Showing posts with label mujahid. Show all posts
Showing posts with label mujahid. Show all posts
Saturday, September 12, 2015
Tubuhnya Lumpuh, Tapi Ditakuti Israel
USIANYA boleh renta. Badannya lumpuh. Mata kirinya diuji dengan rabun. Telinganya didera radang. Paru-parunya digerogoti alergi. Namun walaupun tubuhnya lemah, jasadnya paling dicari Israel.
“Adakah segala macam penyakit dan kecacatan yang tertimpa ke atasku turut menimpa bangsa Arab hingga menjadikan mereka begitu lemah?”
Begitulah cara Asy-Syahid Syekh Ahmad Yasin mendefinisikan arti perjuangan atas pembebasan tanah wakaf kaum muslimin di Palestina.
Jika umat Islam lupa kewajiban membebaskannya, biarlah ia bersama kursi rodanya yang menebusnya.
“Aku tidak mampu kemana-mana untuk memenuhi hajatku kecuali jika mereka menggerakkan (kursi roda)-ku …. Adakah hati kalian tidak bergelora melihat kekejaman terhadap kami sehingga tiada satu kaumpun bangkit menyatakan kemarahan karena Allah?”
Namun, biarkan Syekh Ahmad Yasin menerjemahkan arti perlawanan dengan caranya: merancang kelompok Mujahidin Palestina tahun 1982, meletuskan intifadhah Desember 1987, hingga lahirlah Hamas satu pekan kemudian.
Demikian takutnya Yahudi kepada spirit perlawanannya, Israel sampai harus menjatuhkan hukuman seumur hidup plus 15 tahun bagi Syekh Ahmad Yasin. Ya, untuk seorang ulama yang mengaku tak mampu memapah senjata dan mengangkat pena karena tangannya lumpuh.
Jika Golda Meir menyumbangkan setengah hartanya untuk Israel, maka Syekh Yasin menyerahkan seluruh hidupnya untuk Islam.
Begitulah cara Syekh Yasin mengajari kita bagaimana menjadi umat Islam, yang lumpuhnya saja ditakuti musuh. Pria kelahiran 1938 yang hampir tak bisa menggerakkan bagian tubuhnya sendiri, namun oleh Allah diberi kemampuan menggerakkan jiwa raga jutaan orang.
“Tidak ada sejarah seperti yang diukur Syekh Yasin, di mana pemimpin yang lemah (karena cacat fisik) mampu mengubah menjadi kekuatan,” kata Dr Asy-syahid Abdul Aziz Rantisi.
Hari-hari Syekh Yasin diisi dengan ibadah, luangnya dipenuhi dengan tarbiyah, tangan dinginnya dipakai untuk melahirkan kader dakwah. Maka muncullah Abdul Aziz Rantisi, Ismail Haniya, Khalid Misyal, dan lainnya. Anak-anak muda yang gigih bersamanya mengagagas Hamas, satu pekan pasca meletusnya intifadhah.
Telah berkali-kali Syekh Yasin hidup dalam penjara bersama kursi rodanya. Dari mulai tahun 1965, 1985, dan 1989.
Dalam pengadilan terakhir, beliau divonis seumur hidup plus 15 tahun. Tuduhannya, mendalangi serangan rakyat Palestina atas Israel dan melucuti senjata serdadu-serdadu Israel, warga Yahudi, serta penculikan terhadap agen-agen Israel.
Di dalam penjara, pukulan bertubi-tubi bersarang di mata dan kepalanya. Namun siksaan itu dilaluinya dengan tawakal dan penuh kesabaran. Karena semuanya adalah bagian dari perjuangan.
Syekh Yasin akhirnya berhasil bebas pada tahun 1997 akibat pertukaran tawanan. Anak-anak didiknya di Hamas berhasil menawan dua agen Mossad yang hendak meracuni Khalid Misyal.
Keluar dari penjara, Syekh Yasin kembali menyuarakan perjuangan untuk membebaskan Palestina.
