.
Dalam putusan hakim dibeberkan pula nestapa Sum selama ditahan polisi. Dianiaya, tak diberi obat saat sakit dan dipaksa mengakui berhubungan badan dengan Trimo, sang penjual bakso. Hakim juga membeberkan Trimo dianiaya saat diperiksa polisi.
Hoegeng terus memantau perkembangan kasus ini. Sehari setelah vonis bebas Sum, Hoegeng memanggil Komandan Polisi Yogyakarta AKBP Indrajoto dan Kapolda Jawa Tengah Kombes Suswono. Hoegeng lalu memerintahkan Komandan Jenderal Komando Reserse Katik Suroso mencari siapa saja yang memiliki fakta soal pemerkosaan Sum Kuning.
“Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau salah tetap kita tindak,” tegas Hoegeng.
Hoegeng membentuk tim khusus untuk menangani kasus ini. Namanya Tim Pemeriksa Sum Kuning, dibentuk Januari 1971. Kasus Sum Kuning terus membesar seperti bola salju. Sejumlah pejabat polisi dan Yogyakarta yang anaknya disebut terlibat, membantah lewat media massa.
Belakangan Presiden Soeharto sampai turun tangan menghentikan kasus Sum Kuning. Dalam pertemuan di istana, Soeharto memerintahkan kasus ini ditangani oleh Team pemeriksa Pusat Kopkamtib. Hal ini dinilai luar biasa. Kopkamtib adalah lembaga negara yang menangani masalah politik luar biasa. Masalah keamanan yang dianggap membahayakan negara. Kenapa kasus perkosaan ini sampai ditangani Kopkamtib?
Dalam kasus persidangan perkosaan Sum, polisi kemudian mengumumkan pemerkosa Sum berjumlah 10 orang. Semuanya anak orang biasa, bukan anak penggede alias pejabat negara. Para terdakwa pemerkosa Sum membantah keras melakukan pemerkosaan ini. Mereka bersumpah rela mati jika benar memerkosa.
Kapolri Hoegeng sadar. Ada kekuatan besar untuk membuat kasus ini menjadi bias.
Tanggal 2 Oktober 1971, Hoegeng dipensiunkan sebagai Kapolri. Beberapa pihak menilai Hoegeng sengaja dipensiunkan untuk menutup kasus ini.
6. Selalu berpesan polisi jangan sampai dibeli
Mantan Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo punya kenangan soal Hoegeng. Widodo ingat betul pesan Hoegeng padanya.
“Mas Widodo jangan sampai kendor memberantas perjudian dan penyelundupan karena mereka ini orang-orang yang berbahaya. Suka menyuap. Jangan sampai polisi bisa dibeli,” tutur Widodo menirukan pesan Hoegeng semasa itu.
Widodo tahu Hoegeng tidak asal memberikan perintah. Hoegeng telah membuktikan dirinya memang tidak bisa dibeli. Sejak menjadi perwira polisi di Medan, Hoegeng terkenal karena keberanian dan kejujurannya. Dia tak sudi menerima suap sepeser pun. Barang-barang hadiah pemberian penjudi dilemparkannya keluar rumah.
“Kata-kata mutiara yang masih saya ingat dari Pak Hoegeng adalah baik menjadi orang penting, tapi lebih penting menjadi orang baik,” kenang Widodo.
Widodo bahkan menyamakan mantan atasannya dengan Elliot Ness, penegak hukum legendaris yang memerangi gembong mafia Al Capone di Chicago, Amerika Serikat. Saat itu, mafia menyuap hampir seluruh polisi, jaksa dan hakim di Chicago. Karena itu mereka bebas menjalankan aksi-aksi kriminal.
Tapi saat itu Elliot Ness dan kelompoknya yang dikenal sebagai The Untouchables atau mereka yang tak tersentuh suap, berhasil mengobrak-abrik kelompok gengster itu.
“Pak Hoegeng itu tak kenal kompromi dan selalu bekerja keras memberantas kejahatan,” jelas Widodo.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.
======================================================================
Seperti pesan penulis diatas, semoga polisi-polisi bisa sadar.
Instansi polri, pemerintah, selalu ada aja yang korupsi, saat ini.
Seakan-akan tidak takut akhirat kelak (non-muslim juga seharusnya ada kepercayaan masa setelah dunia, benar kan?).
