Showing posts with label ikhwan. Show all posts
Showing posts with label ikhwan. Show all posts

Thursday, March 27, 2014

2 santri hilang ditelan ombak Pelabuhanratu

Sindonews.com - Dua orang santri Pesantren Terpadu Al Kahfi Bogor, masing-masing Ridwan Suryo Nugroho (17) dan Farhan Abduh (17) hilang ditelan ombak laut Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Hingga Kamis sore (27/3/2014), kedua jasad korban belum ditemukan.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, kecelakaan laut ini terjadi ketika kedua korban dan 106 santri Al Kahfi lainnya tengah menikmati panorama laut di tepian Pantai Istiqomah, Desa Citepus, Kecamatan Pelabuhanratu.

Selain Ridwan dan Farhan, beberapa santri lainnya memilih untuk berenang. Ditengah aktivitasnya itu, tiba-tiba saja ombak besar menghantam kerumunan para santri yang tengah berenang.

Suasana menjadi panik setelah tubuh Ridwan dan Farhan terbawa arus ombak hingga beberapa meter dari bibir pantai. Saat ombak menyeret, kedua korban dalam posisi berpelukan seolah-olah berusaha saling melindungi.

Sejumlah rekan korban sudah berupaya melakukan penyelamatan, namun kedua tubuh remaja itu seketika hilang di balik gelombang laut.

Upaya pencarian yang dilakukan Badan Komunikasi Search and Rescue Daerah (BKSD) Sukabumi tidak membuahkan hasil.

Ketua BKSD Sukabumi, Okih Fajri menerangkan metode pencarian dilakukan dengan cara menyisir bibir pantai maupun perairan dengan menggunakan perahu.

"Pencarian masih difokuskan di sekitar lokasi kejadian, namun sampai menjelang sore kami belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban," tutur Okih. Rencanannya upaya pencarian akan kembali dilanjut mulai Jumat pagi.

Dari keterangan yang diperoleh, menyebutkan saat musibah terjadi Ridwan Suryo Nugroho mengenakan kaos putih dan celana hitam pendek. Sementara korban Farhan memakai kaos putih
dipadu celana panjang hitam.

"Semula kami tidak menyangka jika mereka terbawa arus, namun lambat laun tubuh keduanya semakin jauh hingga akhirnya menghilang," ungkap Wi, salah seorang rekan korban.

Sumber : sindonews 

-------------------------------------------------------//---------------------------------------------------

Innalilahi, siswa dari sekolah ane dulu. Pesantren Al Kahfi Lido bogor.
Horror ya. Ada pelajaran yang dapat diambil :
1. Selalu waspada. Bahaya tidak memandang umur dan waktu. Ia datang tiba-tiba.
2. Persiapkan diri selalu terhadap kematian. Karena manusia tidak pernah tahu kapan kematian itu datang.

Semoga keduanya dapat ditemukan, baik dalam keadaan baik ataupun keadaan yang tidak bernyawa (keras nih bahasanya).
Sedari dulu ane selalu takut dengan yang namanya laut. Seram aja. Walau bisa berenang sekalipun, tetap aja mengerikan. Laut penuh dengan ikan-ikan macam hiu, paus, dan makhluk-makhluk mengancam lainnya.
Hal yang paling membuat gw takut dan trauma sama air laut itu bulu babi. Ada racun di durinya dan kalo ketusuk ke kaki. Wassalam.

Bagaimanapun, musibah tak dapat terhindari dan pihak-pihak yang terkait di dalamnya semoga dikaruniai kesabaran, karena bagaimanapun setiap nyawa adalah milik yang maha kuasa. Walau ditangisi bagaimanapun juga, tidak akan ada gunanya. 
Excuse is meaningless.


Berpelukan :3


Nb : Mungkin salah satu dari kedua siswa tersebut tidak dapat berenang. Dan apa yang dilihat seperti berpelukan itu nyatanya adalah upaya satu siswa untuk membawa siswa yang lain namun apa daya, ombak yang lebih keras menyapu mereka berdua. Mungkin lho.
Maaf tulisannya agak becanda.
Serius kayak gw!

Wednesday, October 17, 2012

Sebuah Kata Manis

Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu?
Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir, manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya. Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.

Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.

Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya.

Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu. Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That's all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua di taman rumahnya. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.

"Aku gak bisa tidur." Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan lampu taman.

"Kenapa kamu memilih dia?" Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari duduknya sambil meraih HP disaku bajunya. Ia masuk dalam kamar berlahan dia membuka laci meja riasnya dan kembali ke taman lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.

"Buka aja." Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas dideretan paling atas.

"Beuuuhhh dah nih orang." Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara di Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.

Kepada Yth
Calon istri saya, calon ibu anak-anak saya, calon anak Ibu saya dan calon kakak buat adik adik saya
Ditempat

Assalamu'alaikum Wr Wb
Mohon maaf kalau anda tidak berkenan. Tapi saya mohon bacalah surat ini hingga akhir. Baru kemudian silahkan dibuang atau dibakar, tapi saya mohon, bacalah dulu sampai selesai.

Saya, yang bernama...... menginginkan anda...... untuk menjadi istri saya. Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya manusia biasa. Saat ini saya punya pekerjaan. Tapi saya tidak tahu apakah nanti saya akan tetap punya pekerjaan. Tapi yang pasti saya akan berusaha punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak-anakku kelak.Saya memang masih kontrak rumah. Dan saya tidak tahu apakah nanti akan ngontrak selamannya. Yang pasti, saya akan selalu berusaha agar istri dan anak-anak saya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.
Saya hanyalah manusia biasa, yang punya banyak kelemahan dan beberapa kelebihan. Saya menginginkan anda untuk mendampingi saya. Untuk menutupi kelemahan saya dan mengendalikan kelebihan saya.