Bersama Hamas, beliau kembali melakukan perlawanan kepada Israel ketika Ariel Sharon menyatroni Masjid Al Quds dan diikuti dengan pembunuhan terhadap jamaah shalat. Bentrokan antara tentara Israel dan rakyat Palestina pecah. Meletuslah intifadhah kedua.
Beragam cara dilakukan Israel untuk membunuh Syekh Yasin dan selalu gagal. Hingga pada Senin subuh, 1 Shafar 1425 H/ 22 Maret 2004 M, Apache Israel buatan Amerika Serikat mendekat, lalu memuntahkan tiga buah roket ke tubuh lemah berjiwa baja di atas kursi roda itu.
Suara gelegar tiga roket meledak itu seakan menghancurkan langit Gaza Subuh itu. Abdul Hamid, anak Syekh Yasin, terlempar beberapa belas meter dari posisi dekat dengan ayahnya.
“Saya sama sekali tak bisa melihat di mana tubuh ayah saya,” kenangnya. “Di dekat saya sedikitnya ada lima jenazah yang hancur bergelimpangan… Darah muncrat dan membanjir kemana-mana…”
Hari itu, menjadi hari duka bagi rakyat Palestina. Jutaan rakyat Palestina menangis. 200 ratus ribu orang mengantarkannya ke pemakaman. Gema takbir membahana menyelimuti langit Gaza.
Jasadnya boleh tiada, namun gagasan dan cita-cita terus mengalir menembus jiwa-jiwa kaum muslimin demi melanjutkan perjuangannya.
“Tanah Islam secara paksa telah dirampas oleh Yahudi Zionis dan itu hanya bisa direbut kembali dengan kekuatan. Palestina adalah tanah wakaf yang tidak bisa diserahkan, walaupun hanya satu inchi, untuk itu kamu bersedia melakukan segalanya,” pesannya.
Sumber : islampos
Saturday, July 26, 2014
Siapa Sebenarnya kita di mata Israel Laknatullah?
......"Ukiltu yauma ukila atstsauru al abyadh"
Dahulu hiduplah tiga ekor sapi. Ketiganya memiliki warna yang saling berbeda. Sapi putih, sapi hitam dan sapi coklat. Mereka sangat rukun. Makan selalu bersama, tidur selalu bersama, dan kemana pun pergi selalu bersama. Bahkan susah senang selalu bersama.
Hidup bersama mereka seekor serigala jahat berwarna coklat. Saat lapar ia selalu ingin memakan sapi. Namun kebersamaan merekalah yang selalu membuat takut serigala untuk memangsa.
Dahulu hiduplah tiga ekor sapi. Ketiganya memiliki warna yang saling berbeda. Sapi putih, sapi hitam dan sapi coklat. Mereka sangat rukun. Makan selalu bersama, tidur selalu bersama, dan kemana pun pergi selalu bersama. Bahkan susah senang selalu bersama.
Hidup bersama mereka seekor serigala jahat berwarna coklat. Saat lapar ia selalu ingin memakan sapi. Namun kebersamaan merekalah yang selalu membuat takut serigala untuk memangsa.
Suatu hari, serigala mendapat ide. Ia akan membuat makar buat memangsa
sapi. Ia datang kepada mereka dan berbisik kepada sapi hitam dan sapi
coklat,
"Kita semua berwarna, hanya saja ada satu teman kita yang warnanya beda, ijinkan aku untuk memakannya."
"Silakan." Sahut keduanya.
Malam itu serigala berhasil memangsa sapi putih.
Beberapa hari kemudian ia datang lagi dan berbisik kepada sapi coklat,
"Kamu coklat dan saya coklat, tapi ada satu teman kita yang berwarna hitam. Ijinkan aku untuk memangsanya."
"Silakan." Jawab sapi coklat.
Dan malam itu sapi hitam menjadi mangsa kedua serigala.