Atau mereka mungkin berpikir, "ah, gw kan dah shalat jumat, dosa gw kehapus", atau "ah, puasa ramadhan kok"
Entahlah...
"Kejar dunia, maka hanya mendapatkan dunia"
"Kejar Akhirat, maka kau dapatkan keduanya"
Friday, January 23, 2015
Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto Ditangkap Polisi
Dah tau kan kalau Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto ditangkap polisi?
http://www.kaskus.co.id/thread/54c1c3af620881c65e8b4579/bambang-widjojanto-ditangkap-polri/
=============================================================
Abis nonton Tv One juga gw ngeliat kelakuan polisi tolol yang keras kepala, nggak mau ngaku salah, nggak mau dengerin pendapat orang, nggak berpengetahuan.
Kenapa harus NGOTOT banget kalo lo merasa diri lo itu yang paling benar?
Heh, emang lah.
Sejak dulu emang gw benci sih sama polisi, Gw mandang mereka dengan pandangan Hina, dan gw yakin banyak yang sependapat sama gw.
Pengalihan kasus Si Budi Gunawan.
Asli lah. TOlol banget Indon.
Presiden kayak gt, boneka si dalang MEGA,
Semua emang salah KMP
Kalla - Mega - Palloh
Kalla : Mau aja jadi wakil presiden boneka
Mega : Yah semua juga tau, Presiden paling "berpengetahuan"
Palloh : gw benci Nasrani dan Media dia (Metro) juga gw nggak pernah nonton lagi semenjak isinya jokowi lovers
1 tahun lagi, bersabar 1 tahun lagi dan gw pindah negara.
http://www.kaskus.co.id/thread/54c1c3af620881c65e8b4579/bambang-widjojanto-ditangkap-polri/
=============================================================
Abis nonton Tv One juga gw ngeliat kelakuan polisi tolol yang keras kepala, nggak mau ngaku salah, nggak mau dengerin pendapat orang, nggak berpengetahuan.
Kenapa harus NGOTOT banget kalo lo merasa diri lo itu yang paling benar?
Heh, emang lah.
Sejak dulu emang gw benci sih sama polisi, Gw mandang mereka dengan pandangan Hina, dan gw yakin banyak yang sependapat sama gw.
Pengalihan kasus Si Budi Gunawan.
Asli lah. TOlol banget Indon.
Presiden kayak gt, boneka si dalang MEGA,
Semua emang salah KMP
Kalla - Mega - Palloh
Kalla : Mau aja jadi wakil presiden boneka
Mega : Yah semua juga tau, Presiden paling "berpengetahuan"
Palloh : gw benci Nasrani dan Media dia (Metro) juga gw nggak pernah nonton lagi semenjak isinya jokowi lovers
1 tahun lagi, bersabar 1 tahun lagi dan gw pindah negara.
Thursday, October 31, 2013
Apa yang ada di pikiran kamu Kalo Distop Polisi?
Jadi Males Banget Dot Com abis bikin survei gitu di webnya(Kamu nggak tau malesbanget.com? Kuno kamu! Hina Kamu! Pecundang Kamuhhh! *Jadi inget salah satu orang yang di bully di dunia maya*).
Buat vote pollingnya link nya : here
Jadi kalo mo ambil bagian dari vote itu dan tau resultnya, kamu klik aja link diatas.
Yang mo gw bahas dan termasuk jawaban gw : Anjing!
KENAPA ANJING?
Tiap ketemu polisi, jujur pasti selalu masalah yang kena. Cari-cari kesalahan doang adanya. Repot pokoknya.
Jadi gw ada cerita, sedikit curhat :
Saat itu malam hari, angin berhembus secara perlahan. Oke, nggak perlahan. Intinya begitulah. Gw ngga sadar juga kalo ada razia saat itu. Secara insting dan indra keenam gw, sebenarnya gw dah ramal kalo bakal kena polisi(gw sering alami kejadian gini), tapi sayang takdir berkata lain, ada razia pas di belokan di saat gw mo pulang ke rumah. Ketangkap lah disana. Kesalahan gw : Nggak nyalain lampu pas malam hari karena lampu gw mati(dan gw nggak sadar hal itu). F U * K K
Anjingkah?
