REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG -- Ketika aku sedang serius menggeluti
pencarian kebenaran ini, datanglah seorang teman yang kebetulan adalah
seorang Muslim. Ia dating dan membawa Alquran lengkap dengan
terjemahannya. Ia memintaku untuk membaca terjemahan isi Alquran agar
aku lebih memahami Islam dari aspek kitab sucinya.
Aku pun mulai
berpikir terbuka. Semua hal yang berhubungan dengan Islam atau Saksi
Yahuwa aku kumpulkan dan aku baca serta aku renungkan, hingga hati
kecilku meyakini dan membenarkan akan ajaran Islam. Hanya saja saat itu
aku belum berikrar masuk Islam karena baru sebatas mengetahui bahwa
Islam mengajarkan hal yang benar, saat itu tahun 2008.
Pada tahun
2009 aku pergi meninggalkan Bogor. Kota dengan julukan Kota Hujan ini
ternyata tidak cocok bagi orang sepertiku. Aku harus pergi karena
pekerjaan yang kulakukan di sana banyak berhubungan dengan dunia yang
semu ini. Kemudian aku berpikir untuk pindah ke Cisalak.
Sejak
meninggalkan Bogor, berbagai hal yang berkaitan dengan informasi ruhani
terputus disebabkan situasi dan kondisi yang serba terbatas. Tahun 2010
aku berpindah lagi untuk yang kesekian kalinya. Hidupku benar-benar
seperti kisah seorang pengelana yang berpindah dari satu tempat ke
tempat yang lain.
Nomaden, tidak ada tempat untuk menetap. Di
tahun inilah aku berpindah ke tempat kakak kandungku di Mampang Jakarta
Selatan. Di situlah aku mulai membangun semangat beribadah yang selama
ini mulai surut.
Aku yang masih beragama Katolik, terkadang
bangun pagi-pagi untuk mengikuti misa harian atau misa pagi yang rutin
dilakukan pukul 06.00 WIB. di gereja Santa Maria yang terletak di Blok
Q. Di gereja, aku menuangkan segala pemikiran yang selama ini ada
padaku. Sekalipun hati kecilku mengetahui bahwa ada kebenaran yang
hakiki dalam kehidupan ini, namun aku masih menganut keyakinanku yang
lama.
Keyakinan inilah yang selalu ditanamkan pastor kepadaku,
dan kami semua. Inilah yang membuatku sulit untuk meninggalkan agama
lamaku karena memang masih ada sisa-sisa keyakinan dalam diriku.
Meskipun demikian, aku masih punya keyakinan akan kebaikan yang
disebarkan oleh pastor kepada kami yang tidak mudah kami tinggalkan
begitu saja, khususnya dalam beribadah yang sudah dibangun sejak kecil
serta akan kenangan dalam didikan dan pengajarannya.
Pelan tapi
pasti, mungkin inilah yang dapat ku katakan saat keyakinanku akan
Katolik mulai berguguran. Pada Misa akhir pekan atau Misa umum, yang
pada waktu itu banyak diisi oleh jemaat gereja, timbul pertanyaan kritis
dalam benakku, khusunya mengenai adab umat Kristiani yang datang ke
gereja. Sungguh berbeda dengan adab ketika umat Muslim berada dan
beribadah di Mesjid.
Setidaknya waktu itu muncul empat
pertanyaan dalam benakku; Pertama, mengapa di gereja ketika beribadah
beberapa orang dari para jemaah sempat-sempatnya bermain handphone?
Padahal mereka kan sedang berhadapan dengan Tuhan. Bila berhadapan
dengan sang pencipta langit dan bumi saja sudah seperti itu, bagaimana
ketika berhadapan dengan yang lain? Jika berhadapan dengan manusia bisa
sesopan mungkin, sedangkan menghadap Tuhan tidak, maka sudah pastilah
mereka merendahkan posisi Tuhan dibanding dengan manusia.