Selang beberapa hari serigala datang lagi kepada sapi coklat. Sambil menyeringai ia mengejek,
"Dan sekarang tiba juga giliranmu."
Sapi coklat menjawab,
"Sebenarnya aku telah dimangsa pada saat sapi putih dimangsa."
Pepatah Arab di atas pertama kali saya dengar sekitar tahun 1998 dari dosen Nahwu dari Mesir, Dr. Syihaab An Namir saat bercerita tentang Israel yang berhasil menipu bangsa Arab dalam sebuah perjanjian kesepakatan agar Israel angkat kaki dari tanah Arab. Sayang sekali bangsa Arab tertipu dengan kata-kata Israel yang berbunyi,
"Min araadhin arabiyyah" yang seharusnya "min al araadhi al arabiyyah". Hanya berbeda pada tambahan "al" maka semuanya berubah petaka.
Kalau menggunakan bahasa inggris, kalimat "min araadhin arabiyyah" adalah "for arabic lands", sedang kalimat "min al araadhi al arabiyyah" adalah "for the arabic lands".
Kata "al" dalam bahasa Arab berarti "all" dalam bahasa Inggris. Sehingga saat berbunyi tanpa "al", maka kalimat "min araadhin arabiyyah" tidak lagi berarti "dari seluruh tanah Arab". Maka dari itulah Israel belum angkat kaki dari seluruh tanah Arab.
Dan Gaza adalah sapi putih.
Lantas siapakah yang menjadi sapi coklat?
Jawabannya adalah: KITA..!!!
"Kita semua berwarna, hanya saja ada satu teman kita yang warnanya beda, ijinkan aku untuk memakannya."
"Silakan." Sahut keduanya.
Malam itu serigala berhasil memangsa sapi putih.
Beberapa hari kemudian ia datang lagi dan berbisik kepada sapi coklat,
"Kamu coklat dan saya coklat, tapi ada satu teman kita yang berwarna hitam. Ijinkan aku untuk memangsanya."
"Silakan." Jawab sapi coklat.
Dan malam itu sapi hitam menjadi mangsa kedua serigala.
Selang beberapa hari serigala datang lagi kepada sapi coklat. Sambil menyeringai ia mengejek,
"Dan sekarang tiba juga giliranmu."
Sapi coklat menjawab,
"Sebenarnya aku telah dimangsa pada saat sapi putih dimangsa."
Pepatah Arab di atas pertama kali saya dengar sekitar tahun 1998 dari dosen Nahwu dari Mesir, Dr. Syihaab An Namir saat bercerita tentang Israel yang berhasil menipu bangsa Arab dalam sebuah perjanjian kesepakatan agar Israel angkat kaki dari tanah Arab. Sayang sekali bangsa Arab tertipu dengan kata-kata Israel yang berbunyi,
"Min araadhin arabiyyah" yang seharusnya "min al araadhi al arabiyyah". Hanya berbeda pada tambahan "al" maka semuanya berubah petaka.
Kalau menggunakan bahasa inggris, kalimat "min araadhin arabiyyah" adalah "for arabic lands", sedang kalimat "min al araadhi al arabiyyah" adalah "for the arabic lands".
Kata "al" dalam bahasa Arab berarti "all" dalam bahasa Inggris. Sehingga saat berbunyi tanpa "al", maka kalimat "min araadhin arabiyyah" tidak lagi berarti "dari seluruh tanah Arab". Maka dari itulah Israel belum angkat kaki dari seluruh tanah Arab.
Dan Gaza adalah sapi putih.
Lantas siapakah yang menjadi sapi coklat?
Jawabannya adalah: KITA..!!!
Monday, July 7, 2014
Fakta-fakta Gaza Yang Mengagumkan di Gaza
Ustadz Salim A. Fillah berkesempatan mengantarkan dana untuk bantuan Gaza dari Sahabat Al-Aqsa.