Gw lebih prefer ke "Bangsat" sih sebenarnya,
Tiap liat polisi tiap gw naik motor dan liat dari kejauhan, gw selalu mikir,
"Bangsat ada polisi"
"Bangsat bangsat bangsat"
"Anjir baju ijo ijo, pasti polisi"
"buset, mo nilang"
"pasti mo nilang"
"pasti mo nilang"
dan terakhir,
"Ya Allah, semoga yang distop duluan motor di depan gw"
Oke, agak sadis memang yang terakhir. Mengharapkan jatuhnya orang lain. tp ini kenyataan sih. wkwkkw.
Dari sebuah pengalaman gw yang emang mengenaskan. ada yang menarik perhatian gw.
Fakta saat lo ditilang :
Kasus : No STNK No Sim
Jumlah polisi : Lebih dari dua
jadi gini cerita nya, lo bakal diberhentikan sama polisi pertama, kita sebut A. Si A akan meminta kita menunjukkan sim dan stnk, nggak ada? akan dibawa ke polisi 2, kita sebut B.
dialognya : S(saya), A(polisi 1), B(polisi 2)
Setelah menyetop :
A : tolong mas sim dan stnk nya
S : (gelagapan ngga bawa)
A : (Ambil kunci motor kita yang ngegantung di motor). Minggir dulu mas.
mo Ngga mau pasti ngikutin
A : (ngomong ke B)sim stnk nggak ada
B : (melirik sok asik, sambil menuliskan tulisan abstrack di kertas tilang)
Note : asli tulisannya abstrack, ampe gw nggak tau cara bacanya gimana. susah dah kek tulisan dokter
B : (ngeliatin pasal pasal) kurang surat surat lengkap stnk dan sim 1200.000,
B : nanti kamu ikut sidang ya tanggal xx di pengadilan daerah xx. motor kamu juga harus ditahan dulu ya.(ngebuat panik, ancaman seakan dewa)
S : yah pak, masa nggak ada jalan lain?
sebenarnya percakapannya panjang, tp gw persingkat aja.
B : kamu bisa bayar 250 ribu nggak sekarang? (asal tembak)
S : gede amat pak.
B : kalau gitu motor kamu saya tahan.
Note : kadang bergantung mentalitas, solusi disini adalah jangan panik! at least jangan menampakkan emosi. Cara ngga menampakkan emosi? anggap diri kamu superior daripada orang di depan kamu. Hal ini akan membuat deal harga bisa berkurang lebih rendah dibanding sebelumnya kalau beruntung.
Setelah itu kita akan dibiarkan jalan oleh polisi itu setelah membayar sejumlah uang yang TENTU SAJA masuk ke kantong sang polisi.
ada juga yang saya temukan :
pernah ada polisi ngomong ke gw,
"Kamu mau denda nya di TITIP aja?"
Ya, makan ni titi + t.
anyway, ini cuma curhat di blog pribadi gw. Nggak bagus juga sih sebenarnya praktek bayar tilang langsung ke polisi ini, dan dapat dikategorikan ke dalam SUAP!
suap apa suap apa, suap apa sekarang
dan tentunya yang bayar ke polisi itu termasuk kedalam penyogok. Lalu apa bedanya kita dengan para pejabat di berita itu?
fuh. entahlah.
sampai ketemu lagi di catatan singkat saya berikutnya.
Singkat yang tidak singkat!!
Buat vote pollingnya link nya : here
| Anjing! |
Jadi kalo mo ambil bagian dari vote itu dan tau resultnya, kamu klik aja link diatas.
Yang mo gw bahas dan termasuk jawaban gw : Anjing!
KENAPA ANJING?
Tiap ketemu polisi, jujur pasti selalu masalah yang kena. Cari-cari kesalahan doang adanya. Repot pokoknya.
Jadi gw ada cerita, sedikit curhat :
Saat itu malam hari, angin berhembus secara perlahan. Oke, nggak perlahan. Intinya begitulah. Gw ngga sadar juga kalo ada razia saat itu. Secara insting dan indra keenam gw, sebenarnya gw dah ramal kalo bakal kena polisi(gw sering alami kejadian gini), tapi sayang takdir berkata lain, ada razia pas di belokan di saat gw mo pulang ke rumah. Ketangkap lah disana. Kesalahan gw : Nggak nyalain lampu pas malam hari karena lampu gw mati(dan gw nggak sadar hal itu). F U * K K
Anjingkah?