Kedua,
mengapa para wanita yang pergi ke gereja banyak mengenakan pakaian yang
kurang sopan, apakah Tuhan menyukai ketidaksopanan mereka dalam
berpakaian? Lantas inikah yang diajarkan Tuhan kepada hamba-Nya? Sungguh
ini adalah sebuah jalan menuju perbuatan dosa. Mereka yang datang
dengan mengenakan rok mini dan pakaian ketat malah akan memancing
penglihatan para laki-laki sehingga bukan malah beribadah, justru akan
membuat mereka berpikiran yang tidak baik selama di dalam gereja.
Ketiga,
mengapa ketika Misa ada yang mengobrol antara laki-laki dengan
perempuan, sebenarnya niat mereka itu untuk beribadah atau hanya sarana
agar bisa saling curhat di gereja? Jika gereja sama dengan tempat
curhat, maka sudah barang tentu gereja akan berubah menjadi tempat
hiburan duniawi yang nantinya akan mendatangkan berbagai mudarat bagi
manusia. Kempat, mengapa ibadah yang umat Kristiani lakukan itu
cenderung pasif. Seperti tidak membawa dampak apapun dalam kehidupan
sehari-hari.
Di gereja hanya bernyanyi, mendengarkan musik, dan
jika ada juga mendengarkan khotbah. Ini seakan ada dalam sebuah peseta
yang mana ada presenter, ada music dan ada nyanyian. Sungguh ini membuat
hatiku bingung dan gundah gulana.
Beranjak dari berbagai
pertanyaan inilah hatiku mengalami ketidakpuasan dalam beribadah. Aku
mulai mengingat pembelajaran akan Islam yang mengajarkan doa dengan adab
dan tata cara yang baik yang dapat menghindarkan diri dari berbuat
maksiat.
Dari buku yang ku baca, Islam mengajarkan tata cara
beribadah dengan baik. Dalam ibadahnya, umat Muslim ketika melakukan
ibadah yang utama seperti salat, tidak pernah terlihat ada yang bermain
handphone. Ini disebabkan jika seorang Muslim bermain handphone ketika
ia sedang ssalat, maka batallah salatnya.
Jelas sekali
perbedaannya, jika dalam kebaktian khususnya saat menyanyikan lagu-lagu
keruhanian, tidak jarang banyak jemaah yang sibuk dengan handphone
mereka. Tidak ada yang membuka aurat, karena itu juga akan mengakibatkan
salat mereka tidak sah. Bahkan bila sedikit pun sudah pasti tidak akan
sah salatnya, baik laki-laki maupun perempuan.
Barisan antara
laki-laki dan perempuan dibedakan ketika melakukan salat. Laki-laki
berada menjadi imam di depan dan berturut barisan berikutnya juga
laki-laki sedang kan perempuan berada di barisan setelah laki-laki.
Sungguh inilah ibadah yang sebenarnya. Menghormati Tuhan karena Tuhan
adalah pemilik semesta alam ini.
Jadi, cara beribadah seorang hamba harus benar-benar menunjukkan kemuliaan terhadap sang penciptanya.
Sumber : here
==================================================================
Ada orang yang berkomentar bahwa ini aadalah pencari popularitas.
Sedih..
Alasan yang beliau Hendri kemukakan bukanlah penghakiman terhadap kaum kristen bahwa ketika di gereja begini dan begitu, tapi alasan tersebut ia temukan saat dirinya menemukan ketidakpuasan terhadap apa yang ia temukan di agama sebelumnya.
Selamat datang di Islam.
Mubarak A'laik
Showing posts with label mualaf. Show all posts
Showing posts with label mualaf. Show all posts
Tuesday, December 23, 2014
Monday, March 25, 2013
Kisah Mualaf Yang Membuat Para Muslim Menjadi Malu
Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam
keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi,
atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah
wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan
menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau
gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih
yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya
dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan
adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan,
”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang
waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
posted by Pujiono Abuzuhasna
Sumber : here
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.
Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.
Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.
Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.
Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.
Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan
Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.
”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.
Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.
Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”
”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.
“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad
Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.
Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”
”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.
Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan
Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”
”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”
Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad
Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.
posted by Pujiono Abuzuhasna
Sumber : here
Friday, December 14, 2012
Professor Neurosains Masuk Islam Setelah Mengetahui Keajaiban Sujud
Islamedia - DR.FIDELMA O’Leary mendapatkan penghargaan Woman of Spirit
tahun 2012. Ia adalah seorang Professor Biologi di Universitas St.
Edward di Austin, Texas, AS.
Wanita asli Texas yang berprofesi sebagai Professor Neurosains di
Universitas Texas ini, telah menemukan kedamaian dalam islam. Dr
Fidelma, yang juga sebagai seorang Dokter Neurologi di sebuat rumah
sakit di AS, terpukau ketika melakukan kajian terhadap syaraf-syaraf di
otak
manusia. Satu hal yang membuat dia terpukau adalah ketika
mengetahui bahwa terdapat beberapa urat syaraf manusia yang tidak
dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah
agar bisa berfungsi secara normal.
Setelah mengadakan
penelitian dengan seksama dan memakan waktu yang lama, Dr Fidelma
akhirnya mendapati kenyataan bahwa urat-urat syaraf di otak itu tidak
dimasuki darah kecuali bila seseorang sedang shalat, yakni ketika posisi
sujud! Ternyata urat syaraf itu memerlukan darah hanya beberapa saat
saja, yakni ketika seseorang shalat.
Setelah penelitian itu, Dr
Fidelma mencari tahu tentang Islam, lewat buku-buku keislaman dan
diskusi dengan rekan-rekannya yang Muslim. Dan akhirnya, dengan
kesadaran penuh, Dr Fidelma mengikrarkan keislamannya dengan mengucapkan
dua kalimat syahadat. Allah SWT berkenan memberinya hidayah atau
petunjuk pada iman. Keyakinannya pada agama Islam yang baru dianutnya
itu demikian besar. Sekarang Dr Fidelma membuka klinik,”Pengobatan
dengan Al-Qur’an”. Dia terus mengkaji pengobatan Islami dan memberikan
pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan apa saja yang dianjurkan
Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw, misalnya dengan berpuasa, madu,
habbatussauda (jinten hitam), minyak zaitun, dan sebagainya.
Allah SWT berfirman:
“Dan apabila kamu menyeru untuk mengerjakan shalat, mereka
menjadikannya (shalat itu) sebagai ejek-ejekan dan permainan. Yang
demikian itu ialah karena mereka suatu kaum yang tidak berakal.” (Q.S Al
Maidah: 58). islampos
Sumber : here
manusia. Satu hal yang membuat dia terpukau adalah ketika mengetahui bahwa terdapat beberapa urat syaraf manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah agar bisa berfungsi secara normal.
Setelah mengadakan penelitian dengan seksama dan memakan waktu yang lama, Dr Fidelma akhirnya mendapati kenyataan bahwa urat-urat syaraf di otak itu tidak dimasuki darah kecuali bila seseorang sedang shalat, yakni ketika posisi sujud! Ternyata urat syaraf itu memerlukan darah hanya beberapa saat saja, yakni ketika seseorang shalat.
Setelah penelitian itu, Dr Fidelma mencari tahu tentang Islam, lewat buku-buku keislaman dan diskusi dengan rekan-rekannya yang Muslim. Dan akhirnya, dengan kesadaran penuh, Dr Fidelma mengikrarkan keislamannya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Allah SWT berkenan memberinya hidayah atau petunjuk pada iman. Keyakinannya pada agama Islam yang baru dianutnya itu demikian besar. Sekarang Dr Fidelma membuka klinik,”Pengobatan dengan Al-Qur’an”. Dia terus mengkaji pengobatan Islami dan memberikan pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan apa saja yang dianjurkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw, misalnya dengan berpuasa, madu, habbatussauda (jinten hitam), minyak zaitun, dan sebagainya.
Allah SWT berfirman:
“Dan apabila kamu menyeru untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya (shalat itu) sebagai ejek-ejekan dan permainan. Yang demikian itu ialah karena mereka suatu kaum yang tidak berakal.” (Q.S Al Maidah: 58). islampos
Subscribe to:
Posts (Atom)