Di Gaza beliau tinggal 10 hari. Dalam kunjungannya itu ustadz Salim mendapatkan fakta-fakta Gaza yang mengagumkan sebagai berikut:
1. Al-Quran memuliakan Gaza, Anak2 dan penduduk Gaza mencintai Al-Qur’an dengan membaca dan menghafalkannya di toko, mall, apotek, saat orang
antri membayar ada fasilitas setor hafalan Al-Qur’an.
Anak2 di Gaza saat ditanya, cita2nya adalah syahid. Mereka tahu caranya adalah dengan menghafal Quran, karena Hamas hanya menempatkan orang2 yang terbaik Quran nya untuk menempati posisi2 strategis yang dekat dengan syahid.
2. Ismail Haniya, orang yang paling diburu Israel ternyatat sangat mudah ditemui di Gaza. Dia pemimpin seperti Umar bin Khattab. Pagi ngantor, sore mengunjungi rumah2 rakyat dan makan
bersama mereka, malam menemui tamu2nya.
3. Cover boy majalah remaja di Gaza adalah gambar para syuhada mereka, penduduk Gaza yang mati syahid.
4. Setiap mendengar tembakan, penduduk Gaza akan bertanya, "Siapa yg mendapat kemuliaan dr
Allah untuk syahid hari ini?"
5. Universitas Islam Gaza, adalah sebuah universitas yang sangat bagus, didirikan oleh Syeikh Ahmad Yasin. Anak beliau bekerja di
universitas tersebut sebagai tukang kebun, merawat kampus dan kebun yang dulu dibangun ayahnya dengan kursi rodanya (mengangkati batu dg kursi roda).
6. Rumah2 para syuhada Gaza sangat sederhana meski negara memuliakan ahli warisnya dengan
tunjangan uang yang besar. Para ahli waris itu hanya mengambil seperlunya, sisanya dikembalikan ke rakyat. Seperti ahli syeikh
Ahmad Yasin yang mengembalikan uangnya ke umat dengan cara membuat sumur untuk rakyat
“…. Saya jd teringat cerita John Mahoney, staff kementrian Kesehatan UK (sahabat supervisor
saya) yang pernah tinggal di Gaza a.n UN….”bayangan HAMAS yg teroris itu tdk ada jika bertemu sendiri dengan mereka…. Mereka sangat santun, bersih, dan terpelajar…. “.
[ Sallim-Fillah/
Wednesday, July 2, 2014
Friday, January 13, 2012
Surat Palestina
Sebuah SURAT dari Pejuang Hamas (GAZA) tuk negeri INDONESIA
“Untuk saudaraku di Indonesia, mengapa saya harus memilih dan mengirim surat ini untuk kalian di Indonesia. Namun jika kalian tetap bertanya kepadaku, kenapa? Mungkin satu-satunya jawaban yang saya miliki adalah karena negri kalian berpenduduk muslim terbanyak di punggung bumi ini, bukan demikian saudaraku?
Di saat saya menunaikan ibadah haji beberapa tahun silam, ketika pulang dari melempar jumrah, saya sempat berkenalan dengan salah seorang aktivis dakwah dari jama’ah haji asal Indonesia, dia mengatakan kepadaku, setiap tahun musim haji ada sekitar 205 ribu jama’ah haji berasal dari Indonesia datang ke Baitullah ini. Wah, sungguh jumlah angka yang sangat fantastis dan membuat saya berdecak kagum.
Lalu saya mengatakan kepadanya, saudaraku, jika jumlah jama’ah haji asal Gaza sejak tahun 1987 sampai sekarang digabung, itu belum bisa menyamai jumlah jama’ah haji dari negara kalian dalam satu musim haji saja. Padahal jarak tempat kami ke Baitullah lebih dekat dibanding kalian. Wah pasti uang kalian sangat banyak, apalagi menurut sahabatku itu ada 5% dari rombongan tersebut yang memnunaikan ibadah haji yang kedua kalinya, Subhanallah.