Gw lebih prefer ke "Bangsat" sih sebenarnya,
Tiap liat polisi tiap gw naik motor dan liat dari kejauhan, gw selalu mikir,
"Bangsat ada polisi"
"Bangsat bangsat bangsat"
"Anjir baju ijo ijo, pasti polisi"
"buset, mo nilang"
"pasti mo nilang"
"pasti mo nilang"
dan terakhir,
"Ya Allah, semoga yang distop duluan motor di depan gw"
Oke, agak sadis memang yang terakhir. Mengharapkan jatuhnya orang lain. tp ini kenyataan sih. wkwkkw.
Dari sebuah pengalaman gw yang emang mengenaskan. ada yang menarik perhatian gw.
Fakta saat lo ditilang :
Kasus : No STNK No Sim
Jumlah polisi : Lebih dari dua
jadi gini cerita nya, lo bakal diberhentikan sama polisi pertama, kita sebut A. Si A akan meminta kita menunjukkan sim dan stnk, nggak ada? akan dibawa ke polisi 2, kita sebut B.
dialognya : S(saya), A(polisi 1), B(polisi 2)
Setelah menyetop :
A : tolong mas sim dan stnk nya
S : (gelagapan ngga bawa)
A : (Ambil kunci motor kita yang ngegantung di motor). Minggir dulu mas.
mo Ngga mau pasti ngikutin
A : (ngomong ke B)sim stnk nggak ada
B : (melirik sok asik, sambil menuliskan tulisan abstrack di kertas tilang)
Note : asli tulisannya abstrack, ampe gw nggak tau cara bacanya gimana. susah dah kek tulisan dokter
B : (ngeliatin pasal pasal) kurang surat surat lengkap stnk dan sim 1200.000,
B : nanti kamu ikut sidang ya tanggal xx di pengadilan daerah xx. motor kamu juga harus ditahan dulu ya.(ngebuat panik, ancaman seakan dewa)
S : yah pak, masa nggak ada jalan lain?
sebenarnya percakapannya panjang, tp gw persingkat aja.
B : kamu bisa bayar 250 ribu nggak sekarang? (asal tembak)
S : gede amat pak.
B : kalau gitu motor kamu saya tahan.
Note : kadang bergantung mentalitas, solusi disini adalah jangan panik! at least jangan menampakkan emosi. Cara ngga menampakkan emosi? anggap diri kamu superior daripada orang di depan kamu. Hal ini akan membuat deal harga bisa berkurang lebih rendah dibanding sebelumnya kalau beruntung.
Setelah itu kita akan dibiarkan jalan oleh polisi itu setelah membayar sejumlah uang yang TENTU SAJA masuk ke kantong sang polisi.
ada juga yang saya temukan :
pernah ada polisi ngomong ke gw,
"Kamu mau denda nya di TITIP aja?"
Ya, makan ni titi + t.
![]() |
| takdir lo mas bro! |
anyway, ini cuma curhat di blog pribadi gw. Nggak bagus juga sih sebenarnya praktek bayar tilang langsung ke polisi ini, dan dapat dikategorikan ke dalam SUAP!
suap apa suap apa, suap apa sekarang
dan tentunya yang bayar ke polisi itu termasuk kedalam penyogok. Lalu apa bedanya kita dengan para pejabat di berita itu?
fuh. entahlah.
sampai ketemu lagi di catatan singkat saya berikutnya.
Singkat yang tidak singkat!!
Monday, October 22, 2012
Tilang dan Polisi #1 - Catatan Singkat
Tanpa mengurangi rasa hormat gw kepada pak polisi, karena gw percaya polisi banyak juga yang nggak sama kayak yang gw bakalan bahas kali ini di topik blog gw.
Oke, kali ini gw bakal ngangkat topik yang kayaknya udah sakral banget di kehidupan para pengendara kendaraan beroda, baik roda dua, empat, enam(truk yo, jangan lupa), dan roda tiga(sayangnya yang naik roda tiga cuma bocah, jadi kita abaikan saja). Topik itu adalah TILANG dan POLISI.
Kenapa tilang itu jadi topik yang sakral banget sih?
Pertama, karena tilang itu selalu berhubungan sama duit.
Kedua, ada kemungkinan kamu bakal ke persidangan
Ketiga, ketakutan masyarakat sama razia dan kawanan polisi yang lagi jaga tuh ajaib banget. gw pake kata "ketakutan" karena jujur aja gw takut kalo polisi tiba-tiba manggil gw yang lagi jalan naek motor, suruh nepi, terus suruh keluarin surat-surat yang pastinya bukan surat nikah.