Saya hanya manusia biasa. Cinta saya juga biasa saja. Oleh karena itu. Saya menginginkan anda mau membantu saya memupuk dan merawat cinta ini, agar menjadi luar biasa. Saya tidak tahu apakah kita nanti dapat bersama-sama sampai mati. Karena saya tidak tahu suratan jodoh saya.

Yang pasti saya akan berusaha sekuat tenaga menjadi suami dan ayah yang baik. Kenapa saya memilih anda? Sampai saat ini saya tidak tahu kenapa saya memilih anda. Saya sudah sholat istikharoh berkali-kali, dan saya semakin mantap memilih anda. Yang saya tahu, Saya memilih anda karena Allah. Dan yang pasti, saya menikah untuk menyempurnakan agama saya, juga sunnah Rasulullah. Saya tidak berani menjanjikan apa-apa, saya hanya berusaha sekuat mungkin menjadi lebih baik dari saat ini.

Saya mohon sholat istikharoh dulu sebelum memberi jawaban pada saya. Saya kasih waktu minimal 1 minggu, maksimal 1 bulan. Semoga Allah ridho dengan jalan yang kita tempuh ini. Amin.

Wassalamu'alaikum wr wb

Saya memandang surat itu lama. Berkali-kali saya membacanya. Baru kali ini saya membaca surat 'lamaran' yang begitu indah. Sederhana, jujur dan realistis. Tanpa janji-janji gombal dan kata yang berbunga-bunga.

Surat cinta minimalis, saya menyebutnya. Saya menatap sahabat disamping saya. Dia menatap saya dengan senyum tertahan.

"Kenapa kamu memilih dia."
"Karena dia manusia biasa."

Dia menjawab mantap. "Dia sadar bahwa dia manusia biasa. Dia masih punya Allah yang mengatur hidupnya. Yang aku tahu dia akan selalu berusaha tapi dia tidak menjanjikan apa-apa. Soalnya dia tidak tahu, apa yang akan terjadi pada kita dikemudian hari. Entah kenapa, Itu justru memberikan kenyamanan tersendiri buat aku."

"Maksudnya?"

"Dunia ini fana. Apa yang kita punya hari ini belum tentu besok masih ada. Iya kan? Paling gak. Aku tau bahwa dia gak bakal frustasi kalau suatu saat nanti kita jadi gembel. Hahaha."

"Ssttt." Saya membekap mulutnya. Kuatir ada yang tau kalau kita ngobrol rahasia. Terdiam kita memasang telinga. Sunyi. Suara jengkering terdengar nyaring diluar tembok. Kita saling berpandangan lalu cekikikan sambil menutup mulut masing-masing.

"Udah tidur sana. Besok kamu kucel, ntar aku yang dimarahin Mama."
Percakapan kita tadi masih terngiang terus ditelinga saya.
"Gik..."
"Tidur. Dah malam."
Saya menjawab tanpa menoleh padanya. Saya ingin dia tidur, agar dia terlihat cantik besok pagi. Kantuk saya hilang sudah, kayaknya gak bakalan tidur semaleman nih.
* * *
Satu lagi pelajaran pernikahan saya peroleh hari itu. Ketika manusia sadar dengan kemanusiannya. Sadar bahwa ada hal lain yang mengatur segala kehidupannya. Begitupun dengan sebuah pernikahan. Suratan jodoh sudah tergores sejak ruh ditiupkan dalam rahim. Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana dan berapa lama pernikahannya kelak. Lalu menjadikan proses menuju pernikahan bukanlah sebagai beban tapi sebuah 'proses usaha'.

Betapa indah bila proses menuju pernikahan mengabaikan harta, tahta dan 'nama'. Embel embel predikat diri yang selama ini mereka ditanggalkan. Ketika segala yang 'melekat' pada diri bukanlah dijadikan pertimbangan yang utama. Pernikahan hanya dilandasi karena Allah semata. Diniatkan untuk ibadah. Menyerahkan secara total pada Allah yang membuat skenarionya. Maka semua menjadi indah.

Hanya Allah yang mampu menggerakkan hati setiap umat-NYA. Hanya Allah yang mampu memudahkan segala urusan. Hanya Allah yang mampu menyegerakan sebuah pernikahan. Kita hanya bisa memohon keridhoan Allah. Meminta-NYA mengucurkan barokah dalam sebuah pernikahan. Hanya Allah jua yang akan menjaga ketenangan dan kemantapan untuk menikah. Lalu, bagaimana dengan cinta? Ibu saya pernah bilang, Cinta itu proses. Proses dari ada, menjadi hadir, lalu tumbuh, kemudian merawatnya. Agar cinta itu bisa bersemi dengan indah menaungi dua insan dalam pernikahan yang suci. Witing tresno jalaran garwo (sigaraning nyowo), kalau diterjemahkan secara bebas: "Cinta tumbuh karena suami/istri (belahan jiwa).

Aamiin.

NB dari nisa : Cinta paling halal dan suci. Cinta dua manusia biasa, yang berusaha menggabungkannya agar menjadi cinta yang luar biasa. Pernikahan itu suci maka jika ingin menuju kepadanya pakelah dengan cara yang suci pula. Cara Allah yaitu DENGAN TIDAK PACARAN. Cukup dengan Ta'aruf...!
--------------------------------------------xXx----------------------------------------------------------

Ini ane kutip dari jejaring sosial ane. Semoga semakin memperjelas kita bahwa kecintaan abadi bukanlah sesuatu yang harus diwujudkan dalam bentuk pacaran. Tahapan itulah yang terpenting.