Wahai saudaraku di Indonesia,
Pernah saya berkhayal dalam hati, kenapa saya dan kami yang ada di Gaza ini, tidak dilahirkan di negri kalian saja. Pasti sangat indah dan mengagumkan. Negri kalian aman, kaya, dan subur, setidaknya itu yang saya ketahui tentang negri kalian.
Pasti ibu-ibu disana amat mudah menyusui bayi-bayinya, susu formula bayi pasti dengan mudah kalian dapoatkan di toko-toko dan para wanita hamil kalian mungkin dengan mudah bersalin di rumah sakit yang mereka inginkan.
Ini yang membuatku iri kepadamu saudaraku, tidak seperti di negri kami ini. Tidak jarang tentara Israel menahan mobil ambulance yang akan mengantarkan istri kami melahirkan di rumah sakit yang lebih lengkap alatnya di daerah Rafah. Sehingga istri kami terpaksa melahirkan di atas mobil, ya di atas mobil saudaraku.!
Susu formula bayi adalah barang langka di Gaza sejak kami diblokade 2 tahun yang lalu, namun istri kami tetap menyusui bayi-bayinya dan menyapihnya hingga 2 tahun lamanya, walau terkadang untuk memperlancar Asi mereka, istri kami rela minum air rendaman gandum.
Namun, mengapa di negri kalian, katanya tidak sedikit kasus pembuangan bayi yang tidak jelas siapa ayah dan ibunya. Terkadang ditemukan mati di parit-parit, selokan, dan tempat sampah. Itu yang kami dapat dai informasi di televisi.
Dan yang membuat saya terkejut dan merinding, ternyata negri kalian adalah negri yang tertinggi kasus aborsinya untuk wilayah Asia. Astaghfirullah. Ada apa dengan kalian? Apakah karena di negri kalian tidak ada konflik bersenjata seperti kami disini, sehingga orang bisa melakukan hal hina seperti itu? Sepertinya kalian belum menghargai arti sebuah nyawa bagi kami disini.
Memeang hampir setiap hari di Gaza sejak penyerangan Israel, kami menyaksikan bayi-bayi kami mati. Namun, bukanlah di selokan-selokan atau got-got apalagi di tempat sampah. Mereka mati syahid saudaraku! Mati syahid karena serangan roket tentara Israel!
Kami temukan mereka tak bernyawa lagi di pangkuan ibunya, di bawah puing-puing bangunan rumah kami yang hancur oleh serangan Zionis Israel. Saudaraku, bagi kami nilai seorang bayi adalah aset perjuangan kami terhadap penjajah Yahudi. Mereka adalah mata rantai yang akan menyambung perjuangan kami memerdekakan negri ini.
Perlu kalian ketahui, sejak serangan Israel tanggal 27 Desember 2009 kemarin, saudara-saudara kami yang syahid sampai 1400 orang, 600 di antaranya adalah anak-anak kami, namun sejak penyerangan itu pula sampai hari ini, kami menyambut lahirnya 3000 bayi baru di jalur Gaza, dan Subhanallah kebanyakan mereka adalah anak laki-laki dan banyak yang kembar, Allahu Akbar!
Wahai saudaraku di Indonesia,
Negri kalian subur dan makmur, tanaman apa saja yang kalian tanam akan tumbuh dan berbuah, namun kenapa di negri kalian masih ada bayi yang kekurangan gizi, menderita busung lapar. Apa karena sulit mencari rizki disana? Apa negri kalian diblokade juga?
Perlu kalian ketahui saudaraku, tidak ada satupun bayi di Gaza yang menderita kekurangan gizi, apalagi sampai mati kelaparan, walau sudah lama kami diblokade. Sungguh kalian terlalu manja! Saya adalah pegawai tata usaha di kantor pemerintahan HAMAS sudah 7 bulan ini belum menerima gaji bulanan saya. Tetapi Allah SWT yang akan mencukupkan rizki untuk kami.
Perlu kalian ketahui pula, bulan ini saja ada sekitar 300 pasang pemuda baru saja melangsungkan pernikahan. Ya, mereka menikah di sela-sela serangan agresi Israel. Mereka mengucapkan akad nikah diantara bunyi letupan bom dan peluru, saudaraku.