Keempat, kapan lagi kamu silaturahmi sama bapak-bapak berpakaian ijo. ya nggak?
Sebenarnya tilang itu kadang tujuannya bener. Menjadikan kedisiplinan kepada pengendara bermotor. Sayangnya kadang-kadang pihak berwenang kita ini menjadikan sebagai ajang cari duit dan mengeruk untung sebanyak-banyaknya.
Contoh aja ya,
--> Nggak nyalain lampu pas siang hari.
Sederhana banget kan. Cuma nggak nyalain lampu pas siang hari aja kamu bakal kena tilang. Aneh tapi mematikan. Gue pengalaman aja pas kena tilang gara-gara nggak nyalain lampu, jadi sadar-sadar lah sama rasanya kena tilang cuma gara-gara hal itu. Kalo nggak nyalain lampu pas malam, wajarlah. bisa-bisa kena seruduk mobil ato kendaraan lain kan!. Nah ini kalo siang hari kamu nyalain lampu, untuk apa?? Mau jadiin lampu motor/mobil jadi lampu senter? emangnya kendaraan itu bakal masuk goa apa? jadinya harus nyalain lampu?.
--> Nggak pake helm standar SNI.
Helm standar SNI dijadikan sebagai standar dari pemerintah untuk dipakai dalam kendaraan bermotor. Nggak pake helm, jelas bahaya. Tapi SNI? apa artinya??
Pas dijelasin sama polisi yang pernah gw tilang, nilang gw maksudnya, gw jadi mikir sesuatu; "apa fungsi helm SNI dan helm bukan SNI itu beda ya?". gw coba cari di google, fungsinya sama aja, "melindungi kepala". tapi tanpa niat suudzon karena itu dosa dan gw bakal dilaknat Allah swt, gw yakin sama polisi ataupun orang yang buat peraturan helm SNI ini, mungkin mereka search websitenya bukan google, yahoo kali atau babyloon. Begitulah..
--> Salah belok, salah lurus, salah jalan.
Gw bukan mau bahas tentang salah jalur jalan. bukan. yang gw mau bahas mengenai kejadian yang bener-bener mencengangkan buat gw di daerah yang kalo gw mau sebut, yaitu daerah rawamangun. disitu ada jalan yang kalo lurus itu dilarang. Buat orang kayak gw yang kadang-kadang suka abai, ya gw pernah coba lurus sih, dan alhasil, JENG JENG JENG, udah ada polisi yang nungguin dan melambaikan kepada gw. berasa di film titanic sesaat, pas jake ngelambaikan tangannya pas kapal mau berangkat.
Sori, gw ngelantur. Balik ke topik, dia manggil gw. gw samper, dan kamu taulah apa yang terjadi berikutnya.
Nggak usah sok ramal-ramal, karena pasti hubungannya sama "itu".
kalo gw liat dari pengalaman-pengalaman buruk gw diatas. gw sadar, masalah sepele aja bakal membuat kita berurusan sama pihak berwajib(yang bilang "kita? loe aja kali", silahkan aja. gw sabar :3 ).
Cuma masalah begitu aja kita bakal kehilangan lembaran-lembaran berharga kita dan dilepas untuk hal yang agak melelahkan pikiran.
Buat kamu yang udah baca ini, gw harap kejadian seperti ini nggak berulang lagi. karena udah banyak kejadian, dan banyak sekali oknum dari pihak kepolisian yang memanfaatkan momentum ini untuk mengisi pundi-pundi dan koceknya.
----------------------------------------------------xXx----------------------------------------------------
Klik aja label "gue" atau "catatan singkat" buat baca pandangan gw tentang banyak hal di muka bumi ini, termasuk indonesia.
Salam.
Eru
nb : Tulisan ini ada bagian 2 nya lho. tapi next time ya :p.....
Oke, kali ini gw bakal ngangkat topik yang kayaknya udah sakral banget di kehidupan para pengendara kendaraan beroda, baik roda dua, empat, enam(truk yo, jangan lupa), dan roda tiga(sayangnya yang naik roda tiga cuma bocah, jadi kita abaikan saja). Topik itu adalah TILANG dan POLISI.
Kenapa tilang itu jadi topik yang sakral banget sih?
Pertama, karena tilang itu selalu berhubungan sama duit.
Kedua, ada kemungkinan kamu bakal ke persidangan
Ketiga, ketakutan masyarakat sama razia dan kawanan polisi yang lagi jaga tuh ajaib banget. gw pake kata "ketakutan" karena jujur aja gw takut kalo polisi tiba-tiba manggil gw yang lagi jalan naek motor, suruh nepi, terus suruh keluarin surat-surat yang pastinya bukan surat nikah.
Keempat, kapan lagi kamu silaturahmi sama bapak-bapak berpakaian ijo. ya nggak?
Sebenarnya tilang itu kadang tujuannya bener. Menjadikan kedisiplinan kepada pengendara bermotor. Sayangnya kadang-kadang pihak berwenang kita ini menjadikan sebagai ajang cari duit dan mengeruk untung sebanyak-banyaknya.
Contoh aja ya,
--> Nggak nyalain lampu pas siang hari.
Sederhana banget kan. Cuma nggak nyalain lampu pas siang hari aja kamu bakal kena tilang. Aneh tapi mematikan. Gue pengalaman aja pas kena tilang gara-gara nggak nyalain lampu, jadi sadar-sadar lah sama rasanya kena tilang cuma gara-gara hal itu. Kalo nggak nyalain lampu pas malam, wajarlah. bisa-bisa kena seruduk mobil ato kendaraan lain kan!. Nah ini kalo siang hari kamu nyalain lampu, untuk apa?? Mau jadiin lampu motor/mobil jadi lampu senter? emangnya kendaraan itu bakal masuk goa apa? jadinya harus nyalain lampu?.
--> Nggak pake helm standar SNI.
Helm standar SNI dijadikan sebagai standar dari pemerintah untuk dipakai dalam kendaraan bermotor. Nggak pake helm, jelas bahaya. Tapi SNI? apa artinya??
Pas dijelasin sama polisi yang pernah gw tilang, nilang gw maksudnya, gw jadi mikir sesuatu; "apa fungsi helm SNI dan helm bukan SNI itu beda ya?". gw coba cari di google, fungsinya sama aja, "melindungi kepala". tapi tanpa niat suudzon karena itu dosa dan gw bakal dilaknat Allah swt, gw yakin sama polisi ataupun orang yang buat peraturan helm SNI ini, mungkin mereka search websitenya bukan google, yahoo kali atau babyloon. Begitulah..
--> Salah belok, salah lurus, salah jalan.
Gw bukan mau bahas tentang salah jalur jalan. bukan. yang gw mau bahas mengenai kejadian yang bener-bener mencengangkan buat gw di daerah yang kalo gw mau sebut, yaitu daerah rawamangun. disitu ada jalan yang kalo lurus itu dilarang. Buat orang kayak gw yang kadang-kadang suka abai, ya gw pernah coba lurus sih, dan alhasil, JENG JENG JENG, udah ada polisi yang nungguin dan melambaikan kepada gw. berasa di film titanic sesaat, pas jake ngelambaikan tangannya pas kapal mau berangkat.
Sori, gw ngelantur. Balik ke topik, dia manggil gw. gw samper, dan kamu taulah apa yang terjadi berikutnya.
Nggak usah sok ramal-ramal, karena pasti hubungannya sama "itu".
kalo gw liat dari pengalaman-pengalaman buruk gw diatas. gw sadar, masalah sepele aja bakal membuat kita berurusan sama pihak berwajib(yang bilang "kita? loe aja kali", silahkan aja. gw sabar :3 ).
Cuma masalah begitu aja kita bakal kehilangan lembaran-lembaran berharga kita dan dilepas untuk hal yang agak melelahkan pikiran.
Buat kamu yang udah baca ini, gw harap kejadian seperti ini nggak berulang lagi. karena udah banyak kejadian, dan banyak sekali oknum dari pihak kepolisian yang memanfaatkan momentum ini untuk mengisi pundi-pundi dan koceknya.
----------------------------------------------------xXx----------------------------------------------------
Klik aja label "gue" atau "catatan singkat" buat baca pandangan gw tentang banyak hal di muka bumi ini, termasuk indonesia.
Salam.
Eru
nb : Tulisan ini ada bagian 2 nya lho. tapi next time ya :p.....
Subscribe to:
Posts (Atom)