Dan Perdana Menteri kami, Ust Isma’il Haniya memberikan santunan awal pernikahan bagi semua keluarga baru tersebut.
Wahai saudaraku di Indonesia,
Terkadang saya pun iri, seandainya saya bisa merasakan pengajian atau halaqah pembinaan di negri antum (anda). Seperti yang diceritakan teman saya, program pengajian kalian pasti bagus, banyak kitab mungkin yang kalian yang telah baca. Dan banyak buku-buku pasti sudah kalian baca. Kalian pun bersemangat kan? Itu karena kalian punya waktu.
Kami tidak memiliki waktu yang banyak disini. Satu jam, ya satu jam itu adalah waktu yang dipatok untuk kami disini untuk halaqah. Setelah itu kami harus terjun ke lapangan jihad, sesuai dengan tugas yang diberikan kepada kami.
Kami disini sangan menanti-nantikan saat halaqah tersebut walau hanya satu jam. Tentu kalian lebih bersyukur. Kalian punya waktu untuk menegakkan rukun-rukun halaqah, seperti ta’aruf, tafahum, dan takaful disana.
Halafalan antum pasti lebih banyak daripada kami. Semua pegawai dan pejuang HAMAS disini wajib menghapal Surah Al-Anfal sebagai nyanyian perang kami, saya menghafal di sela-sela waktu istirahat perang, bagaimana dengan kalian?
Akhir Desember kemarin, saya menghadiri acar wisuda penamatan hafalan 30 Juz anakku yang pertama. Ia merupakan diantara 1000 anak yang tahun ini menghafal Al-Qur’an dan umurnya baru 10 tahun. Saya yakin anak-anak kalian jauh lebih cepat menghapal Al-Qur’an ketimbang anak-anak kimi disini. Di Gaza tidak ada SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) seperti di tempat kalian yang menyebar seperti jamur di musim hujan. Disini anak-anak belajar diantara puing-puing reruntuhan gedung yang hancur, yang tanahnya sudah diratakan, diatasnya diberi beberapa helai daun kurma. Ya, di tempat itu mereka belajar, saudaraku. Bunyi suara setoran hafalan Al-Qur’an mereka bergemuruh dianatara bunyi-bunyi senapan tentara Israel. Ayat-ayat jihad paling cepat mereka hafal, karena memang didepan mereka tafsirnya. Langsung mereka rasakan.
Oh iya, kami harus berterima kasih kepada kalian semua, melihat solidaritas yang kalian perlihatkan kepada masyarakat dunia. Kami menyaksikan aksi demo-demo kalian disini. Subhanallah, kami sangat terhibur. Karena kalian juga merasakan apa yang kami rasakan disini.
Memang banyak masyarakat dunia yang menangisi kami disini, termasuk kalian yang di Indonesia. Namun, bukan tangisan kalian yang kami butuhkan , saudaraku. Biarlah butiran air matamu adalah catatan bukti akhirat yang dicatat Allah sebagai bukti ukhwah kalian kepada kami. Doa-doa dan dana kalian telah kami rasakan manfaatnya.
Oh iya, hari semakin larut, sebentar lagi adalah giliran saya menjaga kantor, tugasku untuk menunggu jika ada telpon dan fax yang masuk. Insya Allah, nanti saya ingin sambung dengan surat yang lain lagi. Salam untuk semua pejuang-pejuang Islam dan ulama-ulama kalian.
Abdullah Al Ghaza
-Sebuah surat penting yang menyadarkan kita, bahwa saudara muslim kita disana membutuhkan bantuan, bukan hanya doa. Marilah berusahadan berdoa agar kita bisa menuju kesana dan meninggal sebagai seorang mujadid fisabilillah-
"Sebuah kutipan sederhana namun bermakna, berusahalah!"
Subscribe to:
Posts (Atom)



